-
Amerika Serikat mengancam mengambil alih pemungutan tarif pelayaran kapal di kawasan Selat Hormuz.
-
Gencatan senjata batal setelah AS membombardir Iran dan membalas serangan pangkalan militer.
-
Iran menutup Selat Hormuz sedangkan AS membalasnya dengan memberlakukan blokade pelabuhan Iran.
Suara.com - Amerika Serikat mengambil alih kendali jalur perdagangan Selat Hormuz dengan merebut hak pemungutan tarif pelayaran kapal niaga dari tangan Iran. Langkah drastis Washington ini mengubah krisis geopolitik menjadi aksi penguasaan ekonomi langsung di perairan strategis tersebut.
Pemerintah AS menegaskan tidak akan membiarkan otoritas Iran menarik retribusi terhadap kapal logistik yang melintasi koridor laut vital dunia. Langkah tegas tersebut berpotensi memicu eskalasi militer baru di sepanjang kawasan Timur Tengah.
Donald Trump secara terbuka menegaskan kesiapan pemerintahannya untuk bertindak sebagai pengelola tunggal tarif perlintasan di wilayah itu.
![Kapal-kapal di Selat Hormuz dekat pantai Bandar Abbas, Iran, pada 21 Juni. [West Asia News Agency/via Reuters]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/27/92283-selat-hormuz.jpg)
"Harus begitu. Saya tidak akan membiarkan mereka mengenakan biaya. Jika ada pihak yang akan mengenakan biaya, kami yang akan melakukannya," kata Trump kepada wartawan, Senin.
Pernyataan bernada ancaman tersebut disampaikan merespons pertanyaan media terkait peluang Iran membuka kembali jalur navigasi bebas bagi armada internasional. Washington memilih mengambil alih peran fiskal ketimbang membiarkan Teheran memegang kendali atas arus niaga global.
Eskalasi perselisihan kedua negara makin tidak terkendali sejak batalnya kesepakatan damai yang sebelumnya sempat dicapai. Militer AS langsung melancarkan rentetan gempuran ke sejumlah wilayah strategis Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi aksi pemboman udara itu merupakan aksi balasan atas provokasi Iran terhadap kapal niaga. Armada tempur Amerika diposisikan untuk mengamankan kelancaran navigasi dari gangguan Teheran.
Pemerintah Iran merespons gempuran tersebut dengan meluncurkan serangan balasan ke basis-basis militer AS di kawasan Mutiara Hitam. Pangkalan militer Amerika di beberapa negara Timur Tengah menjadi sasaran tembak rudal Teheran.
Penutupan total jalur Selat Hormuz akhirnya resmi diumumkan oleh otoritas Iran sebagai bentuk perlawanan terbuka. Langkah penutupan akses logistik dunia itu ditetapkan berlaku sampai seluruh campur tangan militer AS dihentikan.
Donald Trump menjawab blokade tersebut dengan menobatkan Amerika Serikat secara sepihak sebagai penjaga resmi Selat Hormuz. Gedung Putih sekaligus memberlakukan kembali isolasi dan blokade terhadap seluruh pelabuhan utama milik Iran.
Ketegangan bersenjata antara Washington dan Teheran sebenarnya sempat mereda lewat jalur diplomasi pada pertengahan tahun. Kedua belah pihak menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni untuk mengakhiri pertikaian yang membara sejak 28 Februari.
Namun, kepatuhan diplomasi tersebut tidak bertahan lama akibat perbedaan ketat dalam interpretasi keamanan perairan. Donald Trump secara mengejutkan membatalkan kesepakatan gencatan senjata secara sepihak pada 8 Juli dan memicu krisis baru di Selat Hormuz.