- BMKG mencabut peringatan dini tsunami di Laut Flores, NTT, setelah tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang membahayakan.
- Gubernur NTT Melki Laka Lena menyatakan korban meninggal dunia akibat gempa bertambah menjadi lima orang.
- Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kepulauan Selayar melaporkan situasi berangsur normal setelah warga sempat mengungsi akibat guncangan kuat.
“Siang nanti kami akan berangkat ke Flores dan sore nanti kami sampaikan update-nya lagi, mulai dari korban jiwa serta kerusakan,” ungkapnya.
Di sisi lain, gempa juga berdampak pada infrastruktur. Sejumlah ruas jalan di Flores dilaporkan putus dan mengalami longsor.

Warga Sempat Mengungsi ke Tempat Tinggi
Guncangan kuat gempa M7,7 turut memicu kepanikan warga di sejumlah wilayah pesisir, termasuk Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Warga sempat bergerak menuju lokasi yang lebih tinggi setelah merasakan guncangan kuat dan melihat perubahan muka air laut secara tiba-tiba.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kepulauan Selayar Achmad Alfianto mengatakan kondisi mulai berangsur normal dan belum ada laporan kerusakan bangunan yang berarti.
"Hingga laporan sementara yang kami terima dari para camat melalui sambungan telepon, belum ada laporan kerusakan bangunan yang berarti di wilayah Selayar," kata Achmad.
Hoaks Gempa Susulan Besar
Pasca-gempa, informasi palsu mengenai prediksi gempa susulan besar pada Sabtu pukul 09.00 WITA juga sempat beredar di media sosial.
BMKG NTT memastikan informasi tersebut merupakan hoaks.
Gempa bumi hingga kini belum dapat diprediksi secara tepat berdasarkan waktu, lokasi, maupun kekuatannya.
Gempa utama M7,7 sebelumnya memicu peringatan dini tsunami. Sejumlah gempa susulan juga tercatat, termasuk dua gempa berkekuatan M6,2 pada pukul 05.13 WIB dan 05.28 WIB.
Guncangan dirasakan di sejumlah wilayah Flores, Sumba, Adonara, Solor, hingga Bima, Nusa Tenggara Barat, serta sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.
Tim gabungan BPBD, Basarnas, TNI, dan Polri dikerahkan untuk mengevakuasi dan menangani warga terdampak.
Meski peringatan tsunami telah dicabut, masyarakat tetap diminta menjauhi bangunan yang retak atau rusak dan mengikuti informasi serta arahan resmi petugas di lapangan.