Cara Asap Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumatera Sampai Malaysia dan Singapura

Pebriansyah Ariefana

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:37 WIB
Cara Asap Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumatera Sampai Malaysia dan Singapura
Presiden Prabowo Subianto meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Sabtu (22/8/2026). (tangkap layar YouTube Sekretariat Presiden)
baca 10 detik
  • BMKG mengingatkan pergerakan angin musiman berpotensi membawa asap karhutla Kalimantan ke negara tetangga.

  • BNPB mengimbau negara tetangga tidak saling menyalahkan dan fokus pada penanganan wilayah masing-masing.

  • Pemerintah menyiagakan 52 pesawat dan memperkuat operasi darat serta udara demi memadamkan sumber api.

Suara.com - Pergerakan angin musiman berisiko menerbangkan gumpalan asap kebakaran hutan dan lahan dari Kalimantan menuju kawasan negara tetangga. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan memetakan pola alamiah tersebut sebagai faktor utama perpindahan asap lintas batas.

"Asap karhutla sampai ke negara tetangga karena terbawa angin," katanya dalam keterangan di Jakarta, Senin.

Ancaman paparan asap yang menembus garis batas negara ini langsung diantisipasi melalui koordinasi ketat bersama BNPB. Langkah darurat diambil guna memastikan produksi asap terkendali langsung dari titik utama kebakaran.

Kabut asap menutupi Sungai Kapuas, di Pontianak akibat kebakaran hutan di Kalimantan Barat pada Agustus 2026. [Antara]
Kabut asap menutupi Sungai Kapuas, di Pontianak akibat kebakaran hutan di Kalimantan Barat pada Agustus 2026. [Antara]

"Angin musiman yang rutin terjadi," lanjut dia.

Sikap saling menuding antarnegara tetangga seperti Malaysia dan Singapura hanya akan memperkeruh situasi penanganan bencana asap ini. Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Berton Pandjaitan menegaskan bahwasanya bencana karhutla bergerak lepas tanpa memedulikan sekat batas administratif.

"Jadi pendekatan kita bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana masing-masing negara melakukan upaya maksimal di wilayahnya dan bersama-sama mengurangi dampak asap lintas batas," ujarnya.

Pemerintah Indonesia sangat memahami kecemasan negara tetangga mengenai potensi bahaya kabut asap yang melintas wilayah mereka. Pengerahan seluruh daya dan upaya terbaik kini diprioritaskan untuk menghentikan gejolak titik api secara efektif.

"Yang perlu kami sampaikan, Indonesia saat ini sudah melakukan upaya secara optimal dan mengerahkan sumber daya yang sangat besar untuk mengendalikan karhutla," ungkapnya.

Bagaimana Strategi Indonesia Padamkan Karhutla di Lapangan?

baca juga

Pengendalian bencana dilakukan secara terpadu melalui pemadaman darat, patroli udara, water bombing, hingga Operasi Modifikasi Cuaca. Sinergi ketat personil TNI-Polri, pemerintah daerah, dan warga lokal diperkuat dengan tindakan tegas penegakan hukum bagi para pelaku pembakaran.

Kekuatan udara dikerahkan secara masif dengan menerjunkan total 52 unit pesawat di enam provinsi yang menjadi target utama penanganan. Sebanyak 30 armada udara difokuskan memadamkan wilayah Kalimantan, sementara 22 pesawat sisanya disiagakan di Sumatra.

Dukungan personil dan armada dari TNI AU terus ditambah demi mempercepat penetrasi pemadaman api di zona rawan Kalimantan. Langkah cepat ini diambil agar sebaran titik api dapat dilumpuhkan sebelum membentuk gumpalan asap yang lebih pekat.

"Jadi fokus kita saat ini adalah mengendalikan api sedekat mungkin dari sumbernya dan secepat mungkin, karena apabila sumber kebakaran dapat dikendalikan, maka produksi asap dan potensi dampak lintas batas juga dapat kita tekan," ucap Berton.

Ancaman bencana asap lintas batas (transboundary haze) merupakan isu lingkungan regional tahunan di Asia Tenggara yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau. Wilayah Kalimantan dan Sumatra menjadi dua titik perhatian utama tempat munculnya sebaran titik panas (hotspot).

Pola pergerakan angin musiman kerap membawa material asap melintasi batas negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Oleh karena itu, penguatan armada udara dan pencegahan sejak dini dari titik mula api menjadi strategi kunci Indonesia untuk meredam dampak buruk bencana tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Karhutla Masih Membara, Penerbangan di Kalimantan Masih Delay dan Ditunda

Karhutla Masih Membara, Penerbangan di Kalimantan Masih Delay dan Ditunda

Bisnis | Senin, 24 Agustus 2026 | 15:43 WIB

Ini Isi Pembicaraan Anwar Ibrahim dan Sultan Brunei Bahas Kebakaran Hutan Kalimantan

Ini Isi Pembicaraan Anwar Ibrahim dan Sultan Brunei Bahas Kebakaran Hutan Kalimantan

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 15:39 WIB

Asap di Udara Kita, Uangnya di Bank Mereka: Hipokrasi Kebakaran Kalimantan

Asap di Udara Kita, Uangnya di Bank Mereka: Hipokrasi Kebakaran Kalimantan

Your Say | Senin, 24 Agustus 2026 | 15:50 WIB

Terkini

Cara Asap Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumatera Sampai Malaysia dan Singapura

Cara Asap Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumatera Sampai Malaysia dan Singapura

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 16:37 WIB

Tarif LRT Velodrome - Manggarai Cuma Rp 5.000 hingga Oktober, Terhubung KRL dan Kereta Bandara

Tarif LRT Velodrome - Manggarai Cuma Rp 5.000 hingga Oktober, Terhubung KRL dan Kereta Bandara

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 16:35 WIB

Sah! Sandiaga Uno Jadi Presiden Komisaris MUTU

Sah! Sandiaga Uno Jadi Presiden Komisaris MUTU

Bisnis | Senin, 24 Agustus 2026 | 16:32 WIB

Semen Gresik Raih Best Choice Brand Portland Cement Pada Ajang The Peoples Choice 2026

Semen Gresik Raih Best Choice Brand Portland Cement Pada Ajang The Peoples Choice 2026

Jawa Tengah | Senin, 24 Agustus 2026 | 16:31 WIB

Jelang FIFA ASEAN Cup 2026 Kevin Diks Bikin Bangga Indonesia di Jerman

Jelang FIFA ASEAN Cup 2026 Kevin Diks Bikin Bangga Indonesia di Jerman

Bola | Senin, 24 Agustus 2026 | 16:29 WIB

Sudah Terima Kompensasi Tapi Nekat Buka Lapak, 5 Bangunan Liar di Jalur Ciater-Subang Disegel

Sudah Terima Kompensasi Tapi Nekat Buka Lapak, 5 Bangunan Liar di Jalur Ciater-Subang Disegel

Jabar | Senin, 24 Agustus 2026 | 16:27 WIB

Ulasan Nice to Not Meet You: Krisis Identitas di Balik Pekerjaan Impian

Ulasan Nice to Not Meet You: Krisis Identitas di Balik Pekerjaan Impian

Your Say | Senin, 24 Agustus 2026 | 16:25 WIB

Rupiah Lesu di Hari Kejepit, Ditutup ke Level Rp17.721

Rupiah Lesu di Hari Kejepit, Ditutup ke Level Rp17.721

Bisnis | Senin, 24 Agustus 2026 | 16:23 WIB

Viral Rasa Sayange Versi Satire, Lirik: Pemerintah NPD, Kebakaran Cuekin Aja Asal Fotonya Mengudara

Viral Rasa Sayange Versi Satire, Lirik: Pemerintah NPD, Kebakaran Cuekin Aja Asal Fotonya Mengudara

Entertainment | Senin, 24 Agustus 2026 | 16:20 WIB

48 Jam di Bangkok, dari Hunting Brand Lokal hingga Menyusuri Chao Phraya

48 Jam di Bangkok, dari Hunting Brand Lokal hingga Menyusuri Chao Phraya

Lifestyle | Senin, 24 Agustus 2026 | 16:19 WIB

×