Suara.com - Musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan biasanya. Bagi pengelola sumber daya air, situasi ini bukan sekadar persoalan berkurangnya hujan. Akan tetapi tantangan menjaga pasokan air bagi jutaan masyarakat, lahan pertanian, industri, hingga pembangkit listrik. Karena itu, setiap peluang turunnya hujan menjadi sangat berharga.
Pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, peluang ini dioptimalkan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sebuah metode memaksimalkan potensi awan hujan agar mampu meningkatkan aliran air menuju Bendungan Kaskade Citarum —Saguling, Cirata, dan Jatiluhur—sebagai penopang utama ketahanan air Jawa Barat dalam menghadapi musim kemarau tahun ini.
Operasi Modifikasi Cuaca ini dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum bersama Perum Jasa Tirta II, PT PLN Indonesia Power UPB Saguling, PT PLN Nusantara Power UP Cirata, BMKG, dan TNI Angkatan Udara. Fokus utamanya untuk mengoptimalkan curah hujan di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum agar volume air di Bendungan Kaskade Citarum tetap terjaga sebagai penyangga kebutuhan air masyarakat.
Operasi ini dibutuhkan mengingat kemarau panjang bukan hanya identik dengan cuaca panas, tapi juga memiliki potensi menurunkan debit sungai dan volume waduk secara signifikan. Ketika tampungan air terus menyusut, dampaknya bisa meluas, mulai dari berkurangnya pasokan air baku, terganggunya irigasi pertanian, hingga menurunnya kemampuan pembangkit listrik tenaga air.
Dalam kondisi seperti ini, OMC menjadi salah satu upaya mitigasi yang dilakukan sebelum cadangan air benar-benar memasuki level kritis. Prinsipnya bukan "menciptakan hujan", melainkan membantu memaksimalkan potensi awan di atmosfer agar menghasilkan hujan pada lokasi yang diinginkan.
Menjaga "Tabungan Air" di Kaskade Citarum
Bendungan Kaskade Citarum merupakan sistem tiga bendungan besar yang saling terhubung, yaitu Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Ketiganya memiliki peran vital sebagai penyedia air untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pembangkit listrik, irigasi pertanian, penyediaan air baku hingga mendukung berbagai aktivitas ekonomi di Jawa Barat dan sekitarnya.
Melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), hujan diupayakan turun di wilayah tangkapan air sekitar bendungan sehingga air hujan dapat mengalir ke waduk dan meningkatkan cadangan air secara bertahap.

Dalam pelaksanaan OMC ini, tim terlebih dahulu memantau kondisi atmosfer, perkembangan awan, prakiraan cuaca, hingga kondisi hidrologi DAS Citarum. Hanya ketika terdapat awan yang memenuhi syarat, pesawat akan diterbangkan untuk melakukan penyemaian menggunakan bahan semai berupa garam (NaCl).
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilaksanakan sejak 30 Juli sampai 5 Agustus 2026. Berdasarkan laporan pelaksanaan, hingga 4 Agustus 2026 tim berhasil melaksanakan empat sorti penerbangan dengan total penggunaan 3.200 kg bahan semai NaCl. Penyemaian dilakukan di sejumlah wilayah DAS Citarum yang memiliki potensi pertumbuhan awan hujan.
Hasil pemantauan BMKG menunjukkan bahwa setelah pelaksanaan operasi, sejumlah wilayah Jawa Barat mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga lebat.
Pada 30 Juli misalnya, hujan ringan terpantau di sebagian besar wilayah target, termasuk daerah tangkapan air bendungan. Pengamatan lapangan juga menunjukkan adanya hujan di kawasan Saguling serta hujan dengan intensitas lebih tinggi di sekitar wilayah Cirata, termasuk Bojong Picung dan Sukaresmi. Tercatat 8 kejadian hujan dari 69 Pos Curah Hujan dengan intensitas 11,312 mm/hari.
Memasuki 31 Juli, BMKG secara khusus menyoroti tingginya curah hujan di stasiun AWS SMPK Bojong Picung (sebelah selatan Waduk Cirata) yang tercatat mencapai 35,4 mm/hari. Pada hari kelima (4/8/2026) dilakukannya metode OMC ini, tercatat 13 Kejadian hujan dari 69 Pos Curah Hujan yang tersebar dengan intensitas rata-rata 5,938 mm/hari.

Pantauan BMKG menunjukkan pada hari-hari berikutnya, hujan kembali terjadi di sejumlah wilayah Bogor, Sukabumi, dan Cianjur dengan intensitas yang bervariasi, menunjukkan bahwa atmosfer masih memiliki potensi pembentukan hujan meskipun pasokan uap air terbatas.
Keberhasilan OMC tidak semata diukur dari berapa banyak hujan turun, tapi seberapa mampu hujan ini meningkatkan aliran air menuju bendungan sehingga volume tampungan bertambah dan dapat dimanfaatkan selama musim kemarau.
Karena itu, setelah setiap operasi selesai dilakukan, tim tidak hanya memantau radar cuaca dan data curah hujan, akan tetapi mengevaluasi perubahan elevasi muka air dan inflow di Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Pendekatan terpadu antara pemantauan cuaca dan hidrologi ini menjadi bagian penting dalam pengelolaan sumber daya air di DAS Citarum.

Investasi untuk Ketahanan Air
Dengan prediksi musim kemarau yang lebih panjang, OMC menjadi salah satu bentuk kesiapsiagaan pemerintah dalam menjaga ketahanan air nasional. Upaya ini diharapkan mampu mengoptimalkan setiap peluang hujan yang masih tersedia sehingga cadangan air di Bendungan Kaskade Citarum tetap terjaga.
Semakin besar volume air yang berhasil disimpan sebelum kemarau mencapai puncaknya, semakin besar pula kemampuan sistem bendungan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, mendukung irigasi pertanian, menjaga pasokan air baku, serta mempertahankan operasi pembangkit listrik tenaga air.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) memang bukan solusi tunggal menghadapi kekeringan. Namun, ketika dipadukan dengan pemantauan cuaca yang berkelanjutan dan pengelolaan bendungan secara terpadu, metode ini menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat ketahanan infrastruktur sumber daya air dalam menghadapi perubahan iklim dan musim kemarau yang semakin ekstrem.***