Sosiolog UGM: Aksi Main Hakim Sendiri Cermin Brutalitas Elite dan Krisis Hukum

Vania Rossa, Hiskia Andika Weadcaksana

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:53 WIB
Sosiolog UGM: Aksi Main Hakim Sendiri Cermin Brutalitas Elite dan Krisis Hukum
Ilustrasi kekerasan dan main hakim sendiri. (Suara.com/Aldie)
baca 10 detik
  • Sosiolog UGM Andreas Budi Widyanta menyatakan kekerasan massa di berbagai daerah mencerminkan brutalitas elite politik.
  • Aksi main hakim sendiri lahir dari krisis hukum, ketimpangan ekonomi, serta hilangnya kepercayaan terhadap institusi negara.
  • Ketimpangan penegakan hukum membuat masyarakat bawah membangun mekanisme penghukuman mandiri akibat kekecewaan mendalam terhadap negara.

Suara.com - Aksi pengeroyokan dan main hakim sendiri di sejumlah daerah beberapa waktu terakhir bukan sekadar ledakan amarah warga atau bukti hilangnya rasa kemanusiaan. Kekerasan massa disebut sebagai cermin dari brutalitas elite politik yang mempertontonkan impunitas, ketidakadilan, dan kekerasan dalam praktik kekuasaan.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Andreas Budi Widyanta, menyatakan bahwa masyarakat tidak hidup dalam ruang hampa. Ketika elite memperlihatkan praktik kekuasaan yang bengis dan hukum memperlakukan kelompok atas secara berbeda, kekerasan di tingkat bawah berpotensi menjadi pantulan dari wajah negara itu sendiri.

"Jadi, ini dua wajah yang kita terbelah dan itu saling menunjukkan bahwa brutalitas dan kebengisan itu ditunjukkan oleh elit dan jangan salah, rakyatnya suka meniru gitu," kata Abe sapaan akrabnya kepada Suara.com, Selasa (28/7/2026).

Menurut Abe, publik tidak bisa hanya menyalahkan pelaku pengeroyokan sebagai individu yang memiliki watak brutal. Aksi main hakim sendiri harus dibaca sebagai gejala struktural.

Hal itu lahir dari krisis hukum, ketimpangan ekonomi, dan hilangnya kepercayaan terhadap institusi negara.

"Enggak bisa dibahas lain, kita enggak bisa mempersalahkan ini watak tindakan orang perorangan, enggak bisa. Ini struktur, problem struktural dekadensi tentang sistem hukum kita, sistem peradilan kita," tandasnya.

Ia menyebut hukum formal telah kehilangan otoritas moral setelah masyarakat menyaksikan adanya ketimpangan perlakuan antara pelaku kejahatan dari kelompok elite dan warga kecil. Ketidakadilan itu kemudian mendorong sebagian masyarakat mengambil alih fungsi penghukuman secara langsung.

"Dalam realitasnya tentu vigilantisme ini hadir karena kekecewaan mendalam terhadap hukum formal yang mengalami patologi struktural," ujarnya.

Ada perlakuan kontras terhadap koruptor dan warga yang dituduh melakukan pencurian kecil. Pelaku korupsi bernilai miliaran rupiah dapat diperlakukan dengan hormat, sedangkan warga yang baru dicurigai mencuri berisiko dihakimi massa tanpa proses hukum.

baca juga

"Kalau yang ditangkap adalah orang-orang yang mengkorupsi duit negara hingga miliaran itu, menangkapnya saja dengan penuh rasa hormat," ucapnya.

Ketimpangan itu, kata Abe semakin memperkuat pandangan bahwa hukum hanya keras terhadap masyarakat bawah. Namun kehilangan ketegasan ketika berhadapan dengan kekuasaan. 

Dalam kondisi tersebut, masyarakat mulai membangun mekanisme penghukuman sendiri yang dianggap lebih cepat dan murah dibanding menempuh jalur hukum formal. Main hakim sendiri lalu berkembang sebagai norma tandingan yang muncul ketika hukum negara dianggap macet dan gagal menghadirkan keadilan.

Kekerasan komunal itu menjadi saluran untuk melampiaskan kemarahan yang sebenarnya ditujukan kepada negara. Namun karena negara dianggap tidak memiliki wajah yang jelas sebagai sasaran kemarahan, individu yang dituduh melakukan kejahatan justru menjadi target yang lebih mudah dijangkau oleh massa.

"Dan itu muncul secara spontanitas, secara reaksioner, emosional, dan bahkan explosion, ledakan emosi yang akhirnya itu menjadi sarana katarsis penyaluran rasa jengkel dan amarah masyarakat yang mestinya itu dialamatkan ke negara," tegasnya.

Abe menegaskan bahwa brutalitas massa merupakan wajah dari sistem yang lebih besar. Selama elite terus mempertontonkan impunitas dan penegakan hukum justru membusukkan kepercayaan publik, kekerasan di jalanan akan terus muncul sebagai pantulan dari kekuasaan yang gagal menghadirkan keadilan.

"Wajah ini bukan wajah individual, tapi adalah bagian dari sebuah wajah sistem struktural yang menunjukkan kebusukannya dan pembusukan-pembusukan yang terjadi oleh karena para penegak hukum itu sendirilah yang melakukan pembusukan itu," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kemen PPPA Kawal Hak Pendidikan Anak Korban Dugaan Kekerasan Seksual di Tanjungbalai

Kemen PPPA Kawal Hak Pendidikan Anak Korban Dugaan Kekerasan Seksual di Tanjungbalai

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 14:52 WIB

Komisi III DPR: Penangkapan Kasat Resnarkoba Tangsel Bukti Polri Tak Pandang Bulu Tegakkan Hukum

Komisi III DPR: Penangkapan Kasat Resnarkoba Tangsel Bukti Polri Tak Pandang Bulu Tegakkan Hukum

DPR | Selasa, 28 Juli 2026 | 13:22 WIB

Komisi XIII DPR Kecam Keroyok Massa di Bali: Desak Penegakan Hukum & Pendampingan Trauma Anak Korban

Komisi XIII DPR Kecam Keroyok Massa di Bali: Desak Penegakan Hukum & Pendampingan Trauma Anak Korban

DPR | Selasa, 28 Juli 2026 | 13:10 WIB

Terkini

Turun ke Jalan Bawa Tritura, Mahasiswa Trisakti Sasar Istana

Turun ke Jalan Bawa Tritura, Mahasiswa Trisakti Sasar Istana

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:32 WIB

Sering Dipakai untuk Diet, Apa Perbedaan Stevia dengan Gula Biasa?

Sering Dipakai untuk Diet, Apa Perbedaan Stevia dengan Gula Biasa?

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:32 WIB

Dikeruk tapi Minim Pembangunan: Kenapa Masyarakat Pedalaman Tidak Bersuara?

Dikeruk tapi Minim Pembangunan: Kenapa Masyarakat Pedalaman Tidak Bersuara?

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:30 WIB

Ibu Tzuyu TWICE Jelaskan Rumor Kencan, Minta Publik Berhenti Berspekulasi

Ibu Tzuyu TWICE Jelaskan Rumor Kencan, Minta Publik Berhenti Berspekulasi

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:30 WIB

7 Pengganti Gula selain Stevia yang Aman untuk Penderita Diabetes

7 Pengganti Gula selain Stevia yang Aman untuk Penderita Diabetes

Health | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:29 WIB

Ramai Jadi Perbincangan Publik, Sebenarnya Pembalut Kena Pajak Sejak Kapan?

Ramai Jadi Perbincangan Publik, Sebenarnya Pembalut Kena Pajak Sejak Kapan?

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:26 WIB

Ketum PKN Gede Pasek: Republik Ini Bukan Milik Oligarki, Kekuasaan Bukan Warisan Keluarga!

Ketum PKN Gede Pasek: Republik Ini Bukan Milik Oligarki, Kekuasaan Bukan Warisan Keluarga!

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:21 WIB

Syarat Perpanjang Paspor yang Sudah Mati Lebih dari 5 Tahun

Syarat Perpanjang Paspor yang Sudah Mati Lebih dari 5 Tahun

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:20 WIB

Andrea Bocelli Bakal Dedikasikan Lagu untuk Perdamaian Dunia dalam Konser di Indonesia

Andrea Bocelli Bakal Dedikasikan Lagu untuk Perdamaian Dunia dalam Konser di Indonesia

Entertainment | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:19 WIB

Berani! Singpura Kumpulkan Petinggi 10 Perusahaan Diduga Biang Kerok Kebakaran Hutan

Berani! Singpura Kumpulkan Petinggi 10 Perusahaan Diduga Biang Kerok Kebakaran Hutan

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:18 WIB

×