- Lebih dari 500 siswa di Sidoarjo mengalami dugaan keracunan makanan setelah menyantap hidangan dari program pemerintah.
- Media internasional menyoroti masalah keamanan pangan dan berbagai kontroversi yang membayangi pelaksanaan program makan bergizi gratis.
- Pemerintah menghentikan sementara dapur terkait selama 30 hari guna melakukan pemeriksaan menyeluruh penyebab keracunan tersebut.
U.S. News Soroti Beban Program Triliunan Rupiah
U.S. News & World Report juga mengangkat kasus Sidoarjo dengan menyoroti besarnya skala program MBG dan persoalan yang mengiringinya.
Media tersebut mencatat program yang diluncurkan pada tahun lalu itu memiliki tujuan besar untuk mengatasi kekurangan gizi anak.
Namun, laporan keracunan makanan berulang menjadi salah satu persoalan yang memicu pertanyaan terhadap pelaksanaannya.
Persoalan keamanan pangan menjadi semakin penting karena makanan harus diproduksi, disimpan, dan didistribusikan dalam jumlah sangat besar setiap hari.
Otoritas sebelumnya menyebut penyimpanan makanan yang tidak tepat serta keterlambatan distribusi makanan matang sebagai sejumlah faktor yang kerap dikaitkan dengan kasus keracunan.
Al Jazeera Angkat Angka Ribuan Kasus
Sementara itu, Al Jazeera memilih menyoroti besarnya jumlah kasus yang dikaitkan dengan program MBG.
Dalam laporannya, Al Jazeera menyebut lebih dari 500 siswa di Indonesia harus mendapat perawatan setelah diduga mengalami keracunan akibat makanan gratis yang disediakan pemerintah.
Media yang berbasis di Qatar itu juga menyebut ribuan kasus telah dikaitkan dengan program senilai sekitar 4,3 miliar dolar AS tersebut sejak diluncurkan tahun lalu.
Sorotan terhadap MBG tidak hanya datang dari kasus keracunan.
Tingkat kepuasan masyarakat terhadap program tersebut juga menjadi perhatian media asing.
Reuters mengutip survei Saiful Mujani Research and Consulting pada Juli 2026 yang menunjukkan hanya sekitar sepertiga responden menyatakan puas terhadap program MBG.
Kasus keracunan makanan disebut menjadi salah satu alasan utama ketidakpuasan tersebut.