- Menteri Agama Nasaruddin Umar disebut mengundurkan diri dan menyerahkan suratnya kepada Presiden Prabowo Subianto pada Rabu, 26 Agustus 2026.
- Pengunduran diri tersebut dilakukan agar ia dapat memenuhi aturan untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.
- Pihak istana telah menerima serta memberikan restu atas pengunduran diri Menteri Agama Nasaruddin Umar tersebut.
Suara.com - Menteri Agama RI Nasaruddin Umar dikabarkan mengundurkan diri per Rabu (26/8/2026) hari ini. Surat pengunduran dirinya sudah disampaikan ke Presiden Prabowo Subianto.
Pengunduran diri Nasaruddin Umar itu diketahui Suara.com dari Sumber yang berada di dalam pemerintahan.
"Pak Nasaruddin Umar mengundurkan diri. Dia sudah menyerahkan suratnya ke istana. Pihak istana sudah menerima dan merestui," kata Sumber tersebut kepada Suara.com.
Dia menjelaskan, dalam surat itu, Nasaruddin Umar mengundurkan diri karena hendak maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU.
"Itu sesuai aturan. Bahwa pejabat negara yang hendak maju sebagai ketua umum PBNU harus mengundurkan diri," kata dia.
Nasaruddin Umar Membantah
Namun, ketika Suara.com menelepon, Nasaruddin membantah kabar menyebut dirinya mengundurkan diri.
"Kata siapa? (mengundurkan diri), tidak pernah. Itu kayaknya ada orang panik itu," kata Nasaruddin kepada Suara.com.
Nasaruddin menegaskan per Rabu hari ini, ia masih menegaskan masih bekerja di Kementerian Agama.
"Saya enggak pernah melakukan itu (mengundurkan diri). Malah saya telah melakukan kegiatan di kantor, peringatan Maulid," kata Nasaruddin.
Nasaruddin menegaskan, dirinya tidak pernah mengajukan surat pengunduran diri kepada Presiden Prabowo Subianto.
"Enggak pernah," kata Nasaruddin.
Dia menegaskan, tidak ada aturan bahwa bila dirinya memang menjadi calon Ketua Umum PBNU, diwajibkan mengundurkan diri.
"Iya," ujarnya.
Nasaruddin lantas menyinggung adanya dugaan ada orang panik yang sengaja menyebarkan informasi tersebut.
"Sepertinya ada orang panik itu," kata Nasaruddin.
Saat menerima telepon dari Suara.com, Nasaruddin sedang berada di pesawat untuk bertolak ke Surabaya di Jawa Timur.
Saat ditanya, apakah kunjungan ke Jawa Timur dalam rangka hadir Muktamar PBNU, Nasarudsin tidak menegaskan. Ia sebatas menyampaikan ada agenda pelantikan.
"Melantik ... Ikatan Ahli Ekonomi Islam di Jawa Timur besok pagi," kata Nasaruddin.
Peta Kekuatan Muktamar ke-35 NU
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung sejak Kamis (27/8) besok, tengah menjadi magnet perhatian publik nasional.
Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat, terutama di jagat media sosial.
Sebagai organisasi Islam terbesar di dunia, arah kepemimpinan PBNU tidak hanya krusial bagi warga Nahdliyin, tetapi juga bagi stabilitas sosial dan politik Indonesia.
Publik kini mulai menakar siapa sosok yang paling layak memimpin organisasi ini selama lima tahun ke depan.
Awalnya, terdapat setidaknya 15 tokoh yang namanya berseliweran di media sosial. Namun, berdasarkan data terbaru dari Majalah Risalah NU edisi khusus muktamar, Agustus 2026, kandidat telah mengerucut menjadi tujuh nama yang dianggap memiliki basis dukungan dan kapasitas yang mumpuni.
Ketujuh tokoh ini terbagi ke dalam tiga poros kekuatan berdasarkan visi, rekam jejak, dan latar belakang mereka.
1. Poros Struktural Berkesinambungan: Kontinuitas dan Diplomasi Global
Poros ini diisi oleh tokoh-tokoh yang memiliki kedekatan dengan birokrasi organisasi maupun pemerintahan. Mereka menawarkan stabilitas dan keberlanjutan program yang sudah berjalan.
KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)
Sebagai petahana, Gus Yahya yang lahir pada 16 Februari 1966 tetap menjadi kandidat terkuat. Pada 22 Juli 2026, ia secara resmi menyatakan niatnya untuk kembali memimpin PBNU.
Visi utamanya adalah kemandirian organisasi dengan fokus pada pemantapan gagasan "Merawat Jagat, Membangun Peradaban".
Gus Yahya dikenal piawai dalam memperkuat posisi tawar NU di kancah internasional, membawa misi perdamaian dunia melalui diplomasi agama yang moderat.
Prof. KH Nasaruddin Umar
Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal ini mewakili perpaduan antara ulama dan teknokrat.
Lahir pada 23 Juni 1959, Nasaruddin Umar membawa narasi harmoni keumatan. Ia mendapatkan dukungan signifikan dari cabang-cabang NU di luar Pulau Jawa.
Kehadirannya dipandang sebagai simbol desentralisasi kepemimpinan NU yang didukung oleh pengalaman birokrasi tingkat tinggi.
2. Poros Pesantren Tradisional: Menjaga Khittah dan Akar Rumput
Poros ini menekankan pada pentingnya kembali ke marwah pesantren sebagai pusat transmisi keilmuan dan moralitas NU.
KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, yang lahir pada 17 Agustus 1958 ini merepresentasikan otoritas historis.
Sebagai cucu Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, Gus Kikin adalah simbol penjaga tradisi klasik NU.
Kehadirannya memberikan rasa tenang bagi warga Nahdliyin yang menginginkan kepemimpinan yang mengakar kuat pada nilai-nilai dasar pendiri NU.
KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)
Tokoh muda dari Jawa Tengah ini memiliki basis massa yang sangat militan. Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Gus Yusuf telah mengantongi dukungan dari 23 PCNU di Jawa Tengah. Ia dikenal sangat responsif terhadap isu-isu populis dan kesejahteraan ekonomi.
Visi dakwah kulturalnya dianggap mampu menyentuh aspirasi *grassroots* yang menginginkan PBNU lebih peka terhadap masalah sosial sehari-hari.
KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin)
Gus Rozin muncul dengan tawaran paradigma pendidikan yang adaptif. Dalam forum silaturahim PCNU se-Jawa Tengah pada Juli 2026, ia menegaskan kesiapannya maju.
Fokus utamanya adalah menjembatani keilmuan kitab kuning dengan tantangan akademis modern.
Bagi Gus Rozin, warga NU harus tetap profesional tanpa kehilangan identitas kepesantrenannya.
3. Poros Regenerasi dan Pembaruan: Intelektualitas dan Check and Balances
Kelompok ini diisi oleh tokoh-tokoh yang relatif lebih muda dan menawarkan perspektif baru dalam tata kelola organisasi.
KH Zulfa Mustofa
Lahir pada 7 Agustus 1977, Wakil Ketua Umum PBNU ini dikenal sebagai intelektual yang menguasai ilmu fiqih secara mendalam.
Keunikannya dalam menciptakan syair-syair Bahasa Arab secara spontan menjadikannya sosok yang dikagumi secara kultural.
Ia menawarkan perpaduan ideal antara penguasaan khazanah klasik dan manajemen organisasi yang modern serta lincah.
KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)
Pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas yang berusia 49 tahun ini dikenal vokal dalam menyuarakan pentingnya "check and balances" di internal PBNU.
Gus Salam konsisten mengingatkan agar NU tidak terjebak dalam pragmatisme politik praktis. Baginya, organisasi harus tetap berpihak pada prinsip keadilan dan kemaslahatan publik, terutama demi kepentingan warga NU di tingkat bawah.