Suara.com - PT Hutama Karya (Persero) memperkuat dukungannya terhadap Gerakan Nasional Zero Over Dimension Over Loading (ODOL) melalui pelaksanaan Operasi ODOL secara rutin di sejumlah ruas tol yang dikelola.
Upaya ini menjadi bagian dari kampanye keselamatan SETUJU (Selamat Sampai Tujuan) untuk mendorong kepatuhan kendaraan angkutan barang terhadap ketentuan dimensi dan muatan.
Plt. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, mengatakan kendaraan ODOL masih menjadi tantangan dalam penyelenggaraan jalan tol karena berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan dan memengaruhi kualitas infrastruktur.
"Kendaraan ODOL tidak hanya melanggar ketentuan yang berlaku, tetapi juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kegagalan pengereman, kehilangan kendali, hingga terguling yang dapat membahayakan pengguna jalan lainnya," ujar Hamdani.

Selain berisiko terhadap keselamatan, kendaraan dengan muatan melebihi batas juga dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap perkerasan jalan, jembatan, dan struktur pendukung lainnya.
Kondisi itu berpotensi mengurangi umur layanan infrastruktur jalan tol serta meningkatkan kebutuhan pemeliharaan.
Sebagai langkah pencegahan, Hutama Karya menjalankan Operasi ODOL bersama Kementerian Perhubungan, Korps Lalu Lintas Polri, Dinas Perhubungan, Jasa Raharja, dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Sepanjang Januari-Juli 2026, operasi tersebut telah menjaring 1.280 kendaraan angkutan barang. Dari jumlah itu, sebanyak 775 kendaraan memenuhi ketentuan dimensi dan muatan, sementara 505 kendaraan terindikasi melanggar aturan ODOL.
Operasi ODOL dilakukan di berbagai ruas tol yang dikelola Hutama Karya, mulai dari Jalan Tol Binjai-Langsa, Indrapura-Kisaran, Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat, Pekanbaru-XIII Koto Kampar, Palembang-Indralaya, hingga Tol Padang-Sicincin dan sejumlah ruas lainnya.
Selain operasi langsung, Hutama Karya juga memperkuat pengawasan melalui penerapan sistem Weigh in Motion (WIM). Sistem ini digunakan sebagai langkah preventif untuk mendukung implementasi Gerakan Nasional Zero ODOL.
Pada periode yang sama, sistem WIM telah mengidentifikasi sebanyak 342.748 kendaraan angkutan barang yang terindikasi tidak memenuhi ketentuan dimensi dan/atau muatan.
"Pengawasan terhadap kendaraan ODOL melalui Operasi ODOL maupun sistem WIM bukan semata-mata merupakan bentuk penegakan kepatuhan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keselamatan pengguna jalan serta keandalan layanan jalan tol," kata Hamdani.
Hutama Karya mengajak pelaku usaha angkutan barang, perusahaan logistik, dan pengemudi kendaraan barang memastikan kendaraan yang digunakan telah memenuhi aturan dimensi serta batas muatan sesuai regulasi.
Selain itu, pengguna jalan juga diimbau mematuhi batas kecepatan, menjaga jarak aman, menggunakan lajur sesuai peruntukan, memastikan kendaraan laik jalan, serta tidak berhenti di bahu jalan kecuali dalam kondisi darurat.
Sebagai bagian dari kampanye SETUJU, Hutama Karya terus melakukan edukasi mengenai bahaya kendaraan ODOL melalui berbagai saluran komunikasi, seperti Variable Message Sign (VMS), spanduk, media sosial, media massa, hingga penyampaian imbauan langsung di gerbang tol dan rest area.
"Melalui pengawasan yang konsisten, edukasi yang berkelanjutan, serta sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, Hutama Karya berkomitmen mendukung implementasi Gerakan Nasional Zero ODOL," tutup Hamdani.
Untuk mendukung perjalanan yang lebih aman dan nyaman, Hutama Karya juga menghadirkan aplikasi Mozy yang menyediakan informasi layanan jalan tol, mulai dari tarif tol, kondisi lalu lintas melalui CCTV, lokasi rest area dan SPBU, rekomendasi kuliner, hingga fitur tombol darurat (SOS).
Pengguna jalan yang membutuhkan bantuan selama melintas di ruas tol Hutama Karya dapat menghubungi Call Center Terintegrasi Jalan Tol Hutama Karya di 150-700 atau WhatsApp 0811-2777-000.***