-
Negara Arab berkomitmen menghindari konfrontasi langsung dalam perselisihan Iran dan Israel.
-
Iran dan Israel berupaya memperluas skala pertempuran agar melibatkan lebih banyak negara.
-
Penahanan diri menjadi langkah diplomasi utama demi menjaga keamanan kawasan Teluk.
Suara.com - Negara-negara Arab di sekitar kawasan perang Iran- vs AS - Israel sepakat mengambil posisi netral demi menjaga stabilitas wilayahnya. Langkah ini diambil untuk mencegah risiko kehancuran ekonomi dan keamanan nasional akibat eskalasi militer yang kian memanas.
Pemerintah di kawasan tersebut menegaskan tidak akan menyerahkan wilayah udara maupun darat mereka sebagai basis serangan. Kebijakan bersama ini menjadi pilar utama diplomasi pencegahan agar aksi saling balas antarpihak bertikai tidak memicu perang regional yang meluas.
Direktur Utama Arab Perspectives Institute sekaligus peneliti senior di Middle East Council on Global Affairs, Zeidon Alkinani, menilai penahanan diri ini sebagai keputusan strategis. Ia menyebutkan seluruh pemerintah di sekitar area perselisihan memiliki sikap terbuka yang seragam.

“Satu kepentingan bersama, dan satu tujuan bersama, yang sangat terbuka dan sangat kuat di antara semua negara Arab yang secara geografis sangat dekat dengan konflik ini adalah untuk memastikan mereka menghindari konfrontasi langsung, dan tidak jatuh ke dalam lubang kelinci dengan berakhir menjadi bagian dari serangan balasan,” ujar Alkinani kepada Al Jazeera.
Beda Kepentingan Pihak Bertikai dan Kawasan
Di sisi lain, Iran dan Israel justru terindikasi berupaya menarik negara-negara tetangga ke dalam arena pertempuran. Kedua pihak yang berseteru dianggap sengaja memperluas skala konflik agar melibatkan banyak aktor internasional.
Alkinani mengamati adanya dorongan kuat dari Tehran maupun Tel Aviv untuk memperbesar skala perang. Dinamika ini berbanding terbalik dengan upaya keras negara-negara tetangga yang berusaha membatasi ruang gerak pertempuran.
“Tampaknya ada dua tujuan bersama dan kepentingan bersama antara Iran dan Israel dalam konflik ini, terlepas dari konfrontasi langsung satu sama lain, yaitu mereka mencoba memastikan bahwa konflik ini menjadi lebih multilateral,” tuturnya.
Strategi Iran berfokus pada penekanan keterkaitan sistem keamanan di Teluk untuk menekan posisi musuhnya. Sementara itu, Israel memanfaatkan situasi ini untuk mengukuhkan pengaruh geopolitiknya di wilayah Levant secara lebih agresif.
“Iran ingin negara-negara Teluk Arab merasa bahwa kerangka kerja keamanan eksistensial mereka saling terhubung; kita selalu membahas bagaimana Israel ingin memastikan bahwa mereka memberikan indikasi geopolitik kepada dunia, dan khususnya kepada Iran, bahwa Levant, dan negara-negara dari proyek Israel Raya, adalah lingkungan geopolitik regional mereka, [bahwa itu adalah] garis merah,” kata Alkinani.
Sikap hati-hati negara Arab berakar dari kekhawatiran atas meningkatnya intensitas konfrontasi militer langsung antara Tel Aviv dan Tehran. Eskalasi ini mengancam stabilitas politik serta pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah Timur Tengah.
Keterlibatan banyak pihak dikhawatirkan memicu krisis kemanusiaan dan merusak infrastruktur vital kawasan Teluk. Oleh karena itu, konsensus untuk menolak konfrontasi langsung menjadi prioritas diplomasi utama negara-negara Arab saat ini.