- Plt Kapusdatin BNPB Berton Pandjaitan meminta Malaysia dan Singapura tidak saling menyalahkan terkait dampak asap kebakaran hutan pada hari Minggu.
- Indonesia telah mengerahkan sumber daya besar seperti 52 pesawat dan personel gabungan untuk mengendalikan karhutla secara optimal di berbagai wilayah.
- Pemerintah menegaskan pengendalian api di sumbernya serta analisis meteorologi dilakukan untuk menekan potensi dampak asap lintas batas negara.
Suara.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta Malaysia dan Singapura tidak saling menyalahkan terkait dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Kalimantan.
Plt Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BNPB Berton Pandjaitan mengatakan kebakaran hutan dan lahan tidak mengenal batas administrasi maupun batas negara. Karena itu, penanganan karhutla harus dilakukan secara bersama-sama, termasuk dalam mengantisipasi dampak asap lintas batas.
"Jadi pendekatan kita bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana masing-masing negara melakukan upaya maksimal di wilayahnya dan bersama-sama mengurangi dampak asap lintas batas," kata Berton dikutip dari keterangan tertulis, Minggu.
Berton mengatakan pemerintah Indonesia memahami kekhawatiran negara-negara tetangga terhadap potensi asap lintas batas. Namun, ia menegaskan Indonesia telah mengerahkan sumber daya besar untuk mengendalikan karhutla.
"Yang perlu kami sampaikan, Indonesia saat ini sudah melakukan upaya secara optimal dan mengerahkan sumber daya yang sangat besar untuk mengendalikan karhutla," lanjutnya.
Upaya tersebut dilakukan melalui pemadaman darat, patroli, pemadaman udara, water bombing, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta penguatan personel TNI-Polri bersama pemerintah daerah dan masyarakat.
Pemerintah juga melakukan penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran hutan dan lahan.
Menurut Berton, sebanyak 52 pesawat telah dikerahkan untuk operasi penanganan karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 30 pesawat ditempatkan di wilayah Kalimantan, sementara 22 pesawat lainnya beroperasi di Sumatra.
Kekuatan TNI Angkatan Udara juga ditambah untuk memperkuat operasi penanganan karhutla di Kalimantan.
"Jadi fokus kita saat ini adalah mengendalikan api sedekat mungkin dari sumbernya dan secepat mungkin, karena apabila sumber kebakaran dapat dikendalikan, maka produksi asap dan potensi dampak lintas batas juga dapat kita tekan," ucap Berton.
Ia menambahkan, pergerakan asap tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan lokasi kebakaran. Analisis juga perlu mempertimbangkan data meteorologi, seperti arah dan kecepatan angin serta kondisi atmosfer.
Selain itu, pemantauan satelit dan kondisi di lapangan menjadi bagian dari analisis untuk melihat pergerakan asap dan potensi dampaknya ke wilayah lain.