- Lebih dari 500 siswa di Sidoarjo mengalami dugaan keracunan makanan setelah menyantap hidangan dari program pemerintah.
- Media internasional menyoroti masalah keamanan pangan dan berbagai kontroversi yang membayangi pelaksanaan program makan bergizi gratis.
- Pemerintah menghentikan sementara dapur terkait selama 30 hari guna melakukan pemeriksaan menyeluruh penyebab keracunan tersebut.
Suara.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Presiden Prabowo Subianto kembali mendapat sorotan media internasional setelah lebih dari 500 siswa di Sidoarjo, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan makanan.
Reuters, U.S. News & World Report, dan Al Jazeera sama-sama mengangkat kasus tersebut.
Ketiganya menyoroti persoalan keamanan makanan sekaligus berbagai kontroversi yang membayangi program unggulan pemerintah tersebut.
Kasus terbaru terjadi di Sidoarjo setelah ratusan siswa mengalami sakit usai menyantap makanan yang disediakan melalui program MBG.
Sebagian besar korban telah mendapat perawatan di rumah sakit dan sejumlah pasien dilaporkan sudah diperbolehkan pulang.
Reuters melaporkan terdapat 512 siswa yang jatuh sakit, sementara pejabat daerah sebelumnya menyebut jumlah korban mencapai 516 orang.
Hingga Rabu, sekitar 80 anak masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Reuters Soroti Rentetan Kontroversi MBG
Reuters menempatkan kasus Sidoarjo dalam konteks lebih luas, yakni berbagai persoalan yang muncul sejak program MBG diluncurkan.
Program bernilai miliaran dolar tersebut digagas Prabowo untuk membantu mengatasi masalah kekurangan gizi dengan memberikan makanan gratis kepada puluhan juta anak.
Namun, pelaksanaannya juga diwarnai laporan keracunan massal, dugaan korupsi, pergantian pimpinan, serta kekhawatiran mengenai besarnya biaya program.
Dalam kasus Sidoarjo, dapur yang diduga menjadi sumber masalah telah dihentikan sementara dari program MBG selama 30 hari.
Pemerintah juga melakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebab keracunan.
“Kami akan mengumumkan hasilnya, apa yang menyebabkan keracunan tersebut,” ujar Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana.
Reuters turut mengutip Network for Education Watch yang menyebut sekitar 37.600 kasus keracunan telah dikaitkan dengan program tersebut hingga 8 Agustus 2026.