-
Blokade Selat Hormuz memicu krisis keuangan parah yang menunda pembayaran gaji pegawai Irak.
-
Penurunan ekspor minyak hingga 97 persen memangkas pendapatan bulanan pemerintah Irak secara drastis.
-
Pemerintah Irak mengupayakan jalur ekspor alternatif dan mengandalkan cadangan devisa untuk bertahan.
Volume ekspor minyak mentah Irak melorot tajam hingga 83 persen pada Maret dibanding periode tahun lalu. Angka penurunan pengiriman minyak melalui jalur laut terus memburuk hingga menyentuh 97 persen pada Mei.
Pendapatan bulanan Irak terperosok ke angka 2 miliar hingga 2,3 miliar dolar AS pada Mei dan Juni. Jumlah penerimaan tersebut jauh di bawah kebutuhan dana operasional rutin yang harus dikeluarkan pemerintah setiap bulan.
Penurunan drastis pendapatan negara sempat memicu rumor bahwa pencairan gaji pegawai akan diubah menjadi 45 hari sekali. Pemerintah Irak langsung membantah kabar burung tersebut untuk meredam kepanikan publik yang meluas.
Otoritas Baghdad mengklaim masih mengantongi cadangan devisa 83 miliar dolar AS beserta simpanan emas dan pendapatan non-minyak. Pejabat pemerintah menyatakan cadangan tersebut mampu mengamankan pembayaran gaji pegawai untuk 10 hingga 11 bulan ke depan.
Apakah Krisis Keuangan Ini Akan Mengguncang Stabilitas Politik Irak?
Lembaga riset Oxford Economics memprediksi lalu lintas kapal di Selat Hormuz tidak akan pulih dalam waktu dekat. Aktivitas pelayaran diperkirakan terus berfluktuasi dan berada di bawah standar normal setidaknya hingga tahun 2028.
"Hingga setidaknya tahun 2028, tingkat lalu lintas diperkirakan akan berfluktuasi seiring naik turunnya ketegangan, sementara secara rata-rata tetap berada jauh di bawah norma sebelum konflik," kata Ben May, direktur riset makro global dalam sebuah pernyataan.
Ekonom Irak Ali Al-Rawi menilai krisis saat ini telah menjalar jauh melampaui sektor energi primer. "Keseluruhan ekonomi Irak kini menjadi sandera dari... pendapatan minyak," argumen ekonom Irak Ali Al-Rawi dalam laporan bulan Agustus untuk lembaga pemikir yang berbasis di Baghdad, Al Bayan Center.
Peneliti Chatham House Hayder al-Shakeri menilai keterlambatan gaji belum akan memicu gelombang protes besar secara instan. Pemerintah dianggap telah menyiapkan seperangkat mekanisme politik dan keamanan untuk membatasi eskalasi unjuk rasa sektoral.
"Jika penundaan gaji berlanjut, saya memperkirakan akan ada lebih banyak protes, tetapi awalnya kemungkinan tetap bersifat sektoral daripada berkembang menjadi gerakan nasional seperti Tishreen," kata al-Shakeri, merujuk pada protes anti-pemerintah skala besar yang dipimpin pemuda antara tahun 2019 dan 2021.
"Pemerintah telah belajar dari tahun 2019 dan kini memiliki berbagai mekanisme politik, administratif, dan keamanan untuk menampung protes sebelum meluas."
Bagaimana Langkah Darurat Irak dan Risiko Terhadap Reformasi?
Kondisi politik dapat memburuk jika krisis gaji berbarengan dengan pemadaman listrik, inflasi, serta penurunan kualitas layanan publik. Penggabungan masalah-masalah sosial tersebut berpotensi menguji kembali stabilitas keamanan yang baru saja terbangun di Irak.
"Jika penundaan gaji digabungkan dengan pemadaman listrik, inflasi, dan memburuknya layanan selama periode yang berkelanjutan, protes terpisah ini bisa mulai terhubung," prediksi al-Shakeri. "Pada titik itu, stabilitas Irak baru-baru ini akan menghadapi ujian yang jauh lebih serius."
Pemerintah Irak berupaya mengalihkan ekspor minyak melalui jalur pipa Turki, truk ke pelabuhan Suriah, dan mengaktifkan pipa Irak-Lebanon. Perdana Menteri Ali al-Zaidi bahkan telah meminta kelonggaran khusus kepada pejabat Iran saat berkunjung ke Teheran akhir Juli.
Konsultan ekonomi Iraqi Horizons mencatat belanja operasional pemerintah merosot seperempat pada Mei dibanding tahun sebelumnya. Sebanyak 99 persen dari belanja operasional tersebut tersedot habis hanya untuk membayar gaji, pensiun, dan jaminan sosial.
"Krisis fiskal telah mendorong pemerintah Irak menuju reformasi sebelumnya," saran al-Shakeri dari Chatham House.
"Ketika pendapatan minyak turun, pemerintah menjadi lebih bersedia untuk membahas pemberantasan korupsi, meningkatkan pendapatan non-minyak, dan mendukung sektor swasta. Namun begitu uang minyak mulai mengalir lagi, insentif politik untuk reformasi melemah."
Krisis saat ini membuka peluang reformasi ekonomi, namun keberlanjutannya bergantung pada komitmen politik setelah tekanan mereda.
"Krisis saat ini dapat membuka ruang untuk reformasi di Irak," simpul al-Shakeri.
"Tetapi apakah ruang tersebut bertahan setelah tekanan langsung mereda adalah pertanyaan sebenarnya."
Secara latar belakang, krisis keuangan Irak berakar dari aksi penutupan Selat Hormuz oleh Iran usai pengeboman dari Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Penutupan jalur laut strategis tersebut memutus aliran ekspor minyak yang menjadi sumber pendanaan utama gaji pegawai negeri Irak.