- Banjir bandang perbatasan Nepal-Tibet menelan 675 korban jiwa dan 2.500 orang hilang.
- Tim SAR memfokuskan pencarian korban selamat di terowongan PLTA Trishuli-3 'A'.
- Sebanyak 7.500 warga dan 250 wisatawan asing berhasil dievakuasi dari lokasi bencana.
Suara.com - Evakuasi massal banjir bandang di kawasan perbatasan Nepal dan Tibet kini bertumpu pada penyisiran jaringan terowongan bawah tanah di tengah lonjakan korban tewas yang menembus 675 jiwa. Upaya pencarian hari kelima ini menandai pergeseran fokus tim penyelamat dari wilayah permukaan menuju struktur bawah tanah yang tertimbun lumpur pekat.
Lembaga penanggulangan bencana Nepal mencatat lebih dari 7.500 warga berhasil dievakuasi, sementara hampir 2.500 korban lainnya masih dinyatakan hilang. Di samping itu, sekitar 219 warga mengalami luka-luka akibat hantaman air bah yang datang mendadak sejak Rabu lalu.
Sektor pariwisata turut terdampak hebat dengan 320 warga negara asing yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Kendati demikian, otoritas pariwisata setempat mengonfirmasi bahwa 250 wisatawan asing telah selamat dari bencana tersebut.

Kerumunan warga yang dilanda kecemasan hebat kini memadati Distrik Nuwakot untuk menanti kejelasan nasib anggota keluarga mereka. Titik berat pencarian difokuskan pada fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Trishuli-3 'A' yang tertimbun material banjir.
Para petugas pemadam dan penyelamat terus menerobos terowongan PLTA dengan harapan menemukan pekerja atau warga yang selamat di dalam celah kedap air. Kondisi lumpur tebal menjadi hambatan utama dalam menembus kedalaman fasilitas energi tersebut.
Bagaimana Kondisi Kerusakan di Lapangan Menurut Penuturan Saksi?
Dampak kehancuran fisik terbukti sangat masif hingga menghapus pemukiman warga dari peta wilayah. Seorang pria asal Sussex terbang langsung ke lokasi bencana bersama ayahnya demi menyaksikan kondisi desa mereka yang telah lenyap.
"Istri, ibu, paman, dan saudara laki-laki saya hilang, dan lokasi tempat desa saya berada kini sepenuhnya berada di bawah air."
Kesaksian tersebut menggambarkan betapa cepatnya air bah menenggelamkan seluruh bangunan pemukiman tanpa menyisakan jejak. Banyak keluarga kehilangan kontak total akibat infrastruktur komunikasi yang runtuh.
Di tengah kepungan duka dan kehancuran, keajaiban kecil masih mewarnai proses evakuasi di lapangan. Seorang ibu berhasil memeluk kembali putranya yang berusia delapan tahun setelah terpisah selama berhari-hari.
Anak laki-laki tersebut selamat setelah berhasil memanjat pohon tinggi dan bertahan di sana hingga luapan air bah menyurut. Momen pertemuan emosional ini memberi titik terang bagi para petugas yang bekerja tanpa henti.
Operasi kemanusiaan ini melibatkan ribuan personel gabungan dari unsur militer, kepolisian, dan sukarelawan lokal. Tantangan geografis pegunungan memperberat distribusi alat berat ke titik-titik krisis.
Bencana ini berawal dari banjir bandang mendadak yang menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu lalu. Curah hujan tinggi di kawasan hulu memicu luapan sungai deras yang membawa material lumpur dan bebatuan ke pemukiman padat.
Hingga hari kelima pascabencana, proses pencarian korban hilang masih terus diprioritaskan di sepanjang alur Sungai Trishuli dan area infrastruktur vital.