Sejumlah fasilitas domestik, menurut IESR, masih berfokus pada perakitan atau pengemasan baterai. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan penguasaan teknologi dan kedalaman rantai pasok di dalam negeri.
Indonesia juga perlu mengantisipasi perubahan teknologi baterai global. Fabby mengatakan industri dunia mulai bergerak dari teknologi nickel manganese cobalt (NMC) menuju lithium iron phosphate (LFP).
Perubahan tersebut perlu diperhitungkan dalam strategi pengembangan industri baterai nasional agar investasi yang masuk tetap kompetitif dan tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi.
Tak cukup hanya menghitung lapangan kerja
IESR menilai keberhasilan hilirisasi tidak semestinya hanya diukur dari jumlah proyek yang dibangun atau lapangan kerja yang tercipta.
"Keberhasilan hilirisasi seharusnya diukur bukan hanya dari jumlah proyek dan tenaga kerja, tetapi juga dari penguasaan teknologi, kedalaman rantai pasok domestik, efisiensi energi, dan kontribusinya terhadap ekonomi rendah karbon serta daya saing industri Indonesia," ujar Fabby.
Dengan demikian, agenda hilirisasi dinilai perlu diarahkan lebih jauh dari sekadar meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri.
Pembangunan industri, menurut IESR, perlu berjalan beriringan dengan transisi energi dan target Indonesia membangun ekonomi rendah karbon.