Malaysia Darurat Asap Kebakaran Hutan Kalimantan, Infeksi ISPA hingga Diterjang Super El Nino

Pebriansyah Ariefana

Jum'at, 28 Agustus 2026 | 12:52 WIB
Malaysia Darurat Asap Kebakaran Hutan Kalimantan, Infeksi ISPA hingga Diterjang Super El Nino
Kondisi Malaysia (CNA)
baca 10 detik
  • Kabut asap kebakaran lahan Indonesia memicu krisis kesehatan dan melumpuhkan sekolah di Malaysia.

  • Kasus ISPA di Malaysia melonjak 124 persen akibat paparan polusi asap beracun harian.

  • Ancaman Super El Nino diprediksi memperparah krisis kabut asap lintas batas di ASEAN.

Suara.com - Krisis kesehatan publik melanda Malaysia setelah paparan kabut asap kebakaran hutan dari Kalimantan dan Sumatra memaksa penutupan ratusan sekolah serta memicu lonjakan dramatis kasus ISPA hingga 124 persen. Kombinasi cuaca kering ekstrem dan fenomena Super El Nino memicu eskalasi pencemaran udara ke level berbahaya, mengancam keselamatan warga di kawasan Lembah Klang hingga Sarawak.

Rutinitas harian warga berubah menjadi ancaman kesehatan langsung, seperti yang dialami Shobana Sritharan bersama putranya yang berusia 12 tahun setelah terserang demam dan batuk parah.

Ibu rumah tangga sekaligus penasihat siswa tersebut harus ekstra waspada memantau Indeks Pencemar Udara (IPU) setiap jam setelah anaknya jatuh sakit seusai kegiatan luar ruangan sekolah.

Foto udara asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Jumat (31/7/2026). [ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/YU]
Foto udara asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Jumat (31/7/2026). [ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/YU]

“Kami sudah terbiasa dengan hal ini karena (menghadapi kabut asap) sudah menjadi kejadian tahunan, namun hal ini tetap sangat merepotkan bagi semua orang,” ujar perempuan berusia 41 tahun tersebut, dikutip dari CNA, Jumat (28/8/2026).

Keresahan Shobana mencerminkan penderitaan jutaan warga Malaysia yang harus menghirup udara beracun akibat pembakaran lahan pertanian musiman di negara tetangga.

Posisi geografis menjadikan Malaysia berada tepat di lintasan pergerakan asap utama dari Sumatra dan Kalimantan, memicu pembatalan berbagai kegiatan publik.

Bagaimana Dampak Kabut Asap Terhadap Sektor Pendidikan dan Acara Nasional?

Lebih dari 100 sekolah di Sarawak terpaksa ditutup sementara setelah angka IPU melonjak melampaui ambang batas sangat tidak sehat yaitu angka 200.

Kementerian Pendidikan merumahkan hampir 200.000 siswa dan melarang keras seluruh aktivitas olahraga di luar ruangan bagi daerah berstatus IPU di atas 100.

baca juga

Dampak pembatalan jadwal ini berimbas pada kompetisi hoki tingkat nasional anak sekolah yang terpaksa dipindahkan sejauh 130 kilometer dari Kuala Lumpur ke Pahang.

Format pertandingan diubah secara mendadak menjadi sembilan lawan sembilan dengan durasi laga dipangkas dari 60 menit menjadi 15 menit saja.

Seorang wali murid bernama Kelvin menyuarakan kekecewaannya atas keputusan mendadak panitia yang dinilai membuang biaya besar tanpa memikirkan kesiapan atlet muda.

“Mereka bisa saja menunda kompetisi ke waktu lain. Ada banyak biaya yang terlibat, karena sebagian orang tua harus bepergian ke luar kota dan bus tambahan harus dipesan untuk para pemain,” ujar Kelvin.

Seberapa Parah Lonjakan Kasus Penyakit Pernapasan di Fasilitas Kesehatan?

Data Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat lonjakan dramatis infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebesar 124,4 persen dari 1.637 menjadi 3.674 kasus dalam sepekan.

Penderita asma mengalami peningkatan paling drastis hingga 259 persen, bergerak melonjak dari 61 kasus menjadi 219 penderita dalam periode yang sama.

Klinik kesehatan di wilayah selatan seperti Johor Bahru melaporkan kenaikan kunjungan pasien gangguan pernapasan hingga 30 persen dalam satu minggu terakhir.

Dokter Kepala Klinik ATS, A R Leenah Devi, mengonfirmasi mayoritas pasien datang dengan gejala batuk dan pilek akibat paparan partikel asap pekat.

“Kabut asap juga memperparah kondisi mereka yang sudah sakit akibat virus—kabut asap tersebut memperburuk gejala-gejalanya,” ungkap Dr. Leenah.

Tingginya paparan polutan di udara membuat permintaan masker jenis N95 dan pemurni udara di berbagai apotek meningkat tajam melebihi hari biasa.

Mengapa Fenomena El Nino Memperburuk Krisis Udara Tahun Ini?

Pemerintah Malaysia bahkan mempertimbangkan penyesuaian agenda peringatan Hari Kebangsaan pada 31 Agustus demi melindungi kesehatan 1.500 pelajar yang terlibat.

Departemen Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) turut menggelar doa khusus di tiga masjid besar untuk memohon perlindungan dari bencana polusi udara.

Pakar politik lingkungan Helena Varkkey memperingatkan potensi ancaman Super El Nino yang menciptakan kondisi jauh lebih panas dan kering dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Namun, tahun ini kemungkinan akan terjadi 'Super El Niño'—yang berarti kondisi menjadi jauh lebih panas dan kering—sehingga kabut asap tahun ini diperkirakan akan lebih parah, seperti yang terjadi pada tahun 2015 dan 1997,” papar Helena Varkkey.

Meteorolog Universiti Malaya, Azizan Abu Samah, menegaskan angin monsun barat daya akan terus membawa asap pembakaran lahan di Indonesia ke kawasan tetangga.

“Menangani masalah ini demi kepentingan Indonesia sendiri; ini bukan sekadar masalah eksternal. Warga Indonesia justru lebih terdampak karena konsentrasi polutan akan jauh lebih tinggi di wilayah mereka,” tegas Azizan Abu Samah.

Bagaimana Solusi Regional Dalam Menanggulangi Kebakaran Lahan Musiman?

Azizan menambahkan penanganan krisis asap beracun ini membutuhkan komitmen politis kolektif yang kuat di antara seluruh negara anggota ASEAN.

“Masalah ini bersifat lintas batas, dan penyelesaiannya masih memerlukan kerja sama yang erat di antara negara-negara ASEAN,” lanjut Azizan.

Ia juga menjelaskan kebiasaan membakar lahan masih menjadi metode paling murah dan cepat bagi industri sawit serta kertas di kawasan regional.

“Masalah ini terus berulang; satu-satunya perbedaan saat terjadi El Nino adalah intensitasnya yang jauh lebih parah. Pada periode netral saat tidak ada El Nino, lahan tidak sekering itu, sehingga kebakaran tidak sampai tak terkendali,” pungkas Azizan.

Laporan PBB (UNDRR) mengungkap 98 persen kebakaran hutan di Indonesia disebabkan oleh faktor aktivitas manusia dan dorongan kebutuhan ekonomi lokal.

“Api adalah metode yang lebih murah dan mudah untuk membersihkan lahan untuk tanaman, khususnya kelapa sawit,” tulis laporan analitis UNDER tersebut.

Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) telah mengeluarkan peringatan bahaya level 3 setelah satelit mendeteksi ratusan titik panas aktif di Kalimantan dan Sumatra.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Update Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Malaysia jadi Lawan Kedua

Update Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Malaysia jadi Lawan Kedua

Bola | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 11:57 WIB

Kabut Asap Makin Pekat di Palembang, Kota Mulai Berselimut Kelabu

Kabut Asap Makin Pekat di Palembang, Kota Mulai Berselimut Kelabu

Foto | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 08:30 WIB

Karhutla Menggila di Kalteng, 7.634 Hektare Lahan Terbakar

Karhutla Menggila di Kalteng, 7.634 Hektare Lahan Terbakar

Foto | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 07:00 WIB

Terkini

BRI DPLK: Cara Siapkan Dana Pensiun Sejak Usia Produktif

BRI DPLK: Cara Siapkan Dana Pensiun Sejak Usia Produktif

Sumsel | Selasa, 15 September 2026 | 19:14 WIB

5 Zodiak Paling Gampang Move On setelah Putus, Gak Mau Larut dalam Kesedihan

5 Zodiak Paling Gampang Move On setelah Putus, Gak Mau Larut dalam Kesedihan

Lifestyle | Selasa, 15 September 2026 | 19:10 WIB

Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia

Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 19:08 WIB

Karnaval Maulid Berbau Mistis di Pekalongan Berujung Polemik, Mendagri: Bisa Dibubarkan

Karnaval Maulid Berbau Mistis di Pekalongan Berujung Polemik, Mendagri: Bisa Dibubarkan

News | Selasa, 15 September 2026 | 19:06 WIB

5 Jurnalis Hilang di Krakatau, Jurnalis Sumsel Gelar Doa dan Ingatkan Pesan Saling Jaga

5 Jurnalis Hilang di Krakatau, Jurnalis Sumsel Gelar Doa dan Ingatkan Pesan Saling Jaga

Sumsel | Selasa, 15 September 2026 | 19:03 WIB

Bareskrim Ungkap Dugaan Manipulasi Laporan Keuangan dalam IPO PT Multi Makmur Lemindo

Bareskrim Ungkap Dugaan Manipulasi Laporan Keuangan dalam IPO PT Multi Makmur Lemindo

Jatim | Selasa, 15 September 2026 | 18:59 WIB

Fahd Arafiq Pakai Rompi 172, Ini Daftar Nama Tersangka yang Resmi Ditahan KPK

Fahd Arafiq Pakai Rompi 172, Ini Daftar Nama Tersangka yang Resmi Ditahan KPK

News | Selasa, 15 September 2026 | 18:59 WIB

Mulai Siapkan Dana Pensiun, BRI DPLK Tawarkan Kemudahan dan Bonus lewat BRImo

Mulai Siapkan Dana Pensiun, BRI DPLK Tawarkan Kemudahan dan Bonus lewat BRImo

Bali | Selasa, 15 September 2026 | 18:53 WIB

Masa Pensiun Lebih Terencana, BRI DPLK Mudah Dibuka lewat BRImo dan Berbonus

Masa Pensiun Lebih Terencana, BRI DPLK Mudah Dibuka lewat BRImo dan Berbonus

Sulsel | Selasa, 15 September 2026 | 18:51 WIB

Minyak Sawit Lebih Efisien, Tapi Hutan Bukan Harga yang Boleh Dikorbankan

Minyak Sawit Lebih Efisien, Tapi Hutan Bukan Harga yang Boleh Dikorbankan

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 18:50 WIB

×