-
PM Jepang Sanae Takaichi tidak menyebut keterlibatan Amerika Serikat dalam pidato peringatan bom atom.
-
Takaichi menegaskan komitmen Jepang memegang Tiga Prinsip Non-Nuklir demi perdamaian dunia tanpa nuklir.
-
Serangan bom atom AS pada Agustus 1945 menewaskan ratusan ribu warga sipil Hiroshima Nagasaki.
Suara.com - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi kembali mengabaikan keterlibatan Amerika Serikat atas tragedi bom atom Hiroshima dan Nagasaki dalam pidato resminya. Pemimpin Negara Sakura tersebut memilih fokus menegaskan komitmen anti-nuklir Jepang ketimbang menunjuk langsung sang pelaku sejarah.
Langkah diplomatik yang memicu sorotan publik ini memotret dinamika politik geopolitik Jepang terhadap sekutu utamanya. Peneliti media menilai absennya nama Amerika Serikat menjadi strategi konsisten Tokyo untuk menjaga hubungan bilateral di tengah tensi global.
Meskipun menghindari topik sensitif tersebut, Takaichi menegaskan posisi negaranya sebagai satu-satunya korban pengeboman atom di dunia. Ia menggarisbawahi pentingnya prinsip non-nuklir demi menjaga perdamaian dunia di masa depan.

"Bencana yang terjadi 81 tahun lalu di Nagasaki dan Hiroshima tidak boleh terulang lagi. Negara kita berpegang teguh pada Tiga Prinsip Non-Nuklir dan—sejalan dengan janji 'Biarlah Nagasaki tetap menjadi lokasi mejelaskan lokasi terakhir pengeboman atom'—sebagai satu-satunya negara yang menjadi sasaran pengeboman selama perang, terus melakukan upaya yang realistis dan praktis untuk mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir," kata Takaichi.
Pidato tersebut disampaikan dalam upacara peringatan korban bom atom yang disiarkan secara langsung oleh berbagai saluran televisi utama Jepang pada Minggu.
Sikap serupa sebelumnya juga terlihat dalam seremoni peringatan tragedi Hiroshima pada Kamis (6/8). Saat itu, PM Takaichi bersama Wali Kota Hiroshima Kazumi Matsui sama-sama tak menyentuh keterlibatan Washington.
Kendati demikian, Wali Kota Kazumi Matsui sempat menyinggung eskalasi konflik di Ukraina dengan menyuarakan aspirasi dari penyintas bom atom.
Sikap hati-hati para pejabat Jepang ini memicu perdebatan mengenai transparansi narasi sejarah dalam seremoni kenegaraan. Sebagian kalangan menilai penghilangan nama Amerika Serikat mengaburkan ingatan sejarah bagi generasi muda.
Di sisi lain, pemerintah Jepang memprioritaskan diplomasi praktis guna mendorong penghapusan senjata nuklir secara global.
Tragedi kelam ini bermula ketika militer Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945. Serangan mematikan tersebut meluluhlantakkan kedua kota sekaligus menewaskan ratusan ribu jiwa.
Berdasarkan data sejarah, ledakan bom beserta radiasi lanjutan menewaskan 140.000 warga di Hiroshima dan 74.000 jiwa di Nagasaki. Mayoritas korban yang kehilangan nyawa dalam peristiwa tragis itu merupakan warga sipil tanpa senjata.
Sebagai bentuk penghormatan bagi para korban, pemerintah setempat menggelar Upacara Perdamaian saban tahun pada tanggal 6 dan 9 Agustus.