- Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengusulkan pembentukan koalisi maritim internasional bersama lebih dari 40 negara untuk mengamankan jalur pelayaran.
- Harga minyak mentah Brent dan WTI di bursa komoditas internasional mengalami penurunan signifikan hampir dua persen pada penutupan perdagangan.
- Organisasi OPEC+ dijadwalkan menggelar pertemuan untuk mengumumkan rencana penambahan pasokan minyak mentah sebesar 188.000 barel per hari pada September mendatang.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia turun, menyusul langkah proaktif Arab Saudi yang mengusulkan pembentukan koalisi angkatan laut internasional.
Di bursa komoditas internasional, kontrak berjangka minyak mentah Brent yang menjadi tolok ukur global merosot hampir 2 persen hingga ditutup pada level $89,03 per barel.
Tren penurunan senada juga terjadi pada kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat yang terkikis sekitar 1 persen untuk menetap di posisi $83,59 per barel.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa lebih dari 40 negara telah hadir dalam pertemuan khusus guna membahas langkah strategis kawasan.
Berdasarkan pernyataan resmi terjemahan dari Bahasa Arab, agenda utama pertemuan tersebut difokuskan pada "memperkuat kerja sama pertahanan maritim dan menyatukan upaya untuk melindungi keamanan jalur pelayaran," yang belakangan ini mengalami gangguan intensif.
Inisiatif penggalangan aliansi maritim oleh Riyadh mengemuka setelah kelompok Houthi di Yaman, yang didukung oleh Tehran, secara terbuka mendeklarasikan embargo maritim terhadap Arab Saudi pada pekan lalu.
Dilansir dari CNBC, situasi kian memanas lantaran Iran secara berulang kali dilaporkan melakukan aksi pencegatan dan serangan terhadap kapal-kapal niaga yang melintasi Selat Hormuz, salah satu urat nadi terpenting bagi distribusi minyak mentah dunia.
Momen ini menjadi pembalik arah yang cukup signifikan dari lonjakan tajam pada hari sebelumnya. Pada Rabu, harga minyak Brent sempat meroket hingga hampir 8 persen akibat eskalasi bentrokan bersenjata di Timur Tengah.
Eskalasi tersebut dipicu oleh tindakan Amerika Serikat yang meluncurkan serangan balasan "gelombang besar" terhadap target-target Iran pada Rabu malam.
Kepanikan pasar makin diperparah oleh laporan dari Mesir yang mengonfirmasi bahwa dua unit kapal terkena hantaman serangan pesawat nirawak (drone) di Pelabuhan Damietta yang berada di pesisir Laut Tengah.
Pelabuhan tersebut memegang peranan amat strategis sebagai pusat (hub) pemrosesan dan distribusi gas alam cair (LNG). Hingga saat ini, belum ada kelompok atau pihak mana pun yang mengklaim bertanggung jawab atas aksi sabotase tersebut.
Rangkaian gempuran terbaru ini menandai babak baru dalam pertempuran yang terus mengombang-ambingkan stabilitas pasar minyak global sekaligus mengganggu kelancaran lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz sejak pertempuran pecah pada akhir Februari lalu.
Sebelumnya, Washington dan Teheran sempat menangguhkan gempuran udara selama dua pekan terhadap sasaran-sasaran Iran guna memberi "ruang" bagi diplomasi dan negosiasi perdamaian.
Namun, Presiden Donald Trump telah memberi sinyal tegas mengenai rencana aksi militer balasan tersebut beberapa jam sebelum serangan dilancarkan.
"Kami akan memukul mereka dengan keras. Mereka akan mendapat pukulan telak," ujar Trump kepada wartawan Fox News pada Rabu pagi.
Di luar gejolak geopolitik dan bentrokan fisik di lapangan, perhatian para pelaku pasar kini mulai teralih pada agenda krusial organisasi negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya (OPEC+). Kelompok produsen utama tersebut dijadwalkan menggelar pertemuan penting pada hari Minggu mendatang.
Diperkirakan luas, OPEC+ akan mengumumkan keputusan penambahan pasokan minyak mentah sebesar 188.000 barel per hari yang bakal mulai berlaku efektif pada September mendatang.
Meskipun terdapat rencana peningkatan pasokan singkat, para analis mengingatkan bahwa volatilitas jangka panjang belum akan surut. Strategis dari ING dalam catatan risetnya menyebutkan, "Ketidakpastian besar hingga tahun 2027 akan berkisar pada kebijakan kelompok tersebut, dengan potensi penolakan terhadap kuota produksi."