Cerita Pasangan Asal California Lolos dari Maut Banjir Bandang Nepal: Saya Tahu Akan Mati

Pebriansyah Ariefana

Senin, 31 Agustus 2026 | 11:21 WIB
Cerita Pasangan Asal California Lolos dari Maut Banjir Bandang Nepal: Saya Tahu Akan Mati
Pasangan peziarah asal California berhasil selamat dari terjangan banjir bandang dahsyat di perbatasan Nepal-Tibet. (CBS News)
baca 10 detik
  • Banjir bandang akibat gletser runtuh di perbatasan Nepal-Tibet tewaskan ratusan orang dan ribuan hilang.
  • Pasangan peziarah asal California berhasil selamat usai melompat dari bus dan menaiki gunung.
  • Rombongan penyintas bertahan hidup di kandang kambing sebelum dievakuasi menggunakan helikopter penyelamat.

Suara.com - Pasangan peziarah asal San Francisco Bay Area berhasil lolos dari maut saat gelombang air bah banjir bandang setinggi puluhan meter menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet. Bencana dahsyat akibat runtuhnya gletser Himalaya pada Rabu lalu itu telah menewaskan hampir 600 orang serta menyebabkan sekitar 2.500 jiwa lainnya dilaporkan hilang.

Runtuhnya material gletser yang bercampur lumpur tebal pertama kali menghantam Desa Timure di Distrik Rasuwa, Nepal. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa sekitar 90 warga negaranya diperkirakan berada di antara ribuan korban yang belum ditemukan.

Anjana Raja dan pasangannya, Pattabiraman Venkatesan, berada di dalam bus pariwisata saat bencana alam tersebut mendadak datang dari arah pegunungan tinggi. Keduanya langsung menyadari ancaman bahaya ketika melihat gulungan air hitam meluncur deras layaknya tsunami.

Banjir bandang Nepal (Antara)
Banjir bandang Nepal (Antara)

"Saya tahu saya akan mati," ujar Anjana Raja kepada CBS News.

"Saya tahu saya akan mati."

"Tingginya sekitar 60, 70 kaki, kelihatan seperti tsunami, tapi warnanya hitam pekat," kata Venkatesan.

"... Saya bisa melihat benda monster ini datang mendekat. Saat itu saya tidak tahu apakah itu air. Jujur, saya pikir itu api, kebakaran hutan."

Raja merenggut kerah baju Venkatesan untuk menyuruhnya berlari kencang saat mereka melompat keluar dari dalam bus. Langkah cepat tersebut menyelamatkan nyawa mereka di tengah ribuan warga yang panik berebut menyelamatkan diri ke tempat tinggi.

Pasangan ini terus menaiki anak tangga terjal menuju area yang lebih tinggi demi mengindari arus deras. Selama proses penyelamatan diri tersebut, rumah-rumah warga di sekitarnya tampak hancur tersapu banjir.

baca juga

"Di sepanjang jalan, Anda tahu, rumah-rumah bermunculan lalu roboh, air membawanya jatuh," kata Venkatesan.

Jeritan histeris dari warga yang terseret arus bawah menambah suasana mencekam di area pemukiman lereng gunung. Raja menyaksikan langsung bagaimana dahsyatnya kehancuran yang terjadi tepat di depan matanya.

"Saya melihat kematian tepat di depan mata saya," kata Raja.

Seorang pemandu wisata berhasil mengarahkan mereka menuju dataran rata di puncak gunung terdekat. Medan pendakian darurat tersebut sangat berbahaya dan menguras seluruh tenaga mereka.

"Sangat tinggi di atas sana, saya bahkan tidak tahu bagaimana kami bisa memanjatnya," kata Raja.

"Itu sungguh sangat berat."

Jalur pendakian yang licin dan penuh bebatuan material longsor memperberat upaya evakuasi mandiri para peziarah. Venkatesan menggambarkan rute penyelamatan tersebut penuh bahaya fisik.

"Sempit dan sangat licin dengan lumpur dan batu serta bebatuan dan semuanya," kata Venkatesan.

Seluruh rombongan peziarah menghabiskan malam di sebuah kandang kambing bersama warga lokal dan wisatawan lain. Helikopter penyelamat baru tiba memindahkan mereka ke lokasi aman pada keesokan harinya.

Keberhasilan seluruh penumpang bus selamat dari sapuan banjir besar menjadi hal yang patut disyukuri. Pengalaman lolos dari maut ini memberikan pandangan hidup baru bagi mereka.

"Fakta bahwa kami selamat tidak kurang dari sebuah keajaiban," kata Venkatesan.

"Ini memperkuat pemikiran saya tentang hidup," kata Venkatesan.

"Berbuat baiklah, lakukan yang baik, berpikirlah yang baik, dan serahkan sisanya kepada siapa pun yang ada di atas kita. Hanya itu yang bisa saya katakan."

Bencana alam di kawasan Pegunungan Himalaya ini terjadi akibat kehancuran mendadak dinding gletser yang memicu aliran air dalam jumlah sangat masif ke lembah-lembah di sekitarnya. Peristiwa ini menghancurkan rute perbatasan utama antara Nepal dan wilayah otonom Tibet di China.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Suami Cari Istri Korban Banjir Bandang Tibet, Minta Pemerintah Australia, Nepal, dan China Terbuka

Suami Cari Istri Korban Banjir Bandang Tibet, Minta Pemerintah Australia, Nepal, dan China Terbuka

News | Minggu, 30 Agustus 2026 | 17:39 WIB

Hari Ke-5 Pencarian Korban Hilang Banjir Bandang, Operasi Evakuasi Skala Besar Dimulai

Hari Ke-5 Pencarian Korban Hilang Banjir Bandang, Operasi Evakuasi Skala Besar Dimulai

News | Minggu, 30 Agustus 2026 | 16:47 WIB

261 Warga China Hilang di Banjir Bandang Nepal, Total 2.400 Orang Belum Ketemu

261 Warga China Hilang di Banjir Bandang Nepal, Total 2.400 Orang Belum Ketemu

News | Minggu, 30 Agustus 2026 | 14:46 WIB

Terkini

Membaca Peluang AHY Gantikan Gibran Jadi Wapres, Seberapa Terbuka Jalannya?

Membaca Peluang AHY Gantikan Gibran Jadi Wapres, Seberapa Terbuka Jalannya?

News | Kamis, 05 November 2026 | 22:10 WIB

Belajar tetapi Dianggap Putus Sekolah, KPAI Soroti Nasib Anak Disabilitas di LKSA

Belajar tetapi Dianggap Putus Sekolah, KPAI Soroti Nasib Anak Disabilitas di LKSA

News | Kamis, 05 November 2026 | 22:02 WIB

Masuk Ancol Gratis Sampai 12 November, Simak Ketentuannya

Masuk Ancol Gratis Sampai 12 November, Simak Ketentuannya

News | Kamis, 05 November 2026 | 21:55 WIB

Teriak Pajak Untuk Tukang Cukur dan Pijat, Hashim Ternyata Pernah Nunggak Pajak Rp2,4 T

Teriak Pajak Untuk Tukang Cukur dan Pijat, Hashim Ternyata Pernah Nunggak Pajak Rp2,4 T

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 21:52 WIB

Timnas Indonesia Batal Lawan Yordania, Erick Thohir Singgung Faktor Keselamatan Kevin Diks Cs

Timnas Indonesia Batal Lawan Yordania, Erick Thohir Singgung Faktor Keselamatan Kevin Diks Cs

Bola | Kamis, 05 November 2026 | 21:45 WIB

Prabowo Perintahkan Revitalisasi Stasiun Gambir, Monas dan Pengembangan Kereta Api di Bali

Prabowo Perintahkan Revitalisasi Stasiun Gambir, Monas dan Pengembangan Kereta Api di Bali

News | Kamis, 05 November 2026 | 21:45 WIB

Banjir Rendam Sawah, Petani Bawang Merah Tulungagung Rugi Belasan Juta

Banjir Rendam Sawah, Petani Bawang Merah Tulungagung Rugi Belasan Juta

Jatim | Kamis, 05 November 2026 | 21:43 WIB

Enam Laga Tanpa Menit Bermain, Nasib Elkan Baggott di Millwall Jadi Sorotan

Enam Laga Tanpa Menit Bermain, Nasib Elkan Baggott di Millwall Jadi Sorotan

Bola | Kamis, 05 November 2026 | 21:35 WIB

Kasus Penyadapan Ilegal Jadi Alarm, DPR Bakal Perketat Kewenangan Penyadapan

Kasus Penyadapan Ilegal Jadi Alarm, DPR Bakal Perketat Kewenangan Penyadapan

News | Kamis, 05 November 2026 | 21:22 WIB

Bidpropam Polda Jabar Turun Tangan Usut Dugaan Pelanggaran di Polres Sukabumi

Bidpropam Polda Jabar Turun Tangan Usut Dugaan Pelanggaran di Polres Sukabumi

Jabar | Kamis, 05 November 2026 | 21:17 WIB

×