Indonesia Tak Baik-baik Saja, Guru Besar UGM Soroti Ketimpangan dan Dominasi Oligarki

Bella, Hiskia Andika Weadcaksana

Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:26 WIB
Indonesia Tak Baik-baik Saja, Guru Besar UGM Soroti Ketimpangan dan Dominasi Oligarki
Guru Besar Tata Negara Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar di Masjid Kampus UGM, Kamis (20/8/2026).[Suara.com/Hiskia]
baca 10 detik
  • Guru Besar UGM Zainal Arifin Mochtar menyatakan Indonesia menghadapi masalah struktural serius terkait makna substansial kemerdekaan.
  • Dalam kajian di Masjid Kampus UGM pada Kamis (20/8/2026), Zainal menilai kebijakan negara berpotensi melanggengkan ketimpangan dan menguntungkan oligarki.
  • Dampak dari dominasi oligarki tersebut menciptakan ketimpangan kesempatan akses pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Suara.com - Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menilai Indonesia memang mengalami kemajuan setelah 81 tahun merdeka. Namun, bukan berarti kondisi bangsa saat ini sudah baik-baik saja.

Kritik tersebut seolah diamini oleh Guru Besar Tata Negara Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar. Ia menilai masih ada berbagai persoalan mendasar dalam pemenuhan makna kemerdekaan bagi rakyat Indonesia.

Uceng, sapaan akrabnya, melihat persoalan di Indonesia bukan sekadar masalah ekonomi atau angka kemiskinan, melainkan menyangkut makna kemerdekaan secara substantif.

Menurut dia, negara seharusnya membuat warga mampu menentukan nasibnya sendiri dan menikmati pendidikan, pekerjaan layak, kesehatan, hingga tempat tinggal.

"Kok bisa kita merdeka, tapi masih banyak kondisi yang membuat kita seakan-akan tidak merdeka?" kata Uceng saat kajian di Masjid Kampus UGM, Kamis (20/8/2026).

Diungkapkan Uceng, persoalan itu terlihat ketika negara menggunakan kekuasaan untuk menghadapi masyarakat yang berseberangan dengan kebijakan pemerintah.

Ia mencontohkan konflik Rempang, Kendeng, Wadas, serta sejumlah proyek strategis nasional sebagai gambaran paradoks ketika negara yang seharusnya melindungi rakyat justru dapat mereduksi hak warga atas nama pembangunan.

"Ketimpangan itu bukan problem personal. Ketimpangan itu lahir dari problem struktural, karena negara membuat kebijakan yang melanggengkan mereka menjadi orang miskin sehingga menjadi timpang," ungkapnya.

Warga Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau menjadi korban intimidasi dan kekerasan yang dilakukan oleh belasan orang berpakaian preman di Kampung Sembulang Hulu, Pulau Rempang, pada Rabu (18/9/2024). [tangkapanvideo]
Warga Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau menjadi korban intimidasi dan kekerasan yang dilakukan oleh belasan orang berpakaian preman di Kampung Sembulang Hulu, Pulau Rempang, pada Rabu (18/9/2024). [tangkapanvideo]

Uceng kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan ketimpangan yang menurutnya jauh lebih serius daripada sekadar persoalan kemiskinan.

baca juga

Ketika kemiskinan dapat memiliki faktor personal, sedangkan ketimpangan muncul karena struktur ekonomi, hukum, masyarakat, dan kebijakan negara yang membuat sebagian kelompok memiliki akses jauh lebih besar dibandingkan kelompok lainnya.

Persoalan itu, kata dia, kemudian menjalar ke akses terhadap kekuasaan. Biaya politik yang tinggi membuat kesempatan masuk ke dalam politik menjadi semakin sulit bagi masyarakat biasa.

Akhirnya, jalan itu lebih terbuka bagi mereka yang memiliki kekayaan atau koneksi dengan kelompok pemilik modal. Ketika kekayaan dapat dikonversikan menjadi kekuasaan, muncul risiko kekuasaan tersebut kembali digunakan untuk mempertahankan kekayaan.

Ia menyebut kondisi itu sebagai pola yang membuat kebijakan negara berpotensi lebih ramah terhadap kepentingan oligarki daripada kepentingan publik.

"Makanya hanya orang kaya atau orang yang bisa bergaul dengan oligarki yang bisa masuk sebagai pemilik kekuasaan. Dan itu sebabnya pemilik kekuasaan sangat ramah pada oligarki, sangat ramah," ujarnya.

"Apa yang saya mau bilang, yang terjadi adalah republik ini sudah berubah menjadi republik oligarki," imbuhnya.

Dampaknya tidak berhenti pada perbedaan jumlah kekayaan. Menurut Uceng, ketimpangan juga menciptakan ketimpangan kesempatan. Pasalnya, kelompok kaya memiliki akses lebih baik terhadap pendidikan, kesehatan, modal, tempat tinggal, dan jaring pengaman ketika menghadapi kegagalan.

"Omong kosong kalau ada yang namanya kita merdeka, semua kesempatan itu adalah start-nya sama. Tidak sama," tandasnya.

Ia turut mengkritik cara negara memaknai kemerdekaan yang terlalu sering ditampilkan dalam bentuk seremoni, kemegahan, dan gegap gempita.

Padahal, bagi masyarakat, kemerdekaan seharusnya terasa dalam kehidupan sehari-hari melalui akses terhadap kebutuhan dasar dan kesempatan yang setara.

Ia menilai persoalan tersebut pada akhirnya kembali kepada amanat konstitusi. Pasal 33 UUD 1945, kata Uceng, telah menegaskan bahwa perekonomian dan kekayaan alam harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Namun, sayangnya, praktik di lapangan masih menunjukkan adanya kelompok tertentu yang memiliki akses jauh lebih besar terhadap sumber daya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

81 Tahun Merdeka: Memaknai Ulang Ikigai di Tengah Realitas Anak Muda Indonesia

81 Tahun Merdeka: Memaknai Ulang Ikigai di Tengah Realitas Anak Muda Indonesia

Your Say | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:20 WIB

Pakar: Desil DTSEN Tak Bisa Jadi Vonis Tunggal Penerima Subsidi

Pakar: Desil DTSEN Tak Bisa Jadi Vonis Tunggal Penerima Subsidi

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:31 WIB

Wacana Pengadilan Ad Hoc BUMN: Solusi Bersih-bersih atau Potensi Tumpang Tindih?

Wacana Pengadilan Ad Hoc BUMN: Solusi Bersih-bersih atau Potensi Tumpang Tindih?

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:50 WIB

Krisis Pakan Ternak Tiap Kemarau, Negara Diminta Tak Lepas Tangan Soal Infrastruktur Air

Krisis Pakan Ternak Tiap Kemarau, Negara Diminta Tak Lepas Tangan Soal Infrastruktur Air

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 20:14 WIB

Wacana Amnesti Koruptor BUMN Sesat Berbahaya, Berpotensi Bikin Korupsi Makin Subur

Wacana Amnesti Koruptor BUMN Sesat Berbahaya, Berpotensi Bikin Korupsi Makin Subur

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 15:18 WIB

Festival Momaya 2026 Tandai Berakhirnya Pengabdian KKN-PPM UGM di Kecamatan Biluhu

Festival Momaya 2026 Tandai Berakhirnya Pengabdian KKN-PPM UGM di Kecamatan Biluhu

Your Say | Rabu, 19 Agustus 2026 | 15:14 WIB

Tim Dokter UGM Berangkat ke NTT, Fokus Petakan Kebutuhan Medis Korban Gempa

Tim Dokter UGM Berangkat ke NTT, Fokus Petakan Kebutuhan Medis Korban Gempa

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:43 WIB

URI Bukan Solusi! Pengangguran Terdidik Terjadi karena Sarjana Tak Punya Skill

URI Bukan Solusi! Pengangguran Terdidik Terjadi karena Sarjana Tak Punya Skill

News | Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:30 WIB

Gejolak Aceh-Papua Dinilai Bukan Kebetulan, Negara Disebut Gagal Pahami Akar Masalah

Gejolak Aceh-Papua Dinilai Bukan Kebetulan, Negara Disebut Gagal Pahami Akar Masalah

News | Selasa, 18 Agustus 2026 | 15:42 WIB

Merah Putih Berkibar di 4 Negara, WNI Ikut Doakan Korban Gempa NTT

Merah Putih Berkibar di 4 Negara, WNI Ikut Doakan Korban Gempa NTT

Your Say | Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:35 WIB

Terkini

Viva Perfect Matte vs Perfect Shine Lip Color, Mana yang Tahan Lama?

Viva Perfect Matte vs Perfect Shine Lip Color, Mana yang Tahan Lama?

Lifestyle | Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:45 WIB

Desain Estetik tapi Bikin Gerah, Pramono Janji Benahi Halte Rasuna Said

Desain Estetik tapi Bikin Gerah, Pramono Janji Benahi Halte Rasuna Said

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:41 WIB

InJourney Semarakkan ASTINDO Travel Fair 2026 dengan Deretan Promo Eksklusif

InJourney Semarakkan ASTINDO Travel Fair 2026 dengan Deretan Promo Eksklusif

Lifestyle | Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:35 WIB

Warna Earth Tone untuk Rumah Bawa Keberuntungan, Ini Cara Menerapkannya sesuai Feng Shui

Warna Earth Tone untuk Rumah Bawa Keberuntungan, Ini Cara Menerapkannya sesuai Feng Shui

Lifestyle | Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:35 WIB

Review Film A New Dawn: Potret Puitis Perubahan Zaman dan Kenangan Manusia

Review Film A New Dawn: Potret Puitis Perubahan Zaman dan Kenangan Manusia

Your Say | Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:30 WIB

Indonesia Tak Baik-baik Saja, Guru Besar UGM Soroti Ketimpangan dan Dominasi Oligarki

Indonesia Tak Baik-baik Saja, Guru Besar UGM Soroti Ketimpangan dan Dominasi Oligarki

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:26 WIB

Nonton Film di Rumah Makin Sinematik, Teknologi LG Tampilkan Gambar Sesuai Visi Kreator

Nonton Film di Rumah Makin Sinematik, Teknologi LG Tampilkan Gambar Sesuai Visi Kreator

Tekno | Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:26 WIB

42 Amplop Muncul Saat Pencairan Dana BOS di Lubuk Linggau, 3 Pegawai Dibebastugaskan

42 Amplop Muncul Saat Pencairan Dana BOS di Lubuk Linggau, 3 Pegawai Dibebastugaskan

Sumsel | Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:22 WIB

Jelang Muktamar Ke-35, KH Miftachul Ahyar Tinjau Kesiapan di Tambakberas

Jelang Muktamar Ke-35, KH Miftachul Ahyar Tinjau Kesiapan di Tambakberas

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:20 WIB

Bagaimana Cara Kerja Magnet dan Sifat-sifatnya? Ini Penjelasannya

Bagaimana Cara Kerja Magnet dan Sifat-sifatnya? Ini Penjelasannya

Tekno | Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:20 WIB

×