- BAKTI Komdigi membangun akses internet di lebih dari 31.000 lokasi wilayah 3T untuk mendukung sektor pendidikan, kesehatan, pemerintahan, dan ekonomi.
- Infrastruktur internet dimanfaatkan oleh sekolah dan puskesmas di Flores Timur untuk memperluas sumber pembelajaran serta mengoptimalkan sistem rujukan medis.
- BAKTI mengelola infrastruktur strategis seperti SATRIA-1 dan BTS untuk membuka akses ekonomi masyarakat serta memperkuat layanan publik di daerah terpencil.
Suara.com - Kehadiran internet di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) kini tidak lagi sekadar persoalan tersedianya sinyal. Infrastruktur digital yang dibangun pemerintah mulai diarahkan untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pendidikan, layanan kesehatan, pemerintahan, hingga menggerakkan ekonomi masyarakat.
Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat telah membangun akses internet di lebih dari 31.000 lokasi di berbagai wilayah Indonesia. Sebagian besar infrastruktur tersebut berada di sektor pendidikan yang mencapai sekitar 68 persen.
Direktur Utama BAKTI Fadhilah Mathar mengatakan pemanfaatan infrastruktur digital harus menjadi bagian penting setelah akses internet tersedia. Menurut dia, pembangunan konektivitas tidak akan berarti apabila masyarakat dan institusi di daerah belum mampu menggunakannya secara optimal.
"Prinsip pembangunan di BAKTI itu seperti kaki meja tenis meja. Ada empat kaki. Pertama adalah keberlanjutan masyarakat karena hal ini akan membantu adopsi dan inklusi. Kedua, kualitas layanan. Ketiga, mendorong skalabilitas UMKM. Keempat, dan tidak kalah penting, adalah keberlanjutan industri," ujar Fadhilah dalam BAKTI Media Connect 2026, Rabu (12/8/2026).
Internet Bantu Sekolah di Daerah Terpencil
Sektor pendidikan menjadi salah satu pengguna terbesar infrastruktur internet BAKTI. Akses internet memungkinkan sekolah di daerah 3T mendapatkan sumber pembelajaran digital yang sebelumnya sulit dijangkau.
Konektivitas juga membuka peluang bagi sekolah untuk mengakses berbagai materi pendidikan, berkomunikasi dengan sekolah lain, hingga mendukung aktivitas administrasi secara digital.
Salah satu contoh pemanfaatan tersebut terlihat di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Infrastruktur Akses Internet BAKTI dimanfaatkan untuk mendukung modernisasi sekolah sekaligus memperluas akses terhadap sumber informasi.
Kehadiran internet membuat sekolah di wilayah yang sebelumnya menghadapi keterbatasan konektivitas tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sumber belajar yang tersedia secara lokal.
Puskesmas Bisa Terhubung dengan Layanan Rujukan
Manfaat konektivitas juga mulai terasa di sektor kesehatan. Sekitar 5,89 persen lokasi akses internet BAKTI berada di sektor kesehatan.
Di daerah terpencil, koneksi internet memiliki fungsi penting karena dapat menghubungkan fasilitas kesehatan dengan layanan maupun fasilitas rujukan. Hal ini membantu puskesmas dalam memperoleh informasi dan berkomunikasi ketika menangani kebutuhan medis masyarakat.
Di Flores Timur, misalnya, konektivitas yang dibangun BAKTI dimanfaatkan untuk mengoptimalkan sistem rujukan layanan medis puskesmas.
Dengan demikian, internet tidak hanya menjadi fasilitas komunikasi, tetapi ikut mendukung layanan dasar masyarakat yang berada jauh dari pusat kota.
BTS Buka Akses Ekonomi Masyarakat
Pemanfaatan internet di daerah 3T juga mulai menyentuh aktivitas ekonomi. Kehadiran BTS BAKTI di sejumlah wilayah membantu mengurangi blank spot sekaligus membuka akses komunikasi bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Hal tersebut terlihat di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Kehadiran BTS membantu masyarakat yang sebelumnya berada di wilayah tanpa sinyal untuk kembali terhubung.
Akses komunikasi yang lebih baik memberi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memanfaatkan teknologi digital dalam menjalankan aktivitas ekonomi, termasuk memperluas komunikasi dengan pelanggan maupun mitra usaha.
BAKTI juga mendorong pemanfaatan konektivitas melalui program pemberdayaan ekosistem digital dan kemitraan BUMDes. Program tersebut mencakup pelatihan literasi digital, digitalisasi pariwisata, serta penguatan kemitraan BUMDesma.
Internet untuk Pelayanan Publik
Selain pendidikan dan kesehatan, akses internet BAKTI juga menyasar kantor pemerintahan dan pusat kegiatan masyarakat. Sekitar 19,9 persen lokasi yang telah terhubung merupakan kantor pemerintahan, pasar tradisional, tempat ibadah, pos pertahanan dan keamanan, lokasi usaha, hingga transportasi publik.
Konektivitas di kantor pemerintahan menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan publik dan mendorong penerapan pemerintahan berbasis elektronik atau e-government.
Sementara itu, konektivitas di ruang publik membuka peluang masyarakat di daerah terpencil untuk memperoleh akses informasi dan layanan digital yang sebelumnya lebih sulit dijangkau.
Dari Pembangunan Infrastruktur Menuju Kemandirian
Untuk menopang konektivitas tersebut, BAKTI mengelola sejumlah infrastruktur strategis, mulai dari Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1), Palapa Ring, hingga BTS.
SATRIA-1 dengan kapasitas 150 Gbps digunakan untuk menjangkau fasilitas publik seperti sekolah, puskesmas, kantor pemerintah daerah, hingga pos perbatasan. Sementara jaringan serat optik Palapa Ring membentang sepanjang 12.148 kilometer dan melayani 131 lokasi Network Operation Center (NOC) di 57 kabupaten/kota nonkomersial.
Program BAKTI Sinyal juga telah membangun BTS 4G dan BTS Universal Service Obligation (USO) di 6.747 titik lokasi 3T.
Namun, bagi BAKTI, keberhasilan pembangunan konektivitas bukan hanya diukur dari banyaknya infrastruktur yang berdiri. Keberlanjutan pemanfaatan dan kemampuan masyarakat untuk mandiri menjadi ukuran berikutnya.
Karena itu, BAKTI mulai menjalankan exit strategy sejak 2024. Wilayah yang dinilai telah mencapai tingkat kematangan tertentu akan ditawarkan kepada operator, vendor, tower provider, maupun mitra lainnya untuk mengambil alih pengelolaan.
"Keberhasilan pemerintah dalam Universal Service Obligation bukan diukur dari seberapa lama kami berada di sana, tetapi seberapa cepat kami bisa melakukan exit dari lokasi tersebut. Artinya, masyarakat sudah bisa mandiri," kata Fadhilah.
Model tersebut diharapkan membuat infrastruktur digital di daerah 3T tidak berhenti sebagai proyek pembangunan.
Setelah akses tersedia, internet diharapkan benar-benar digunakan untuk membuat sekolah lebih terhubung, layanan kesehatan lebih mudah dijangkau, pelayanan publik lebih efektif, dan ekonomi masyarakat bergerak.