-
Pembongkaran gedung pascagempa Venezuela memicu protes warga karena menghambat pencarian korban hilang.
-
Pemerintah memulai rekonstruksi bangunan, sementara ribuan korban bertahan di pengungsian darurat.
-
Warga menolak direlokasi karena trauma masa lalu dan kekhawatiran kehilangan tempat tinggal.
Suara.com - Pemerintah Venezuela memulai pembongkaran sisa bangunan tidak stabil pasca gempa bumi kembar untuk meratakan lokasi bencana. Langkah pembersihan reruntuhan ini justru memicu penolakan keras dari warga yang masih kehilangan anggota keluarga.
Pembersihan puing menggunakan alat berat berisiko menghancurkan jasad korban yang belum terevakuasi di balik reruntuhan. Sejumlah keluarga korban memilih bertahan di tenda darurat demi memastikan proses pencarian tetap berjalan.
Glenda Viloria terus berjuang menemukan jenazah keponakannya yang berusia tiga tahun di reruntuhan kompleks perumahan OPPE 27.
![Seorang pria Venezuela, Hernán Gil, berhasil diselamatkan hidup-hidup setelah terjebak selama delapan hari di bawah reruntuhan bangunan di La Guaira. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/03/37371-korban-gempa-venezuela.jpg)
"Saya berjanji tidak akan beristirahat sampai menemukan putranya, Mateo," tegas Viloria.
"Kami adalah keluarga yang sangat indah dan erat," ungkapnya dikutip dari Al .
Proses evakuasi kerap memaksa keluarga mengambil keputusan sulit di tengah keterbatasan akses alat berat. Viloria terpaksa mengambil langkah ekstrem saat menemukan jasad ibunya yang terjepit di celah beton sempit.
"Saya harus memberikan perintah agar jenazah ibu saya dipotong. Mereka harus melakukannya dengan gergaji. Tubuhnya sudah membusuk dan hampir meledak," katanya. "Ini adalah sesuatu yang sungguh tidak pernah bisa saya lupakan."
Meskipun tempat tinggalnya kini rata dengan tanah, Viloria menolak meninggalkan lokasi pembersihan.
"Saya tidak akan beristirahat," ujarnya.
"Karena anak itu sudah seperti anak saya sendiri."
Aktivitas bantuan internasional dan tim penyelamat mulai menurun di area pesisir La Guaira. Jumlah kerumunan warga di sekitar area terdampak kini berkurang drastis dibanding hari pertama pascabencana.
Froylan Gerardo Robles dari Search and Rescue Mexico mencatat perubahan situasi yang sangat signifikan di lapangan. Pihaknya terus melanjutkan penyisiran malam hari bersama relawan lokal secara manual.
"Pada misi pertama, rasanya seperti masuk ke dalam film horor sejak kami datang ke sini," kata Robles kepada Al Jazeera.
"Tapi minggu ini, kami pergi bersama tim penyelamat lain untuk melihat lokasi lain, dan bahkan sudah tidak ada bangunan lagi di sana."
Pemerintah mencatat korban jiwa resmi telah melebihi angka 6.000 jiwa akibat gempa tersebut. Namun, ribuan orang lainnya diperkirakan masih tertimbun di bawah puing-puing bangunan.