-
Iran mengubah doktrin militer dari aksi balasan menjadi serangan ofensif guna memecah kebuntuan diplomasi.
-
Penguasaan Selat Hormuz dimanfaatkan Teheran untuk menekan harga energi dan memaksa Amerika Serikat bernegosiasi.
-
Pergeseran strategi ini berisiko mempercepat eskalasi konflik serta memperburuk stabilitas keamanan regional Timur Tengah.
Suara.com - Iran secara resmi mengalihkan doktrin militernya dari aksi balasan menjadi operasi serangan terbuka untuk memecahkan kebuntuan diplomasi dengan Amerika Serikat. Langkah strategis ini diambil setelah enam bulan konflik bersenjata yang melumpuhkan sebagian jalur perdagangan energi global.
Penguasaan penuh atas Selat Hormuz kini dijadikan alat tawar utama Teheran untuk menekan Washington agar mau menerima syarat-syarat negosiasi baru. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bahkan telah merombak jajaran pimpinan militer untuk memperkuat daya tangkal dan menyiapkan serangan berskala besar.
Pendekatan baru ini menandai babak baru eskalasi di Timur Tengah yang berisiko memicu bentrokan lebih tajam. Pihak Iran menilai kepemimpinan militer Amerika Serikat tidak lagi memiliki dominasi mutlak dalam mengendalikan intensitas konflik di kawasan tersebut.
![Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran dan Amerika Serikat saling menuduh melanggar kesepakatan gencatan senjata. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/28/71017-rudal-iran.jpg)
Perubahan pimpinan militer Iran berfokus pada memperkuat daya tangkal maksimal dan bersiap melaksanakan operasi ofensif berskala besar terhadap musuh. Kebijakan tersebut disampaikan langsung oleh Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei saat mengumumkan konsolidasi komando pasukan bulan ini.
Sejalan dengan arahan tersebut, wakil komandan Garda Revolusi Iran mengonfirmasi bahwa penyesuaian doktrin militer kini menempatkan operasi ofensif sebagai prioritas strategis utama.
Analis dari Center for International Policy, Sina Toossi, menilai perubahan arah kebijakan militer Teheran bukan berarti Iran mengadopsi doktrin perang pencegahan.
Menurut Toossi, Teheran menyimpulkan bahwa jika konfrontasi menjadi tak terhindarkan, Iran harus meningkatkan eskalasi lebih awal dan lebih keras daripada menunggu Amerika Serikat atau Israel untuk menentukan syarat-syarat konflik.
Sementara itu, pakar hubungan internasional asal Teheran, Ahmad Zeidabadi, berpendapat bahwa pergeseran strategi ini lahir dari penilaian Iran terhadap niat hakiki Washington.
"Republik Islam meyakini bahwa Amerika Serikat kemungkinan besar telah mengesampingkan opsi perang dan kini berupaya melanggengkan status quo, termasuk blokade angkatan laut AS dan tekanan ekonomi," ujar Zeidabadi kepada AFP.
Upaya diplomatik kedua negara terhenti total sejak kesepakatan gencatan senjata 17 Juni lalu runtuh akibat sanksi minyak dan blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat.
"Masyarakat Iran meyakini bahwa diplomasi pasti akan gagal dalam situasi saat ini dan bahwa pihak Amerika tidak akan menerima syarat-syarat mereka."
"Akibatnya, mereka mungkin merasa terdorong untuk mengambil tindakan ofensif guna memaksa AS menerima syarat-syarat Iran... dan memulai babak baru perundingan," lanjut Zeidabadi.
Meski sempat mengalami kerugian besar di awal perang—termasuk gugurnya Ayatullah Ali Khamenei dan kehancuran ekonomi—sistem politik Iran terbukti tetap bertahan utuh.
Kini konflik meluas ke Laut Merah dan melibatkan bentrokan sekutu Iran di Yaman, sementara Selat Hormuz diperketat dengan aturan izin transit dan tarif berlayar dari Teheran.
"Tehran increasingly believes that American military superiority does not give Washington escalation dominance," kata Toossi.
Pemerintah Amerika Serikat menjadikan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai prioritas utama demi menjaga stabilitas harga energi domestik.
Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa pencapaian nomor satu adalah menjaga harga energi tetap rendah bagi warga Amerika, sementara mencegah Teheran memiliki senjata nuklir berada di urutan kedua.
Meskipun kesepakatan damai sebelumnya runtuh akibat perselisihan pengelolaan selat, pejabat Iran tetap mengklaim hasil politik tersebut sebagai sebuah kemenangan.
Kemenangan itu ditegaskan oleh juru bicara sekaligus negosiasi senior Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam pidatonya pekan lalu.
“Saya dapat menyatakan dengan keyakinan bahwa kita telah memenangkan perang ini dalam arti sebenarnya, baik secara militer maupun politik,” kata Ghalibaf sambil menyebut kesepakatan itu sebagai sumber kebanggaan dan kemenangan.
Serangan Iran terhadap pangkalan udara AS di Yordania pada akhir Juli lalu menjadi bukti nyata penerapan doktrin ofensif pra-efektif tersebut.
Mantan jenderal Garda Revolusi, Hossein Kanani-Moghadam, menjelaskan bahwa taktik ofensif baru Iran tidak hanya terbatas pada serangan fisik konvensional.
"Operasi semacam itu dapat mencakup kombinasi perang siber, perang psikologis, operasi intelijen, dan perang ekonomi," ungkap Kanani-Moghadam.
Namun, penerapan doktrin agresif ini membawa risiko kehancuran yang sangat tinggi bagi seluruh wilayah kawasan.
Ia menggambarkan situasi ini sebagai jebakan saling tangkal yang sangat rentan memicu pertempuran yang tidak disengaja.
gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari yang memicu perang terbuka selama enam bulan. Awalnya Iran bertindak secara defensif melalui aksi balasan, namun akibat pengetatan sanksi ekonomi serta blokade maritim di Selat Hormuz, Teheran memutus opsi bertahan dan beralih ke strategi serangan aktif.