-
NOAA memprediksi 69 persen peluang terjadinya El Nino terkuat dalam sejarah hingga tahun 2027.
-
Fenomena ini memicu kekeringan parah di Indonesia serta potensi banjir besar di benua Amerika.
-
Pemanasan global memperkuat intensitas El Nino, namun kesiapsiagaan mitigasi dunia kini jauh lebih baik.
Kondisi kekeringan ekstrim serta ancaman kebakaran hutan berpotensi menghantam wilayah Indonesia dan kawasan Amazon bawah. Sebaliknya, wilayah Afrika Timur dan Argentina diproyeksikan menerima curah hujan berlimpah yang menguntungkan sektor pertanian.
Kawasan Pantai Barat Amerika Serikat seperti California berisiko diterjang rekor curah hujan yang sangat tinggi. Kendati demikian, NOAA menggarisbawahi bahwa dampak cuaca di tiap kawasan masih memiliki tingkat ketidakpastian.
Bagaimana Perubahan Iklim Mempengaruhi Fenomena Ini?
“Tingkat curah hujan yang tinggi di wilayah Pasifik timur khatulistiwa,” tutur Roundy terkait pemicu utama sirkulasi iklim global tersebut.
Pemanasan global akibat aktivitas manusia turut memperkuat pasokan air hangat yang memicu fenomena El Nino. Namun, pemanasan yang merata di seluruh samudera juga mereduksi kontras suhu antilintang secara bersamaan.
“Perubahan iklim telah menghangatkan air sumber di Pasifik barat, sehingga memungkinkan peristiwa tersebut menjadi sedikit lebih kuat,” tegas Roundy.
Perubahan iklim bekerja dua arah dengan memperkuat sumber panas sekaligus mengurangi intensitas disparitas suhu antarwilayah. Kondisi ini memaksa para pakar oseanografi menggunakan indeks relatif baru untuk mengukur dampaknya.
"Perubahan iklim kemungkinan bekerja dalam dua arah: memperparah dampak dengan meningkatkan suhu air sumber El Niño, namun juga mengurangi dampak dengan memperkecil perbedaan suhu," paparnya.
Suhu samudera Pasifik tropis tercatat naik secara drastis sejak pertengahan tahun ini akibat hembusan angin barat. Pelemahan proses upwelling air dingin kaya nutrisi kini mengancam kelangsungan fitoplankton serta ekosistem perikanan dunia.
“Namun, peristiwa tersebut tetaplah masif, bahkan dalam indeks-indeks itu,” tegas Roundy.
Meski ancaman bencana sangat nyata, kesiapsiagaan infrastruktur dan mitigasi bencana global saat ini dinilai jauh lebih baik. Ketersediaan pemodelan data yang presisi memberi ruang bagi setiap negara untuk mengantisipasi krisis pangan dan energi lebih awal.
"Dunia kini lebih siap menghadapi dampak peristiwa El Niño ekstrem dibandingkan masa lalu," pungkas Roundy.