- Gedung SDN 09 Kebayoran Lama Selatan roboh pada tahun 2024 dan hingga kini belum mendapatkan perbaikan renovasi total.
- Siswa terpaksa bersekolah sore hari di gedung lain, yang berdampak negatif pada waktu belajar dan kegiatan keagamaan mereka.
- Wali murid mendesak pemerintah DKI Jakarta segera memberikan kepastian jadwal pembangunan kembali sekolah agar kegiatan belajar normal kembali.
Suara.com - Suatu pagi di 2024, langit di atas Kebayoran Lama Selatan masih tenang. Tidak ada angin kencang. Tidak ada hujan.
Namun di kompleks SDN 09, sesuatu yang tak terduga mulai terjadi. Atap salah satu bangunan mulai bergerak, pelan-pelan, seperti sedang menghela napas terakhirnya.
Warga sekitar yang pertama kali menyadarinya. Bukan penjaga sekolah, bukan pula pihak sekolah. Sebab hari itu adalah hari libur, bertepatan dengan pelaksanaan Pilkada.
Bangunan itu tak langsung ambruk. Ia miring sedikit demi sedikit sepanjang pagi, seolah memberi peringatan yang tak seorang pun sempat dengar.
Baru pada sore harinya, ketika hujan deras mengguyur, bangunan itu benar-benar runtuh. Empat ruang kelas dan satu ruang UKS, rata dengan reruntuhannya sendiri.
"Untung alhamdulillahnya nggak ada korban jiwa pada saat itu," kata Evi (33), salah satu wali murid mengenang kejadian itu.
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, seolah masih membayangkan skenario yang nyaris terjadi.
"Gimana kalau ada pas korban jiwa ya pas anak-anak masuk?" kata dia.

Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Sehari sebelum robohnya bangunan, sekolah itu masih beroperasi seperti biasa.
Ratusan anak duduk di kelas-kelas yang kini menjadi puing. Jika keruntuhan itu terjadi bukan pada hari libur, melainkan pada jam sekolah biasa, kemungkinan besar cerita ini akan menjadi berita duka, bukan sekadar keluhan.
Dua Tahun yang Hilang
Yang membuat kisah ini semakin pelik bukan hanya peristiwa robohnya bangunan itu sendiri, melainkan apa yang terjadi setelahnya.
Dua tahun berlalu sejak kejadian itu, dan SDN 09 masih belum juga berdiri kembali di lokasi aslinya.
Pihak sekolah mengaku sudah melaporkan kejadian tersebut ke Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Petugas dari Dinas pun sempat datang melakukan survei ke lokasi. Namun setelah itu, jejaknya seolah menguap.
"Belum ada kepastian tindak lanjut," ujar Evi.