Mengapa Menjaga Hutan Papua Tak Cukup Mengandalkan Konservasi?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 10 Agustus 2026 | 11:30 WIB
Mengapa Menjaga Hutan Papua Tak Cukup Mengandalkan Konservasi?
Ilustrasi Hutan Papua. (Freepik)

Suara.com - Upaya melindungi hutan Papua dinilai tidak cukup hanya dengan mengandalkan kebijakan pemerintah ataupun pendekatan konservasi. Di tengah ancaman perubahan iklim dan tekanan terhadap bentang hutan tropis ini, diperlukan usaha lebih untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Dengan mengkombinasikan ilmu pengetahuan, nilai-nilai agama, dan kearifan masyarakat adat akan menghadirkan keberlanjutan serta pelestarian ini berjalan lebih efektif.

Pandangan tersebut dituangkan dalam rangkaian acara Science Immersion Fellowship yang digelar usai peluncuran Chapter Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia Papua Barat Daya di Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong.

Selama tiga hari, acara tersebut mempertemukan para ilmuwan, pemuka agama, masyarakat adat, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil untuk membahas masa depan hutan Papua melalui beragam sudut pandang.

Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global BMKG Sorong, Budi Satrio, mengemukakan bahwa perubahan iklim telah terjadi peningkatan sehingga memengaruhi pola cuaca di Papua.

Menurutnya, kenaikan suhu udarra dan perubahan cuaca ini menjadi sinyal penting dari dampak krisisi iklim yang tidak lagi menjadi ancaman masa depan, melainkan sudah dirasakan saat ini.

Karena itu, ia menilai penyelesaian permasalahan lingkungan ini tidak lagi bisa dilakukan oleh satu sektor saja. Pemerintah, masyarakat, akademisi, hingga tokoh agama perlu mempunyai pemahaman yang setara dalam memandang pelestarian ekosistem hutan sebagai salah satu upaya untuk menghadapi perubahan iklim.

Sebagai tokoh masyarakat adat, Abdon Nababan, menegaskan bahwa perlindungan hutan tidak terlepas dari masyarakat adat yang selama ini hidup bergantung pada hutan, sehingga masyarakat adat merupakan benteng utama dalam melindungi hutan.

“Perlindungan ekosistem alami yang paling murah dan paling efektid adalah melindungi pelindung hutannya, yaitu masyarakat adat beserta pengetahuan tradisionalnya,” jelasnya.

baca juga

Abdon menilai bahwa selama ini masyarakat adat telah mewariskan berbagai pengetahuan mengenai cara mengelola hutan tanpa merusak keseimbangan alam. Pengetahuan inilah yang tidak hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga menjadi bukti dalam menjaga kelestarian kawasan hutan selama turun temurun.

Sementara itu, Ahli Zoologi dan Biologi Konservasi Indonesia, Profesor Jatna Supriatna mengingatkan bahwa lebih dari 40 persen kekayaan biodiversitas Indonesia berada di Papua. Kekayaan tersebut menjadikan Papua sebagai salah satu wilayah terpenting bagi kelestarian keanekaragaman hayati.

Namun, dengan besarnya potensi tersebut harus didasarkan dengan prinsip geo-ekologi dan konservasi agar kekayaan hayati tidak hilang akibat eksploitasi yang tidak terkendali.

Selain menghadirkan perspektif ilmiah dan masyarakat adat, acara tersebut turut menyoroti pandangan agama dalam perlindungan lingkungan.

Pendeta Ronald R. Tapilatu menegaskan bahwa iman, ilmu pengetahuan, dan kearifan masyarakat adat harus jalan berdampingan.

“Pemuka agama seharusnya berdiri di garis depan mendampingi masyarakat adat. Hutan Papun bukan sekadar bentang alam, tetapi ruang hidup, ruang spiritual, dan penyangga iklim dunia. Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan,” katanya.

Pendapat tersebut selaras dengan semangat yang diusung oleh Interfaith Rainforest Initiative, yakni mempertemukan agama, ilmu pengetahuan, dan masyarakat adat dalam satu gerakan untuk melindungi hutan.

Melalui pendekatan tersebut, prelindungan hutan tidak lagi dilihat hanya sebagai konservasi semata, melainkan menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat.

Para peserta berharap akan lebih banyak ruang dialog yang mempertemukan berbagai kelompok untuk mencari solusi bersama. Demikian, perlindungan hutan Papua tidak berhenti sebagai upaya konservasi, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama yang menjaga kelestarian alam, menghormati hak masyarakat adat, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kita Tak Kekurangan Program Lingkungan, Kita Kekurangan Kebiasaan

Kita Tak Kekurangan Program Lingkungan, Kita Kekurangan Kebiasaan

Your Say | Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:28 WIB

Tak Hanya Penggerak Ekonomi, Industri Juga Jadi Motor Konservasi Laut

Tak Hanya Penggerak Ekonomi, Industri Juga Jadi Motor Konservasi Laut

Bisnis | Senin, 03 Agustus 2026 | 09:18 WIB

NHM Perkuat Agenda ESG melalui Konservasi Mangrove dan Penguatan Ekonomi Komunitas Pesisir

NHM Perkuat Agenda ESG melalui Konservasi Mangrove dan Penguatan Ekonomi Komunitas Pesisir

Bisnis | Kamis, 30 Juli 2026 | 17:46 WIB

Terkini

Pemerintah Gagap Komunikasi: Bikin Aturan Dulu, Gaduh Kemudian

Pemerintah Gagap Komunikasi: Bikin Aturan Dulu, Gaduh Kemudian

Your Say | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:30 WIB

Mengapa Menjaga Hutan Papua Tak Cukup Mengandalkan Konservasi?

Mengapa Menjaga Hutan Papua Tak Cukup Mengandalkan Konservasi?

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:30 WIB

Jelang Reshuffle, PKB Serahkan Sepenuhnya Pilihan Menteri kepada Prabowo

Jelang Reshuffle, PKB Serahkan Sepenuhnya Pilihan Menteri kepada Prabowo

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:27 WIB

Beyond the Search Bar! Runtuhnya Berhala Metrik, Munculnya Ekosistem Jurnalisme Tanpa Sekat

Beyond the Search Bar! Runtuhnya Berhala Metrik, Munculnya Ekosistem Jurnalisme Tanpa Sekat

Opini | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:27 WIB

20 Ucapan Selamat Hari Pramuka Bahasa Inggris dan Artinya

20 Ucapan Selamat Hari Pramuka Bahasa Inggris dan Artinya

Lifestyle | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:26 WIB

Lagi Kurang Fit, Mahalini Tetap Tampil Totalitas di Bangor Fest Vol 4 Bawakan 8 Lagu Hits

Lagi Kurang Fit, Mahalini Tetap Tampil Totalitas di Bangor Fest Vol 4 Bawakan 8 Lagu Hits

Entertainment | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:24 WIB

Memaknai Kemerdekaan di Dunia Kerja: Mengapa Gen Z Lebih Memilih 'Work-Life Balance'?

Memaknai Kemerdekaan di Dunia Kerja: Mengapa Gen Z Lebih Memilih 'Work-Life Balance'?

Your Say | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:21 WIB

Dari Posyandu ke Pariwisata: Bagaimana Kesehatan Jadi Pondasi Desa Wisata Les Buleleng

Dari Posyandu ke Pariwisata: Bagaimana Kesehatan Jadi Pondasi Desa Wisata Les Buleleng

Your Say | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:20 WIB

Sultan Brunei Hassanal Bolkiah Mencabut Gelar Bangsawan Menantunya Akibat Perilaku Coreng Kerajaan

Sultan Brunei Hassanal Bolkiah Mencabut Gelar Bangsawan Menantunya Akibat Perilaku Coreng Kerajaan

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:13 WIB

Warga RI Mulai Cemas! Keyakinan Ekonomi Juli 2026 Turun, Cicilan Malah Naik

Warga RI Mulai Cemas! Keyakinan Ekonomi Juli 2026 Turun, Cicilan Malah Naik

Bisnis | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:13 WIB

×