- Ketua IKAMA H. Muhammad Rawi menyatakan warung Madura bertahan di Jakarta karena beroperasi 24 jam dan berfungsi ganda.
- Pada tahun 1998, komunitas Madura mengerahkan 16 ribu massa untuk membantu membersihkan serta mengamankan ibu kota Jakarta.
- Rawi berharap aparat bersinergi satu pintu agar tidak ada pihak menyalahgunakan nama komunitas Madura untuk tindakan anarkis.
Suara.com - Eksistensi warung Madura di Jakarta memunculkan cerita tersendiri di balik dinamika kehidupan sosial ibu kota.
Di sela kegiatannya di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (19/8/2026), Ketua Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) H. Muhammad Rawi membuka kisah tentang perjalanan panjang warung Madura menembus zaman.
Di tengah gempuran minimarket dan gerai modern yang kian menjamur, warung-warung kecil mereka tetap kokoh berdiri di berbagai sudut ibu kota.
Rawi pun mengungkap kunci di balik ketahanan usaha rakyat tersebut.
"Kenapa warung Madura itu sampai hari ini bertahan, karena kami memanfaatkan waktu ketika warung yang besar tutup, kami multifungsi," ujarnya.
Rawi menuturkan, warung-warung Madura memiliki dua peran sekaligus yang berjalan beriringan.
"Fungsi pertama mencari makan, fungsi yang kedua menjadi kepanjangan tangan aparat penegak hukum di sekitarnya. Insyaallah, selama 24 jam memang kami bergantian di situ," katanya.
Cerita pun berlanjut ke masa lalu saat Rawi mengenang kontribusi besar komunitas Madura bagi Jakarta lebih dari dua dekade silam.
![Ketua Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) H. Muhammad Rawi di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (19/8/2026). [Suara.com/Adiyoga]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/08/19/27821-ketua-ikatan-keluarga-madura-ikama-h-muhammad-rawi.jpg)
"Di Jakarta tentu, warung Madura termasuk, mohon maaf, tahun 98 kami 16 ribu mengerahkan massa untuk membersihkan ibu kota Jakarta. Ini penting saya sampaikan, kami spontanitas tidak ada dikondisikan, tapi tentu kami kerja sama dengan Kapolda waktu itu," ungkapnya.
Kenangan itu, menurut Rawi, menjadi bukti nyata kedekatan komunitasnya dengan aparat dalam menjaga kondusivitas Jakarta.
Ia pun menegaskan sikap organisasi masyarakat Madura yang senantiasa berjalan seiring dengan pemerintah dalam urusan keamanan dan kebersihan kota.
"Jadi jika bicara keamanan, kebersihan, Insyaallah bersama-sama pemerintah tentu kami di bawah bimbingan beliau. Kami tidak anarkis soal demo-demo, saya pastikan di bawah naungan IKAMA bisa dipastikan sulit diajak, walaupun ada Madura ada berapa ormas yang lain," tuturnya.
Namun, di balik kebanggaan itu, Rawi menyimpan satu kegelisahan yang ingin ia sampaikan kepada publik.
Ia berharap ke depan tak ada lagi pihak yang menyalahgunakan nama besar komunitas Madura untuk kepentingan yang menyimpang.
"Harapan saya nanti, kalau ada mengatasnamakan ormas Madura, saya ingin bersinergi dengan aparat supaya satu pintu. Jangan sampai mengatasnamakan suku-suku, tapi ada yang anarkisme," pungkasnya.