- Presiden AS Donald Trump memperingatkan Rusia dan China agar tidak menjual senjata ke Iran di tengah konflik.
- Presiden Xi Jinping dan Vladimir Putin menjamin kepada Donald Trump bahwa negara mereka tidak akan memasok senjata ke Iran.
- Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran menyebabkan ribuan pelaut terjebak di Selat Hormuz.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Rusia dan China agar tidak menjual senjata ke Iran di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Ia menegaskan langkah tersebut akan berdampak buruk bagi kedua negara.
“Jika mereka melakukannya, itu akan sangat merugikan bagi mereka; jelas tidak menguntungkan,” ujar Trump melalui pernyataan di media sosialnya.
Trump mengaku telah mendapat jaminan langsung dari Presiden China Xi Jinping.
Ia menyebut Beijing tidak akan memasok senjata ke Teheran, termasuk melalui perusahaan-perusahaan China.
“Presiden Xi mengatakan tidak akan menjual senjata ke Iran dalam kondisi apa pun. Saya percaya itu,” kata Trump.
![Ilustrasi Donald Trump dan Xi Jinping [Suara.com/HD-diedit dengan AI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/17/92933-donald-trump-dan-xi-jinping.jpg)
Pernyataan serupa juga disebut datang dari Presiden Rusia Vladimir Putin.
Trump mengklaim Moskow memahami posisi Amerika Serikat terkait distribusi senjata di kawasan konflik.
“Presiden Putin mengatakan hal yang sama. Dia mengerti bahwa saya tidak menjual senjata langsung ke Ukraina,” ujarnya.
Pernyataan Trump muncul di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Serangan balasan terus terjadi, termasuk serangan Iran ke instalasi militer di Bahrain dan Yordania.
Militer AS sebelumnya melancarkan serangan ke sejumlah target strategis Iran, termasuk pusat komando dan fasilitas drone.
Serangan tersebut merupakan bagian dari rangkaian operasi yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam keras kebijakan Washington.
Ia menyebut rencana penggunaan aset Iran untuk kompensasi serangan sebagai preseden berbahaya.