- Plan Indonesia menyalurkan 250 paket bantuan darurat ke lima kabupaten terdampak gempa Flores NTT pada Sabtu 15 Agustus 2026.
- Sebanyak 16 anggota tim tanggap darurat dikerahkan untuk melakukan kaji cepat kebutuhan kelompok rentan di lokasi pengungsian.
- Bencana gempa bumi tersebut mengakibatkan 51 orang meninggal dunia serta lebih dari 5.900 warga harus mengungsi.
Suara.com - Plan Indonesia bergerak cepat membantu penyintas gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026).
Selain melakukan kaji cepat kebutuhan atau Rapid Needs Assessment (RNA), Plan Indonesia telah menyalurkan lebih dari 250 paket bantuan darurat ke lima titik pengungsian yang tersebar di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, dan Sikka.
Bantuan tersebut terdiri atas paket kebersihan keluarga, perlengkapan kebersihan menstruasi bagi remaja perempuan dan perempuan, perlengkapan hunian sementara, alat permainan edukatif (APE), air minum kemasan, serta makanan ringan.
Bantuan awal ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar penyintas sekaligus memastikan kebutuhan khusus anak-anak dan perempuan tetap diperhatikan selama berada di pengungsian.
“Dalam situasi darurat, kebutuhan dasar seperti air minum, kebersihan, tempat untuk beristirahat, dan makanan memang menjadi prioritas. Namun, kita juga perlu memastikan anak-anak tetap memiliki ruang untuk bermain dan merasa aman, sementara remaja perempuan dan perempuan tetap dapat memenuhi kebutuhan kebersihan menstruasi mereka dengan layak dan bermartabat,” kata Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti.

Kerahkan Tim Tanggap Darurat
Untuk memperkuat respons awal, Plan Indonesia mengerahkan 16 anggota tim tanggap darurat bencana untuk melakukan kaji cepat kebutuhan di lima kabupaten terdampak.
Kaji cepat dilakukan untuk mengetahui kebutuhan paling mendesak di lapangan, dengan memberikan perhatian khusus kepada anak-anak, terutama anak dan remaja perempuan, perempuan, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya.
“Setiap wilayah terdampak memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, tim kami turun langsung untuk memahami kebutuhan masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan. Hasil kaji cepat ini akan menjadi dasar bagi kami untuk menentukan dukungan lanjutan yang paling relevan dan tepat sasaran,” ujar Dini.
Menurut Dini, kondisi anak-anak, khususnya anak perempuan, perlu menjadi perhatian dalam setiap pengambilan keputusan selama masa tanggap darurat.
Bencana tidak hanya berdampak pada rumah dan infrastruktur. Anak-anak juga berpotensi kehilangan rasa aman, terputus dari aktivitas sekolah, kehilangan rutinitas, hingga mengalami tekanan psikologis.
Sementara anak perempuan menghadapi risiko tambahan, seperti keterbatasan akses terhadap sanitasi dan kebutuhan menstruasi, hilangnya ruang aman, serta risiko kekerasan.
Karena itu, Plan Indonesia menilai kebutuhan, suara, dan hak anak perlu diperhatikan sejak masa tanggap darurat hingga proses pemulihan.
Ribuan Warga Masih Mengungsi
Berdasarkan data BNPB per 16 Agustus 2026 pukul 13.00 WIB, gempa yang berpusat di Laut Flores tersebut telah memicu 341 kali gempa susulan.
BNPB mencatat 51 orang meninggal dunia dan 101 orang mengalami luka-luka. Lebih dari 5.900 orang masih berada di lokasi pengungsian, terutama di Kabupaten Sikka, Manggarai, dan Nagekeo.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada sedikitnya 914 rumah, 93 fasilitas pendidikan, dan 36 fasilitas kesehatan.
Plan Indonesia mengajak masyarakat turut mendukung pemulihan anak-anak dan keluarga terdampak melalui laman donasi https://bit.ly/respongempa-ntt.
Dukungan masyarakat diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan mendesak penyintas sekaligus memastikan kebutuhan spesifik anak-anak dan anak perempuan tetap menjadi bagian dari respons kemanusiaan.