-
Serangan milisi pro-Iran ke fasilitas Arab Saudi dinilai sebagai langkah strategis yang keliru.
-
Sekjen GCC mengecam keras agresi milisi Irak karena melanggar kedaulatan wilayah Arab Saudi.
-
Eskalasi serangan berisiko merubah posisi diplomasi Saudi serta mengundang intervensi koalisi militer global.
Suara.com - Aksi kelompok bersenjata yang disokong Iran dalam menargetkan fasilitas penting di Arab Saudi dinilai sebagai langkah politik yang sangat keliru. Keputusan ini berisiko merusak peta diplomasi kawasan sekaligus memicu keterlibatan kekuatan militer internasional yang lebih luas.
Kedua kelompok yang menyerang Arab Saudi itu di antaranya kelompk PMF Irak dan Houthi Yaman.
Sultan Barakat, profesor dari Hamad Bin Khalifa University di Qatar, menilai Tehran sebenarnya sempat berhasil meredam keterlibatan Riyadh pada fase awal konflik. Namun, dinamika tersebut kini berbalik total akibat ulah milisi pro-Iran yang mulai bertindak di luar kendali.

Langkah provokatif milisi bersenjata asal Irak dan Yaman ini secara perlahan memaksa pemerintah Arab Saudi untuk mengambil posisi tempur yang lebih tegas. Perubahan sikap Riyadh diprediksi akan mengubah peta koalisi global secara signifikan dalam merespons eskalasi militer di wilayah tersebut.
"Pertama-tama mereka mulai merusak kepentingannya di Laut Merah, dan sekarang kita melihat serangan langsung terhadap instalasi-instalasi Saudi yang datang dari Irak," kata Barakat kepada Al Jazeera, Rabu (29/7/2026).
Ia menambahkan bahwa intervensi langsung terhadap wilayah Saudi akan memicu simpati serta bantuan militer dari berbagai negara sekutu barat. Keputusan Tehran membiarkan serangan ini meluas dianggap meleset dari perhitungan strategis yang semula berfokus pada isu nuklir.
"Bukan hanya karena hal itu mungkin akan memaksa Saudi untuk mengubah posisinya terkait perang tersebut, tetapi juga mungkin akan mengubah koalisi global untuk Presiden Trump, karena jauh lebih banyak negara yang akan datang membantu Arab Saudi, khususnya di Laut Merah, jika persamaannya berubah."
Kritik tajam turut dilayangkan oleh Sekjen Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Mohamed AlBudaiwi, atas gempuran milisi Irak ke wilayah kedaulatan Saudi. Ia menegaskan bahwa aksi kekerasan tersebut merupakan bentuk pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan keamanan regional.
AlBudaiwi menyatakan bahwa seluruh anggota GCC berada di belakang Riyadh dan siap mendukung segala kebijakan pertahanan yang diambil. Solusi diplomatik kini berada di ujung tanduk apabila aksi terorisme udara dan perbatasan terus dibiarkan berlanjut tanpa kendali.
"Eskalasi yang berbahaya dan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan kerajaan, serta [merupakan] ancaman langsung terhadap keamanan dan stabilitasnya serta terhadap keamanan dan perdamaian regional."
Ia memeringatkan bahwa gelombang agresi milisi ini berisiko menggagalkan seluruh ikhtiar perdamaian yang sedang dibangun oleh masyarakat internasional. Stabilitas jalur perdagangan internasional di Laut Merah dan Selat Hormuz kini menghadapi ancaman nyata dari tindakan destruktif kelompok tersebut.
"Menekankan bahwa berlanjutnya serangan-serangan teroris ini menimbulkan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan regional, serta merusak upaya-upaya internasional yang bertujuan untuk de-eskalasi dan mengkonsolidasikan keamanan dan stabilitas."
Ketegangan di kawasan Timur Tengah memuncak setelah kelompok milisi bersenjata yang beraliansi dengan Iran memperluas jangkauan serangannya hingga ke infrastruktur Arab Saudi. Padahal, dalam beberapa bulan terakhir, diplomasi antara Tehran dan Riyadh sempat menunjukkan sinyal positif untuk menjaga kestabilan wilayah dari dampak perang.
Namun, pergeseran fokus pertempuran dari program nuklir Iran ke ranah penguasaan jalur maritim vital seperti Selat Hormuz dan Laut Merah menciptakan ancaman baru. Serangan yang diluncurkan dari Irak dan Yaman ini pada akhirnya memicu konsolidasi kekuatan penuh dari negara-negara Teluk untuk melindungi kedaulatan Arab Saudi.