-
Donald Trump menduga Iran terlibat dalam serangan drone yang melumpuhkan pipa minyak utama Arab Saudi.
-
Serangan dari wilayah Irak tersebut mengakibatkan korban luka dan menghentikan alih jalur ekspor minyak Saudi.
-
Irak menutup perbatasan dan menggelar penyelidikan, sementara AS berjanji menjaga kebebasan navigasi Laut Merah.
Suara.com - Serangan drone beruntun dari wilayah Irak memaksa Kerajaan Arab Saudi menghentikan total operasi East-West Pipeline demi alasan keamanan. Penutupan jalur logistik vital ini langsung memicu ancaman baru bagi pasokan energi global yang sedang bergolak.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump terang-terangan menunjuk Tehran sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas sabotase fasilitas pengangkut 5 juta barel minyak per hari tersebut. Pernyataan tegas ini disampaikan Trump saat berada di Dublin, Irlandia, setelah menerima laporan kerusakan dan korban luka di lokasi kejadian.
Ancaman ini menjadi preseden buruk karena merusak satu-satunya jalur alternatif pengiriman minyak Saudi menuju Laut Merah saat Selat Hormuz diblokir. Lumpuhnya infrastruktur ini memicu eskalasi politik baru antara Washington, Riyadh, dan Tehran.
![Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuka kemungkinan untuk mencalonkan diri dalam Pilpres AS 2028. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/12/99651-donald-trump.jpg)
"Saya pikir mereka, kemungkinan besar memang mereka," ujar Trump kepada wartawan di Dublin saat ditanya mengenai keterlibatan Iran, dikutip dari CNN Internasional, Minggu (13/9/2026).
Meski begitu, ketegangan di lapangan masih diliputi ketidakpastian mengenai siapa eksekutor sebenarnya dari aksi sabotase udara tersebut. Perlawanan Islam di Irak, yang merupakan kelompok payung milisi sokongan Iran, secara tegas membantah keterlibatan mereka.
Pemerintah Irak bergerak cepat merespons insiden tersebut dengan mengutuk keras serangan yang melintasi wilayah udaranya. Baghdad langsung memerintahkan penyelidikan darurat sekaligus memperketat dan menutup sejumlah titik perbatasan darat.
Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi bahwa aksi penembakan drone secara mendadak tersebut telah menimbulkan korban luka serta kerusakan fisik pada instalasi. Tim teknis dan keamanan kini diturunkan ke lokasi untuk mensterilkan area dan menghitung total kerugian infrastruktur.
Insiden ini memperpanjang deretan masalah keamanan bagi Riyadh yang tengah menyokong pemerintah sah Yaman melawan gerilyawan Houthi. Di saat bersamaan, kelompok Houthi justru makin gencar menguasai pelabuhan serta pulau strategis di sekitar perairan Laut Merah.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan telah menjalin komunikasi intensif dengan pihak Gedung Putih guna membahas langkah mitigasi. Namun, usulan tindakan militer langsung terhadap basis Houthi belum disepakati oleh Washington.
Respons resmi Gedung Putih menegaskan bahwa fokus utama AS saat ini adalah memastikan keselamatan navigasi maritim di kawasan tersebut. AS juga menekankan pentingnya memberdayakan mitra regional untuk memimpin penyelesaian krisis keamanan di wilayah mereka sendiri.
Trump sendiri berusaha meredakan kepanikan pasar global dengan menyatakan optimisme bahwa lalu lintas pelayaran minyak akan kembali normal.
"Semuanya akan berakhir baik-baik saja," kata Trump meyakinkan publik saat ditanya mengenai krisis maritim di Selat Hormuz.
East-West Pipeline memegang peranan sangat krusial sebagai urat nadi ekspor minyak Arab Saudi selama konflik AS-Iran berkecamuk. Jalur darat sepanjang ratusan kilometer ini membentang dari fasilitas penampungan di Teluk Persia menuju Pelabuhan Yanbu di pinggir Laut Merah.
Keberadaan pipa ini memungkinkan Saudi mengalihkan beban pengiriman jutaan barel minyak mentah tanpa harus melewati Selat Hormuz yang rawan blokade. Ketika jalur pelayaran Teluk Persia lumpuh total akibat konflik, East-West Pipeline menjadi satu-satunya tumpuan penyalur energi ke pasar dunia.
Dengan terhentinya aliran minyak di jalur alternatif ini, ancaman krisis pasokan energi dunia dipastikan makin nyata. Arab Saudi kini menghadapi tantangan ganda untuk mengamankan aset energi dalam negeri sekaligus menjaga kelancaran pasokan pasar internasional.