-
Donald Trump mempertimbangkan aksi militer besar-besaran usai perundingan diplomatik dengan Iran menemui kebuntuan.
-
Angkatan Laut Amerika Serikat memblokir total akses pelayaran menuju Iran di Selat Hormuz.
-
Amerika Serikat menuntut ganti rugi atas kerusakan yang ditimbulkan Iran selama 50 tahun.
Bagaimana Kondisi Jalur Maritim Selat Hormuz Saat Ini?
Akses lalu lintas laut di Selat Hormuz diklaim sudah kembali aman dan terbuka bagi kapal komersial dari berbagai negara. Angkatan Laut AS mengambil alih kontrol penuh perairan strategis tersebut guna menutup ruang gerak armada Iran.
Pengawasan armada tempur Amerika Serikat di kawasan itu digambarkan bak benteng pertahanan yang tak tertembus lawan.
“Ya, sekarang terbuka ... Satu-satunya pihak yang mengendalikan Selat Hormuz saat ini adalah Angkatan Laut Amerika Serikat. Kami memiliki blokade yang tidak dapat ditembus. Ini seperti tembok baja, dan kami membiarkan orang-orang yang ingin kami izinkan masuk, dan orang-orang tersebut masuk, dan mereka telah masuk dan keluar, sehingga sebenarnya sekarang terbuka," kata Trump.
Pembatasan ketat secara khusus diberlakukan untuk menutup seluruh akses masuk kapal logistik yang menuju pelabuhan Iran. Pihak luar yang tidak berkepentingan dengan Tehran tetap diizinkan melintasi perairan internasional tersebut secara bebas.
Pemblokiran total difokuskan semata-mata untuk menghentikan suplai komoditas utama dan pasokan pendukung bagi wilayah Iran.
“Kami tidak membiarkan mereka masuk ke Iran. Mereka tidak diizinkan masuk ke selat untuk menuju Iran, tetapi sekarang selat tersebut terbuka bagi pihak lainnya,” kata Trump melanjutkan.
Potensi gangguan keamanan seperti penyebaran peledak bawah laut diyakini sudah berhasil diantisipasi oleh tim persenjataan tempur. Pembersihan kawasan perairan dilakukan secara intensif demi menjamin keselamatan kapal dagang yang melintas.
Mengapa Potensi Ancaman Ranjau Iran Dianggap Tidak Efektif?
Militer AS mengakui pasukan Iran masih memiliki celah kecil untuk menjatuhkan peledak secara sembunyi-sembunyi di jalur pelayaran. Namun, operasi pembersihan secara menyeluruh telah menyapu bersih ancaman ranjau laut di sepanjang koridor perairan tersebut.
Penguasaan medan laut sepenuhnya berada di bawah kendali pasukan Amerika Serikat meski risiko provokasi kecil tetap ada.
“Anda tahu, kami telah membersihkan ranjau di seluruh selat tersebut, seperti yang mungkin sudah Anda dengar, mungkin juga belum. Namun, kami mengendalikan selat tersebut 100 persen. Sekarang, apakah mereka bisa membuat masalah? Ya, mereka bisa membuat masalah, tetapi mereka bangkrut. Mereka tidak punya uang,” kata Trump.
Kebijakan pengetatan maritim dan gertakan militer ini berakar dari kebuntuan perundingan yang berlangsung pada Senin (10/8). Pertemuan tersebut sebelumnya dipandang sebagai kesempatan terakhir untuk menghindari potensi konflik bersenjata secara terbuka.
Eskalasi ketegangan antara Washington dan Tehran kembali memuncak menyusul sanksi ekonomi berat serta perselisihan geopolitik jangka panjang. Langkah tegas AS di Selat Hormuz menjadi sinyal bahwa diplomasi kini bergeser menuju tekanan militer yang nyata.