Analisa: Kenapa Iran Rugi Besar karena Arab Saudi Diserang PMF Irak dan Houthi Yaman?

Pebriansyah Ariefana

Rabu, 29 Juli 2026 | 16:30 WIB
Analisa: Kenapa Iran Rugi Besar karena Arab Saudi Diserang PMF Irak dan Houthi Yaman?
Serangan udara gabungan militer Arab Saudi dan Amerika Serikat menewaskan 8 anggota Popular Mobilisation Forces (PMF) serta melukai 4 orang lainnya di Irak. (Medsos/Aljazeera)
baca 10 detik
  • Serangan milisi pro-Iran ke fasilitas Arab Saudi dinilai sebagai langkah strategis yang keliru.

  • Sekjen GCC mengecam keras agresi milisi Irak karena melanggar kedaulatan wilayah Arab Saudi.

  • Eskalasi serangan berisiko merubah posisi diplomasi Saudi serta mengundang intervensi koalisi militer global.

Suara.com - Aksi kelompok bersenjata yang disokong Iran dalam menargetkan fasilitas penting di Arab Saudi dinilai sebagai langkah politik yang sangat keliru. Keputusan ini berisiko merusak peta diplomasi kawasan sekaligus memicu keterlibatan kekuatan militer internasional yang lebih luas.

Kedua kelompok yang menyerang Arab Saudi itu di antaranya kelompk PMF Irak dan Houthi Yaman.

Sultan Barakat, profesor dari Hamad Bin Khalifa University di Qatar, menilai Tehran sebenarnya sempat berhasil meredam keterlibatan Riyadh pada fase awal konflik. Namun, dinamika tersebut kini berbalik total akibat ulah milisi pro-Iran yang mulai bertindak di luar kendali.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree (Al Jazeera)
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree (Al Jazeera)

Langkah provokatif milisi bersenjata asal Irak dan Yaman ini secara perlahan memaksa pemerintah Arab Saudi untuk mengambil posisi tempur yang lebih tegas. Perubahan sikap Riyadh diprediksi akan mengubah peta koalisi global secara signifikan dalam merespons eskalasi militer di wilayah tersebut.

"Pertama-tama mereka mulai merusak kepentingannya di Laut Merah, dan sekarang kita melihat serangan langsung terhadap instalasi-instalasi Saudi yang datang dari Irak," kata Barakat kepada Al Jazeera, Rabu (29/7/2026).

Ia menambahkan bahwa intervensi langsung terhadap wilayah Saudi akan memicu simpati serta bantuan militer dari berbagai negara sekutu barat. Keputusan Tehran membiarkan serangan ini meluas dianggap meleset dari perhitungan strategis yang semula berfokus pada isu nuklir.

"Bukan hanya karena hal itu mungkin akan memaksa Saudi untuk mengubah posisinya terkait perang tersebut, tetapi juga mungkin akan mengubah koalisi global untuk Presiden Trump, karena jauh lebih banyak negara yang akan datang membantu Arab Saudi, khususnya di Laut Merah, jika persamaannya berubah."

Kritik tajam turut dilayangkan oleh Sekjen Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Mohamed AlBudaiwi, atas gempuran milisi Irak ke wilayah kedaulatan Saudi. Ia menegaskan bahwa aksi kekerasan tersebut merupakan bentuk pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan keamanan regional.

AlBudaiwi menyatakan bahwa seluruh anggota GCC berada di belakang Riyadh dan siap mendukung segala kebijakan pertahanan yang diambil. Solusi diplomatik kini berada di ujung tanduk apabila aksi terorisme udara dan perbatasan terus dibiarkan berlanjut tanpa kendali.

baca juga

"Eskalasi yang berbahaya dan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan kerajaan, serta [merupakan] ancaman langsung terhadap keamanan dan stabilitasnya serta terhadap keamanan dan perdamaian regional."

Ia memeringatkan bahwa gelombang agresi milisi ini berisiko menggagalkan seluruh ikhtiar perdamaian yang sedang dibangun oleh masyarakat internasional. Stabilitas jalur perdagangan internasional di Laut Merah dan Selat Hormuz kini menghadapi ancaman nyata dari tindakan destruktif kelompok tersebut.

"Menekankan bahwa berlanjutnya serangan-serangan teroris ini menimbulkan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan regional, serta merusak upaya-upaya internasional yang bertujuan untuk de-eskalasi dan mengkonsolidasikan keamanan dan stabilitas."

Ketegangan di kawasan Timur Tengah memuncak setelah kelompok milisi bersenjata yang beraliansi dengan Iran memperluas jangkauan serangannya hingga ke infrastruktur Arab Saudi. Padahal, dalam beberapa bulan terakhir, diplomasi antara Tehran dan Riyadh sempat menunjukkan sinyal positif untuk menjaga kestabilan wilayah dari dampak perang.

Namun, pergeseran fokus pertempuran dari program nuklir Iran ke ranah penguasaan jalur maritim vital seperti Selat Hormuz dan Laut Merah menciptakan ancaman baru. Serangan yang diluncurkan dari Irak dan Yaman ini pada akhirnya memicu konsolidasi kekuatan penuh dari negara-negara Teluk untuk melindungi kedaulatan Arab Saudi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kelebihan Rudal QW-12 dan Rudal FN-16 Buatan China yang Dibeli Iran saat Perang dengan Amerika

Kelebihan Rudal QW-12 dan Rudal FN-16 Buatan China yang Dibeli Iran saat Perang dengan Amerika

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 15:24 WIB

Iran Borong 400 Rudal Manpads China Seharga Rp 1,2 Triliun

Iran Borong 400 Rudal Manpads China Seharga Rp 1,2 Triliun

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 14:39 WIB

Arab Saudi - Amerika Bersatu Serang Irak, 8 Milisi Pendukung Iran Tewas Dirudal

Arab Saudi - Amerika Bersatu Serang Irak, 8 Milisi Pendukung Iran Tewas Dirudal

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 13:34 WIB

Terkini

IHSG Merah Pada Senin Lagi, Masih Bergerak di Level 6.500

IHSG Merah Pada Senin Lagi, Masih Bergerak di Level 6.500

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 09:13 WIB

Api Tak Menunggu Kontrak Sewa: Urgensi Pesawat Amfibi bagi Negeri Kepulauan

Api Tak Menunggu Kontrak Sewa: Urgensi Pesawat Amfibi bagi Negeri Kepulauan

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 09:05 WIB

Kesempatan Beli, Harga Emas Antam Lagi Anjlok Jadi Rp2.602.000/Gram

Kesempatan Beli, Harga Emas Antam Lagi Anjlok Jadi Rp2.602.000/Gram

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 09:03 WIB

Terdampak Karhutla, Wisata Gunung Bromo Ditutup Total

Terdampak Karhutla, Wisata Gunung Bromo Ditutup Total

Foto | Senin, 14 September 2026 | 09:00 WIB

Bukan Jaga Malam, Pos Kamling di Kudus Malah Jadi Tempat Judi Dadu Digital

Bukan Jaga Malam, Pos Kamling di Kudus Malah Jadi Tempat Judi Dadu Digital

News | Senin, 14 September 2026 | 08:59 WIB

PTK Perkuat Bisnis Maritim, Jadi Penopang Rantai Logistik Energi

PTK Perkuat Bisnis Maritim, Jadi Penopang Rantai Logistik Energi

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 08:58 WIB

Penampakan SPBU Modular di CPI Makassar, Mulai Beroperasi Hari Ini

Penampakan SPBU Modular di CPI Makassar, Mulai Beroperasi Hari Ini

Sulsel | Senin, 14 September 2026 | 08:49 WIB

Adu Cepat di Kategori Baru 21K, 5.000 Pelari Bersaing di SiBakul Jogja Sport & Fest 2026

Adu Cepat di Kategori Baru 21K, 5.000 Pelari Bersaing di SiBakul Jogja Sport & Fest 2026

Sport | Senin, 14 September 2026 | 08:45 WIB

Minyak Dunia Menggila! Nyaris Tembus US$108 per Barel Usai Arab Saudi Diserang

Minyak Dunia Menggila! Nyaris Tembus US$108 per Barel Usai Arab Saudi Diserang

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 08:43 WIB

Touring Tanpa Pengawalan Bikers HOG Indomobil Buktikan Etika Berkendara di Jalan

Touring Tanpa Pengawalan Bikers HOG Indomobil Buktikan Etika Berkendara di Jalan

Otomotif | Senin, 14 September 2026 | 08:40 WIB

×