-
Gempa magnitudo 7,4 di Kolombia menewaskan 132 orang dan melukai 570 warga.
-
Sebanyak 86 bangunan runtuh serta operasional tujuh bandara dihentikan sementara.
-
Bencana ini mengulang tragedi gempa mematikan di kawasan penghasil kopi tahun 1999.
Suara.com - Gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,4 meratakan puluhan bangunan di Kolombia dan memicu status siaga merah di 5 ibu kota provinsi pada Senin lalu. Data terbaru mencatat sedikitnya 132 orang meninggal dunia serta 570 korban lainnya mengalami luka-luka akibat bencana skala besar ini.
Dampak kehancuran terparah berpusat di Kota Pereira yang melaporkan 60 korban jiwa dalam satu wilayah saja. Bencana ini juga memaksa otoritas penerbangan menghentikan aktivitas operasional di 7 bandara udara nasional secara mendadak.
Asosiasi Kota-Kota Ibu Kota Kolombia mengonfirmasi sedikitnya 86 gedung runtuh total usai mengikuti rapat darurat penanganan bencana bersama presiden. Update Suara.com dan media Internasional CNN menjelaskan jika tim penyelamat kini terus menyisir puing-puing bangunan untuk mencari penyintas yang terperangkap.

Lumpuhnya infrastruktur transportasi udara memperlambat pengiriman bantuan medis menuju pusat bencana di wilayah barat. Pemerintah pusat mengarahkan seluruh unit tanggap darurat untuk memprioritaskan evakuasi di titik-titik kerusakan terparah.
Guncangan kuat kali ini langsung membangkitkan ingatan kelam masyarakat lokal atas peristiwa serupa di lokasi yang sama. Kenangan pahit bencana seperempat abad silam kembali menghantui warga kawasan pegunungan tersebut.
Bagaimana Trauma Gempa Seperempat Abad Lalu Kembali Terulang?
Kawasan penghasil kopi Kolombia pernah dihantam gempa bumi magnitudo 6,1 yang menewaskan 1.185 jiwa pada 25 Januari 1999. Departemen Administratif Statistik Nasional Kolombia (DANE) mencatat kejadian silam itu juga melukai 8.500 orang dan merusak 35.972 rumah.
Kota Armenia menjadi wilayah yang menanggung kerusakan paling berat pada tragedi tahun 1999 dengan menyumbang 921 korban jiwa. Kini, wilayah yang sama kembali menjadi area terdampak paling parah akibat guncangan terbaru.
"Saya masih sangat muda, tetapi saya juga ingat tragedi itu. Dan sekarang hal itu terjadi lagi di wilayah Penghasil Kopi yang sama—di Pereira dan Manizales. Saya bahkan tidak ingin membayangkan apa yang sedang dialami orang-orang itu. Ini semua sangat menyedihkan," ujar Carlos Atuesta, seorang profesor di Universitas Nasional, kepada CNN.
Pengalaman pahit masa lalu sebenarnya telah mendorong Kolombia membenahi sistem kesiapsiagaan bencana secara masif. Pemerintah rutin menggelar simulasi evakuasi mandiri sedikitnya dua kali semahun di kota-kota besar seperti Bogotá, Medellín, Barranquilla, dan Cali.
Meskipun latihan mitigasi rutin dilakukan, skala guncangan yang sangat besar kali ini tetap menguji ketahanan infrastruktur dan respons darurat negara tersebut. Pemerintah kini berpacu dengan waktu untuk memulihkan jalur logistik dan menyelamatkan para korban.