-
Ribuan warga London menggelar aksi duka atas meninggalnya Profesor Cambridge Jason Arday.
-
Publik dan tokoh mengkritik keras kecenderungan rasisme pemberitaan media yang menekan mental korban.
-
Petisi berisi tuntutan penyelidikan etika media kini telah mengumpulkan puluhan ribu dukungan.
Suara.com - Puluhan ribu warga London memenuhi Trafalgar Square untuk menggelar aksi solidaritas dan penghormatan terakhir bagi Jason Arday, Selasa kemarin. Gelombang massa menuding intrik pemberitaan media rasis dan tidak proporsional menjadi pemicu utama kepergian mantan akademisi Universitas Cambridge tersebut.
Akademisi berusia 41 tahun yang mengukir sejarah sebagai profesor kulit hitam termuda di Cambridge itu ditemukan tidak bernyawa di kediamannya di London selatan. Publik meyakini tekanan mental mendalam akibat liputan pers secara agresif telah merenggut nyawanya.
Meninggalnya pakar sosiologi pengidap autisme ini menyulut kemarahan luas terhadap ketimpangan standar pers dalam memperlakukan akademisi kulit hitam. Para pelayat membawa berbagai spanduk bertuliskan tuduhan bahwa kecenderungan rasisme di media arus utama bertanggung jawab penuh atas tragedi ini.

Paul Vincent, seorang pekerja sosial yang hadir di lokasi, menggambarkan suasana duka tersebut.
"Diri saya dan banyak orang lain merasa sangat terdorong untuk berada di sini untuk menunjukkan rasa hormat kepada Profesor Arday dan keluarganya," kata Paul Vincent, seorang pekerja sosial.
"Tetapi juga untuk datang bersama dalam rasa solidaritas, untuk mengatakan bahwa kami sangat terganggu. Sesuatu yang gelap telah terjadi yang membuat kami tidak bahagia."
Vincent menilai isu yang menimpa mendiang telah dipolitisasi secara tidak adil oleh kelompok tertentu.
"Sayangnya, isu-isu yang terikat pada tragedi ini adalah isu-isu yang gurih, jika tidak ada istilah yang lebih baik, bagi kelompok kanan dan kanan jauh. Itu memenuhi semua kotak mereka."

Mengapa Kematian Jason Arday Memicu Kemarahan Publik?
Gelombang tuduhan berawal dari dugaan plagiarisme tesis doktoral tahun 2015 serta klaim penyampaian latar belakang pribadi Arday. Akademisi tersebut memutuskan mundur dari posisinya di Cambridge pada 5 Agustus setelah merasa tertekan secara fisik dan mental.
Pihak Liverpool John Moores University sebenarnya telah menyatakan Arday bersih dari tuduhan plagiarisme. Namun, Universitas Cambridge justru membuka peninjauan ulang atas proses pengangkatannya setelah sebelumnya sempat membela sang profesor dari kampanye keji.
Dua minggu setelah pengunduran dirinya, Arday ditemukan meninggal dunia di rumahnya. Kepolisian Metropolitan mengategorikan kematian tersebut sebagai kejadian yang tidak terduga, tetapi tidak mengindikasikan adanya tindak pidana.
Lord Smith of Finsbury selaku Chancellor Cambridge mengutuk keras tekanan pers yang menerpa mantan pengajarnya.
Sementara itu, organisasi Good Law Project menggalang petisi yang menuntut penyelidikan publik terhadap etika liputan media. Lebih dari 96.000 orang telah menandatangani petisi yang menegaskan adanya diskriminasi warna kulit dalam insiden penyerangan karakter ini.
Petisi tersebut menyoroti ketimpangan perlakuan media terhadap akademisi kulit putih yang menghadapi kasus serupa. Tokoh seperti George Holmes dan William O'Reilly disebut mendapatkan ruang pemberitaan yang jauh lebih tenang dibanding Arday.