Prabowo Soroti Ubi Bombing untuk Karhutla, Seberapa Mungkin Diterapkan?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 31 Agustus 2026 | 15:11 WIB
Prabowo Soroti Ubi Bombing untuk Karhutla, Seberapa Mungkin Diterapkan?
Ilustrasi pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sumber: Magnific.com

Suara.com - Gagasan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan bahan berbasis tepung ubi belakangan menarik perhatian setelah diperlihatkan dalam rapat penanganan karhutla di Posko Utama Satgas Sumatera Selatan, Palembang, Senin (24/8).

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut racikan tersebut berpotensi menjadi alternatif water bombing yang lebih efisien. Presiden Prabowo Subianto juga sempat menyoroti inovasi yang kemudian ramai disebut sebagai “ubi bombing”.

Lantas, benarkah klaim tersebut? Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahan yang dimaksud berupa ekstrak pati singkong yang telah diolah dan dicampur dengan bahan tertentu, antara lain ammonium polyphosphate dan agen pembasah.

Artinya, teknologi tersebut lebih tepat dipahami sebagai bahan pemadam berbasis pati, bukan sekadar menaburkan tepung ubi ke lokasi kebakaran.

Jika tepung organik biasa disebarkan ke udara dalam konsentrasi tertentu, justru terdapat risiko dust explosion atau ledakan debu. Karena itu, formulasi dan metode penggunaannya menjadi bagian penting yang tidak bisa dilewatkan.

Menariknya, pemanfaatan bahan berbasis pati untuk membantu pemadaman karhutla sebenarnya bukan gagasan yang sepenuhnya baru.

Tepung jagung untuk memadamkan api

Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Bambang Hero Saharjo, mengatakan telah menguji penggunaan bahan alami berbasis tepung jagung sebagai bagian dari formulasi gel pemadam api.

Gel tersebut dicampurkan dengan air dalam dosis tertentu sebelum digunakan. Namun, penggunaannya tidak bisa dilakukan sembarangan karena konsentrasi yang terlalu tinggi dapat membuat aliran dalam selang pemadam terhambat.

baca juga

“Produk ini digunakan dengan cara direndam dalam air dengan dosis tertentu dan harus hati-hati karena kalau terlalu kental maka aliran air dalam selang pemadam akan terhambat,” ujar Bambang kepada Suara.com, Kamis (27/8).

Menurut Bambang, formulasi tersebut memiliki fungsi lebih dari sekadar memadamkan api. Gel dapat membantu membasahi dan menutup pori-pori gambut sehingga bara di bawah permukaan lebih sulit kembali menyala.

Campuran tersebut juga membuat air menjadi lebih berat sehingga semprotan relatif lebih stabil dan tidak mudah terbawa angin.

Pengujian, kata Bambang, telah dilakukan di lapangan dengan berbagai material yang menjadi bahan bakar kebakaran di lahan gambut, seperti serasah, daun, dan semak dengan variasi dosis tepung jagung.

Pengujian juga dilakukan di laboratorium menggunakan daun kering dan rumput untuk melihat efektivitas pemadaman.

Tujuannya bukan hanya memadamkan api di permukaan, tetapi juga membantu mengurangi potensi kebakaran berulang dan emisi yang dihasilkan dari bara yang bertahan di dalam gambut.

Ubi bombing masih perlu diuji

Bambang menyambut rencana pengembangan teknologi pemadam berbasis pati singkong, tetapi mengingatkan agar teknologi tersebut tidak langsung diproduksi dan digunakan secara massal sebelum melalui serangkaian pengujian.

“Sebaiknya diujicobakan dulu karena hal ini berkaitan langsung dengan efisiensi pemadaman.”

Menurut dia, pengujian perlu dilakukan untuk mengetahui dosis yang tepat pada berbagai jenis bahan bakar, mulai dari serasah, daun, ranting, semak hingga kayu.

Efektivitasnya juga perlu dibandingkan pada berbagai tipe lahan, terutama lahan gambut dan lahan mineral yang memiliki karakteristik berbeda.

Selain kemampuan memadamkan api, ada setidaknya dua hal lain yang perlu diperiksa: seberapa besar emisi dapat ditekan dan apakah bahan yang digunakan memiliki dampak terhadap manusia maupun lingkungan.

Dengan kata lain, teknologi pemadam berbasis pati tidak cukup dinilai dari seberapa cepat api padam.

Pertanyaan berikutnya adalah: berapa lama api tetap padam, apakah bara di bawah tanah kembali menyala, dan apa dampak bahan tersebut setelah digunakan?

Pencegahan tetap menjadi kunci

Di tengah perhatian terhadap inovasi pemadaman, Bambang mengingatkan bahwa teknologi baru tidak boleh membuat pencegahan karhutla terabaikan.

Hal ini terutama berlaku pada lahan gambut. Kebakaran di ekosistem tersebut dapat merambat hingga ke lapisan bawah tanah sehingga jauh lebih sulit ditangani ketika api sudah membesar.

Karena itu, upaya pengendalian tidak semestinya hanya ditingkatkan ketika fenomena El Niño terjadi.

“Jangan pernah menunggu upaya pemadaman kebakaran secara serius hanya pada saat El Niño saja.”

Teknologi seperti ubi bombing maupun pemadam berbasis tepung jagung dapat menjadi tambahan alat dalam menghadapi karhutla. Namun, efektivitasnya tetap perlu dibuktikan melalui pengujian yang ketat.

Sebab, memadamkan api bukan hanya soal membuat nyala api hilang, tetapi memastikan bara tidak kembali menyala dan proses pemadaman tidak menimbulkan persoalan lingkungan baru.

Penulis: Inesia Dian

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kapan Karhutla Selesai? Menhan Sjafrie: Tergantung Rakyat Indonesia

Kapan Karhutla Selesai? Menhan Sjafrie: Tergantung Rakyat Indonesia

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 15:06 WIB

Bukan Cuma Pembakar Lapangan, Wamen HAM Ungkap Siapa yang Harus Diseret ke Hukum Saat Karhutla

Bukan Cuma Pembakar Lapangan, Wamen HAM Ungkap Siapa yang Harus Diseret ke Hukum Saat Karhutla

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 14:44 WIB

Karhutla Melanda, Kemensos Pastikan Kesehatan Siswa Sekolah Rakyat Terlindungi

Karhutla Melanda, Kemensos Pastikan Kesehatan Siswa Sekolah Rakyat Terlindungi

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 12:07 WIB

Terkini

5 Tahun Holding UMi, BRI Perkuat Akses Keuangan bagi 33,8 Juta Debitur

5 Tahun Holding UMi, BRI Perkuat Akses Keuangan bagi 33,8 Juta Debitur

Banten | Minggu, 13 September 2026 | 10:56 WIB

BKSDA Kaltim Selidiki Kemunculan Orang Utan di Jalan Raya Bengalon Kutim

BKSDA Kaltim Selidiki Kemunculan Orang Utan di Jalan Raya Bengalon Kutim

Kaltim | Minggu, 13 September 2026 | 10:55 WIB

Pasar Saham RI Tak Baik Saja Pekan Ini, Asing Bawa Kabur Dana Rp690,19miliar

Pasar Saham RI Tak Baik Saja Pekan Ini, Asing Bawa Kabur Dana Rp690,19miliar

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 10:54 WIB

BREAKING NEWS: Kapal Virgo Transport 8 Hilang Kontak di Laut Jawa, 240 Orang Masih Dicari

BREAKING NEWS: Kapal Virgo Transport 8 Hilang Kontak di Laut Jawa, 240 Orang Masih Dicari

News | Minggu, 13 September 2026 | 10:53 WIB

Lima Tahun Holding UMi, BRI Dorong 2,3 Juta Debitur Naik Kelas

Lima Tahun Holding UMi, BRI Dorong 2,3 Juta Debitur Naik Kelas

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 10:50 WIB

Awal Mula Betrand Peto Dilaporkan atas Dugaan Kekerasan Seksual, Ini Kata Ruben Onsu

Awal Mula Betrand Peto Dilaporkan atas Dugaan Kekerasan Seksual, Ini Kata Ruben Onsu

Entertainment | Minggu, 13 September 2026 | 10:43 WIB

Begini Aturan Ganjil-Genap Pengisian BBM Subsidi di Sulawesi Selatan

Begini Aturan Ganjil-Genap Pengisian BBM Subsidi di Sulawesi Selatan

Sulsel | Minggu, 13 September 2026 | 10:42 WIB

Maria Kristin Bongkar Kriteria Peraih Super Tiket Audisi Umum PB Djarum 2026: Kalah Masih Bisa Lolos

Maria Kristin Bongkar Kriteria Peraih Super Tiket Audisi Umum PB Djarum 2026: Kalah Masih Bisa Lolos

Sport | Minggu, 13 September 2026 | 10:35 WIB

Ketika Cinta Bertemu Realitas: Ulasan Film Before Sunset yang Mengiris Hati

Ketika Cinta Bertemu Realitas: Ulasan Film Before Sunset yang Mengiris Hati

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 10:35 WIB

Redmi Note 17 Series Siap Hadir di Indonesia, Apa yang Membuatnya Istimewa?

Redmi Note 17 Series Siap Hadir di Indonesia, Apa yang Membuatnya Istimewa?

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 10:25 WIB

×