-
Donald Trump menyatakan Iran kembali menolak proposal kesepakatan damai yang diajukan Amerika Serikat.
-
Presiden AS meyakini kesepakatan damai dengan Iran akan terwujud setelah pemilu paruh waktu.
-
Trump berjanji melarang Iran memiliki senjata nuklir dan memprediksi harga minyak dunia anjlok.
Suara.com - Pemerintah Amerika Serikat memproyeksikan stabilitas kawasan Timur Tengah akan terwujud melalui kesepakatan damai baru dengan Iran dalam waktu dekat. Peluang kerja sama tersebut diyakini kian terbuka lebar segera setelah gelaran pemilu paruh waktu AS selesai.
Pemimpin Amerika Serikat menilai langkah kompromi merupakan satu-satunya pilihan rasional bagi Teheran demi mengakhiri ketegangan geopolitik yang berlarut-larut. Penolakan berulang dari pihak Iran dianggap hanya menunda pemulihan ekonomi dan keamanan kawasan.
Diplomasi intensif terus didorong untuk menekan potensi ancaman fatal di tingkat global. AS menegaskan garis batas tegas terkait program militer yang dapat membahayakan keselamatan dunia.

“Sekali lagi, saya mendesak Iran untuk membuat kesepakatan. Dan sekali lagi, mereka menolak,” kata Donald Trump dari podium Sidang Majelis Umum PBB di New York.
Meskipun diplomasi sempat membentur tembok tebal, pihak Washington tetap optimistis dialog konstruktif bakal membuahkan hasil manis. Momentum politik domestik mendatang diprediksi menjadi titik balik penting bagi arah kebijakan luar negeri kedua negara.
Pemerintah AS menargetkan peta jalan perdamaian dapat dirampungkan secara konkret usai kontestasi politik nasional berakhir. Sikap optimistis ini didasari perhitungan logis atas kebutuhan ekonomi serta stabilitas politik kedua belah pihak.
“Saya yakin kita akan mencapai kesepakatan tepat setelah pemilu karena tidak masuk akal bagi mereka (Iran) untuk tidak melakukannya,” ucapnya.
Proses pemungutan suara dalam agenda pemilu paruh waktu di Amerika Serikat sendiri dijadwalkan berlangsung pada 3 November. Hasil dari pemilu ini dipercaya bakal mempercepat dinamika negosiasi di meja perundingan.
Di sisi lain, Washington memegang teguh komitmen utama terkait pembatasan kemampuan militer strategis milik Teheran. Pengawasan ketat dipastikan bakal terus berjalan tanpa kompromi sedikit pun.
“Sejak hari pertama saya memasuki arena politik, saya tidak pernah goyah. Saya tidak akan pernah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir,” katanya.
Penyelesaian gesekan diplomatik ini diklaim bakal langsung membawa dampak positif signifikan bagi pasar energi global. Penurunan tensi militer diyakini sanggup meredam gejolak harga komoditas vital tersebut.
“Kita akan segera melihat dunia yang terbebas dari ancaman selama 51 tahun terakhir, teror Iran, dan harga minyak akan anjlok bahkan lebih rendah daripada saat konflik dimulai,” klaim dia.
Sengketa berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran selama ini kerap menjadi pemicu utama ketidakpastian pasokan pasokan energi global. Penolakan proposal damai oleh Iran di Sidang Majelis Umum PBB menambah daftar panjang dinamika hubungan dingin kedua negara sejak beberapa dekade terakhir.