-
Pelajar 14 tahun menembak mati kakek neneknya lalu membantai enam orang di sekolah Thailand.
-
Penembakan massal di Sekolah Debsirin Nonthaburi melukai 23 orang dan berakhir dengan bunuh diri pelaku.
-
Perdana Menteri Thailand mengecam keras tragedi pembunuhan massal terburuk sejak tahun 2022 tersebut.
Suara.com - Tragedi penembakan massal kembali mengguncang Thailand usai seorang pelajar 14 tahun membantai delapan orang termasuk kakek neneknya sendiri serta guru dan siswa di Sekolah Debsirin Nonthaburi pada Jumat (7/8). Aksi keji menggunakan senjata api milik kakeknya tersebut berujung pada bunuh diri pelaku, sekaligus mencatatkan insasi pembunuhan massal terburuk di Negeri Gajah Putih sejak 2022.
Peristiwa berdarah di pinggiran kota Bangkok ini melukai 23 orang lainnya dan memaksa ribuan siswa berhamburan keluar gedung dalam kepanikan. Gelombang evakuasi medis darurat langsung membawa para korban luka ke rumah sakit saat para pengajar saling memeluk dan menangis di halaman sekolah.
Fakta di lapangan menunjukkan pelaku melepaskan sedikitnya 26 tembakan aktif serta menyimpan 34 butir amunisi cadangan di dalam tasnya. Kepolisian mengonfirmasi bahwasanya senjata api yang dipakai dalam aksi mematikan ini merupakan milik kakek pelaku yang lebih dulu dibunuh di rumah.

Rangkaian letusan senjata sempat dikira sebagai ledakan petasan oleh para siswa yang berada di dalam area bangunan sekolah.
"Awalnya saya tidak mengira itu pistol," kata seorang siswa berusia 18 tahun kepada Reuters.
"Terdengar banyak tembakan: bang bang bang. Lalu hening. Kemudian mulai lagi."
Juru Bicara Kepolisian Nasional Thailand mengonfirmasi bahwa jasad pelaku ditemukan di lokasi kejadian bersama enam korban tewas lainnya.
“Telah dipastikan meninggal,” ujar Letnan Jenderal Trairong Phophan, juru bicara Kepolisian Nasional, kepada Reuters saat menyampaikan bahwa dugaannya berada di antara tujuh orang yang tewas di sekolah.
Foto-foto yang beredar memperlihatkan remaja berseragam sekolah ungu itu tergeletak dengan tas selempang hitam di samping selongsong peluru yang berserakan.
Menteri Pendidikan Thailand memastikan korban meninggal dunia mencakup tenaga pengajar dan murid yang sedang menjalani kegiatan belajar mengajar.
"Ini adalah insiden yang sangat mengerikan. Hal ini seharusnya tidak pernah terjadi. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi di negara kita?" kata Perdana Menteri Anutin Charnvirakul kepada para wartawan di Government House, Bangkok.
Petugas penyelamat darurat menemukan korban jiwa pertama di lantai atas bangunan sekolah dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
"Kami bergegas menghampiri dan mendapati pelaku telah menembak sisi kanan kepalanya sendiri lalu ambruk. Saat tiba di lokasi, kami memeriksa denyut nadinya—ia masih memiliki denyut nadi—jadi kami mulai melakukan CPR," kata Kiatikhun Verapongpradith, petugas penyelamat berusia 47 tahun.
Tim medis menemukan seorang guru pria tewas di lantai atas serta guru perempuan dengan luka tembak di dada dan lengan.
Petugas kemudian melarikan remaja penembak tersebut ke rumah sakit terdekat dalam kondisi kritis sebelum akhirnya dinyatakan tewas.
Situs penembakan di Sekolah Debsirin Nonthaburi ini tercatat menampung sekitar 3.100 siswa dan 147 guru pada tahun ajaran 2025.
Kepanikan orang tua murid membuat arus lalu lintas di sekitar lokasi sekolah di wilayah Nonthaburi mengalami kemacetan total.
Insiden berdarah ini menjadi kasus penembakan sekolah kedua di Thailand sepanjang tahun 2022-2026, setelah kasus penembakan guru pada Februari lalu.
Kelonggaran kepemilikan senjata api dan akses amunisi dalam keluarga kembali menjadi sorotan utama dalam tragedi kekerasan remaja ini.