-
Harga minyak Brent dan WTI naik akibat ketidakpastian pembukaan kembali jalur Selat Hormuz.
-
Iran dan Oman hampir merampungkan kesepakatan rute pelayaran baru bagi kapal komersial.
-
Pemulihan pelayaran penuh butuh waktu panjang karena syarat politik AS dan penyisiran ranjau.
Suara.com - Harga minyak dunia merangkak naik akibat belum jelasnya kepastian operasional Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal tanker. Lonjakan harga ini terjadi meski Iran dan Oman sudah memasuki tahap akhir negosiasi pembukaan jalur pelayaran baru.
Kontrak berjangka Brent menguat 1,44 persen menjadi 84,79 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 1,08 persen ke level 79,29 dolar AS per barel. Eskalasi harga ini mencerminkan keraguan pelaku pasar global terhadap percepatan pemulihan distribusi energi melalui kawasan tersebut.
Persetujuan rute baru antara Iran dan Oman tidak otomatis membuka penuh Selat Hormuz karena Teheran menuntut Amerika Serikat memenuhi sejumlah syarat tambahan. Sikap keras Iran membuat rantai pasok minyak mentah dunia berada dalam bayang-bayang ketidakpastian jangka panjang.
![Iustrasi Kilang Minyak [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/25/18701-ilustrasi-kilang-minyak-harga-minyak-dunia-minyak.jpg)
Proses pemulihan aktivitas pelayaran yang aman dan normal diperkirakan membutuhkan waktu mingguan hingga bulanan meskipun kesepakatan politik tercapai. Dikutip dari Global Banking, tantangan teknis seperti penyisiran ranjau laut dan kesiapan operasional kapal menjadi penghambat utama di lapangan.
Selain masalah teknis, penyedia asuransi kapal juga masih menahan jaminan perlindungan hingga risiko keamanan di wilayah perairan tersebut benar-benar melandai. Kondisi ini membuat perusahaan pelayaran enggan memobilisasi armada mereka dalam waktu dekat.
Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa pembahasan teknis mengenai penetapan rute maritim baru bersama Oman kini sudah berada di fase penutupan. Namun, Teheran menegaskan bahwa pemulihan akses secara menyeluruh sangat bergantung pada respons dan kepatuhan pihak Amerika Serikat.
Iran menyatakan bahwa negosiasi dengan Oman terkait jalur pelayaran baru telah berada di tahap akhir. Tetapi pembukaan kembali secara penuh bergantung pada AS yang harus memenuhi kondisi tambahan.
Pernyataan bersyarat dari Iran ini langsung direspon negatif oleh pasar yang mengantisipasi tersendatnya pasokan minyak mentah dalam jangka pendek. Investor khawatir proses negosiasi politik antara Teheran dan Washington akan berjalan lambat dan alot.
Para analis industri energi mengingatkan bahwa penyelesaian administrasi antarnegera hanyalah langkah awal dari pemulihan krisis ini. Hambatan riil di jalur laut membutuhkan penanganan ekstra yang tidak bisa diselesaikan dalam hitungan hari.
Bahkan jika kesepakatan tercapai, para analis memperingatkan bahwa pemulihan pelayaran yang aman dan normal melalui Selat dapat memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan karena pembersihan ranjau, kepercayaan pihak asuransi, dan kesiapan operasional.
Selat Hormuz merupakan choke point paling krusial bagi perdagangan energi global yang menghubungkan produsen minyak Timur Tengah dengan pasar dunia. Penutupan atau gangguan pada lintasan ini selalu memicu ketegangan pasokan dan lonjakan harga minyak secara instan.
Krisis pelayaran ini meruncing setelah ketegangan geopolitik melibatkan Iran, Oman, dan Amerika Serikat yang berdampak langsung pada keamanan rute kapal tanker. Langkah penetapan rute baru dilakukan untuk meminimalkan risiko militer dan menjamin keselamatan armada komersial.
Hingga saat ini, pelaku industri migas global masih memantau dari dekat perkembangan syarat tambahan yang diajukan Teheran kepada pihak Washington. Kepastian hukum dan jaminan keamanan fisik menjadi penentu utama stabilisasi harga minyak dunia ke depan.