Eks Menhan Mark Esper: Tawaran Damai Iran Konyol, Merasa Lagi di Atas Angin

Pebriansyah Ariefana

Senin, 10 Agustus 2026 | 08:28 WIB
Eks Menhan Mark Esper: Tawaran Damai Iran Konyol, Merasa Lagi di Atas Angin
Eks Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark Esper (ABC)
baca 10 detik
  • Iran mengajukan syarat berat bagi AS untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.

  • Mantan Menhan Mark Esper menilai tuntutan Iran konyol dan menunjukkan posisi mereka di atas angin.

  • Militer AS mengalami kelangkaan rudal dan amunisi strategis di tengah eskalasi konflik Selat Hormuz.

Suara.com - Ketegangan geopolitik di Jalur Selat Hormuz semakin memuncak setelah pemerintah Iran menetapkan sejumlah syarat perdamaian yang berat untuk membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut. Langkah tegas Tehran ini dinilai menutup ruang negosiasi sekaligus mempertegas posisi tawar mereka dalam menghadapi tekanan militer Amerika Serikat.

Mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark Esper menilai seluruh tuntutan yang diajukan pihak Iran sama sekali tidak realistis untuk dipenuhi. Penilaian tersebut disampaikan Esper saat menanggapi dinamika diplomasi terbaru yang makin membuntu.

"Merek telah mengajukan tuntutan kepada Amerika Serikat, yang sejujurnya, konyol dan harus ditolak mentah-mentah," kata Esper, yang menjabat sebagai menteri pertahanan selama masa jabatan pertama Presiden Donald Trump, kepada co-anchor "This Week" ABC News, Jonathan Karl.

Pesawat tempur di dekat Selat Hormuz (FlightRadar24)
Pesawat tempur di dekat Selat Hormuz (FlightRadar24)

"Tuntutan seperti penarikan seluruh pasukan AS dari kawasan tersebut, penggantian biaya perang, fakta bahwa kita akan mengakhiri blokade kita, kita akan mengakhiri sanksi. Jadi ini sudah melampaui batas."

Persyaratan ketat tersebut mencakup pembukaan jalur pelayaran komersial ke volume normal sebelum terjadinya konflik bersenjata. Esper memandang poin-poin penekanan tersebut mencerminkan tingginya rasa percaya diri para pemimpin Iran atas kontrol wilayah perairan strategis itu.

"Ini menunjukkan bahwa mereka percaya bahwa mereka berada di atas angin, mereka percaya bahwa mereka menang, dan mereka memang sudah demikian. Jadi itulah yang sedang kita hadapi saat ini," kata Esper.

Strategi penekanan Tehran juga didukung oleh pergerakan kelompok-kelompok sekutu mereka di kawasan Timur Tengah. Esper menyoroti bagaimana Iran memanfaatkan pengaruh regionalnya untuk memperkuat posisi diplomasi di meja perundingan.

"Tuntutan yang baru saja mereka ajukan tadi malam menunjukkan bahwa mereka semakin berani, bahwa mereka merasa percaya diri dengan posisi mereka di dunia, dan pada saat yang sama mereka memamerkan kekuatan mereka dengan menggunakan perpanjangan tangan mereka," ujar Esper.

Di sisi lain, militer Amerika Serikat tengah berpacu dengan waktu untuk mengatasi keterbatasan persediaan amunisi strategis mereka. Esper mengonfirmasi bahwa kendala produksi dalam negeri menghambat akselerasi pasokan senjata untuk jangka pendek.

baca juga

"Pemerintah sedang berusaha keras dalam berbagai cara," kata Esper.

"Tetapi ketika Anda berbicara tentang membutuhkan waktu dua tahun untuk membuat rudal Patriot, apa pun yang kita lakukan sekarang tidak akan membantu dalam jangka pendek, namun bagaimanapun juga tetap perlu dilakukan karena alasan strategis."

Kelangkaan pencegat rudal balistik menjadi salah satu faktor utama yang membatasi opsi serangan militer Washington saat ini. Pejabat internal mengonfirmasi bahwa cadangan senjata pertahanan udara berada pada level yang sangat mengkhawatirkan.

Presiden Donald Trump mengakui adanya dinamika pasokan amunisi yang menipis untuk jenis-jenis tertentu di gudang persenjataan. Meski demikian, Trump menegaskan bahwa persediaan amunisi jenis lain masih berada dalam kondisi yang sangat aman.

"Kita membutuhkan lebih banyak sepanjang waktu."

"Tetapi kami memiliki jenis amunisi tertentu yang sangat kuat [yang] pasokannya tidak terbatas, praktis tidak terbatas," kata sang presiden.

"Kami memiliki yang lain di mana situasinya sedikit lebih ketat, dan kami mendapatkannya setiap hari."

Defisit persenjataan yang dialami militer Amerika Serikat saat ini bukan merupakan persoalan mendadak, melainkan akumulasi kebijakan jangka panjang sejak era Perang Dingin. Pengeluaran amunisi secara besar-besaran untuk membantu negara mitra dalam konflik lain turut mempercepat penipisan cadangan nasional.

"Ini adalah situasi serius yang terjadi sejak akhir Perang Dingin dan keputusan yang kita buat antara saat itu, dan kemudian dengan dimulainya perang Irak dan Afganistan," kata Esper.

"Dan sejujurnya, ini dipercepat selama pemerintahan Biden ketika kita menghabiskan amunisi atau memberikan amunisi ke Ukraina."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Senin Pagi Harga Minyak Dunia Melonjak karena Ketidakpastian Selat Hormuz

Senin Pagi Harga Minyak Dunia Melonjak karena Ketidakpastian Selat Hormuz

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 07:50 WIB

Iran Janji Buka Selat Hormuz Jika AS Cabut Sanksi dan Bayar Ganti Rugi Perang

Iran Janji Buka Selat Hormuz Jika AS Cabut Sanksi dan Bayar Ganti Rugi Perang

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 07:35 WIB

Kata-kata Aneh PM Jepang Tak Sebut Pihak yang Paling 'Berdosa' di Bom Hiroshima - Nagasaki

Kata-kata Aneh PM Jepang Tak Sebut Pihak yang Paling 'Berdosa' di Bom Hiroshima - Nagasaki

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 07:23 WIB

Terkini

Eks Menhan Mark Esper: Tawaran Damai Iran Konyol, Merasa Lagi di Atas Angin

Eks Menhan Mark Esper: Tawaran Damai Iran Konyol, Merasa Lagi di Atas Angin

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 08:28 WIB

Selat Hormuz Siap Dibuka Jika AS Mau Bayar Kompensasi ke Iran, Berapa Nominalnya?

Selat Hormuz Siap Dibuka Jika AS Mau Bayar Kompensasi ke Iran, Berapa Nominalnya?

Bisnis | Senin, 10 Agustus 2026 | 08:28 WIB

PLTA Garung Pasok Energi Bersih ke Sistem Jawa-Bali, Aliri Listrik 30 Desa

PLTA Garung Pasok Energi Bersih ke Sistem Jawa-Bali, Aliri Listrik 30 Desa

Bisnis | Senin, 10 Agustus 2026 | 08:26 WIB

Tak Risih Dijuluki Gubernur Persija, Pramono Optimis Juara Liga 1 Jadi Kado 500 Tahun Jakarta

Tak Risih Dijuluki Gubernur Persija, Pramono Optimis Juara Liga 1 Jadi Kado 500 Tahun Jakarta

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 08:19 WIB

5 Film Terbaru Agustus 2026, Ada Dear You Hingga The Tao Exorcist!

5 Film Terbaru Agustus 2026, Ada Dear You Hingga The Tao Exorcist!

Your Say | Senin, 10 Agustus 2026 | 08:15 WIB

Misteri Sisa Kuota Internet: Mengapa Bisa Hangus dan Siapa yang Paling Diuntungkan?

Misteri Sisa Kuota Internet: Mengapa Bisa Hangus dan Siapa yang Paling Diuntungkan?

Tekno | Senin, 10 Agustus 2026 | 08:12 WIB

Hillary Clinton Kritik Dekorasi Gedung Putih Era Donald Trump Mirip Istana Saddam Hussein

Hillary Clinton Kritik Dekorasi Gedung Putih Era Donald Trump Mirip Istana Saddam Hussein

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 08:11 WIB

Kinerja SDM Danone Indonesia Lampaui Benchmark Global

Kinerja SDM Danone Indonesia Lampaui Benchmark Global

Bisnis | Senin, 10 Agustus 2026 | 08:06 WIB

Keluarga Sutrimo Diancam Usai Lapor Polisi? LPSK Segera ke Banyumas Siap Beri Perlindungan Darurat

Keluarga Sutrimo Diancam Usai Lapor Polisi? LPSK Segera ke Banyumas Siap Beri Perlindungan Darurat

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 08:05 WIB

Prabowo Minta Pangkas Anak Cucu Pertamina, PLN, dan BUMN Lain

Prabowo Minta Pangkas Anak Cucu Pertamina, PLN, dan BUMN Lain

Bisnis | Senin, 10 Agustus 2026 | 07:59 WIB

×