-
Sultan Brunei resmi mencabut gelar kehormatan menantunya karena dianggap mencederai marwah kerajaan.
-
Detail pelanggaran Pengiran Raabi'atul Adawiyyah masih dirahasiakan oleh pihak pengurus rumah tangga istana.
-
Sebelum gelarnya dicopot, sosok mantan menantu raja ini dikenal berprestasi di bidang sains dan agama.
Suara.com - Sultan Brunei Hassanal Bolkiah mengambil langkah tegas mencopot gelar kehormatan menantunya akibat tuduhan pelanggaran etika istana. Keputusan mendadak ini langsung menghapus posisi sosial Pengiran Raabi'atul Adawiyyah dari lingkaran kekeluargaan kerajaan.
Tindakan keras penguasa Kesultanan Brunei tersebut menyasar istri Pangeran Abdul Malik yang selama ini dikenal sebagai sosok berprestasi. Pencabutan status resmi tersebut berlaku seketika sejak diumumkan kepada khalayak luas.
Sikap tegas monarki ini memperlihatkan standar ketat aturan perilaku bagi anggota keluarga kekaisaran tanpa pengecualian. Pihak istana menilai tindakan sang menantu telah mencoreng nama baik dinasti bangsawan.
![Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei di wisuda anak [Instagram/ameeraahbolkiahh]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/11/92845-sultan-hassanal-bolkiah-dari-brunei-di-wisuda-anak-instagramameeraahbolkiahh.jpg)
Laporan media resmi RTB News menyebutkan bahwasanya evaluasi perilaku Raabi'atul dianggap tidak mencerminkan marwah bangsawan. Sikap tersebut dinilai melukai reputasi kerajaan sekaligus menunjukkan ketidakhormatan kepada penguasa Brunei.
Perwakilan istana memberikan pernyataan singkat terkait keputusan krusial yang mengejutkan publik tersebut.
Pelaksana Tugas Pengurus Rumah Tangga Istana, Pengiran Haji Raffizanna Pengiran Haji Razali, menegaskan dasar dari keputusan mengejutkan ini.
"Pencabutan ini dilakukan menyusul titah kerajaan dari Sultan Hassanal Bolkiah," tegasnya.
Meskipun vonis royal telah dijatuhkan, otoritas istana memilih merahasiakan detail pelanggaran spesifik yang memicu kemarahan raja. Tidak ada riwayat penjelasan resmi mengenai insiden khusus yang mendasari sanksi disiplin tersebut.
Masyarakat kini berspekulasi terkait kelanjutan nasib mantan menantu raja setelah kehilangan hak-hak istimewanya. Pihak istana belum mengonfirmasi kemungkinan adanya sanksi tambahan atau hukuman pengasingan bagi Raabi'atul.
Peristiwa ini mengubah total perjalanan hidup sosok yang dipersunting Pangeran Abdul Malik dalam pesta kemewahan mendunia. Padahal, Raabi'atul sebelumnya memiliki rekam jejak yang mengagumkan di mata publik.
Wanita kelahiran 27 Oktober 1992 ini merupakan putri kedua dari pasangan bangsawan Pengiran Haji Bolkiah dan Pengiran Hajah Noor'aismah. Ia tumbuh dalam keluarga besar dengan sembilan saudara, termasuk kakaknya yang bekerja di maskapai Royal Brunei Airlines.
Perjalanan pendidikannya dimulai di Al-Falaah School sejak berusia enam tahun pada 1997 hingga 2003. Ia kemudian melanjutkan jenjang sekolah menengah di Rimba I, Menglait, serta Rimba Secondary School.
Di luar pendidikan formal, Raabi'atul menguasai keahlian teknologi informasi dan mengukir prestasi sebagai juara membaca Alquran. Kemampuannya di bidang TI membawanya bekerja sebagai System Data Analyst di BAG Networks pada 2012.
Kariernya berlanjut menjadi instruktur TI di HAD Technologies pada 2013 setelah mengantongi berbagai sertifikasi internasional. Ia juga memegang sertifikat Microsoft Office Specialist, Adobe Certified Certificate, hingga menuntaskan ICT Youth Development Programme.
Sejak belia, kepiawaian keagamaannya terasah lewat ajang Tilawah Alquran serta kepemimpinan di sekolah agama Berakas. Ia menggemari olahraga badminton, squash, serta rutin mendalami literatur tentang perempuan Islam.
Langkah penanggalan gelar kehormatan ini menjadi dinamika langka dalam sejarah internal Kesultanan Brunei Darussalam. Keputusan kerajaan ini menyita perhatian publik internasional mengingat posisi mulia yang sebelumnya disandang sang menantu.