PSAD UII Bongkar Taktik Ganjil Polri: Sengaja Benturkan Mahasiswa dengan Ormas?

Dwi Bowo Raharjo, Hiskia Andika Weadcaksana

Jum'at, 04 September 2026 | 11:35 WIB
PSAD UII Bongkar Taktik Ganjil Polri: Sengaja Benturkan Mahasiswa dengan Ormas?
Personel polisi yang diturunkan dalam aksi demonstrasi Aliansi Masyarakat Sipil di kawasan Simpang 4 Gramedia, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026) malam. [Suara.com/Hiskia]
baca 10 detik
  • Kepala PSAD UII Masduki menilai pengamanan unjuk rasa mahasiswa oleh kepolisian melenceng dari profesionalisme.
  • Aparat kepolisian dituding sengaja melibatkan organisasi masyarakat untuk menghadang demonstrasi mahasiswa dan memicu potensi konflik horizontal.
  • Timbulnya korban luka akibat penanganan demonstrasi memicu desakan publik agar kepolisian melakukan reformasi total pengamanan.

Suara.com - Tindakan aparat kepolisian dalam mengawal aksi unjuk rasa mahasiswa di berbagai daerah kini berada di bawah sorotan tajam. Alih-alih mengedepankan persuasi, prosedur penanganan di lapangan dinilai semakin melenceng dan mencederai prinsip profesionalisme Polri.

Pendekatan yang digunakan kerap memicu ketegangan dan dinilai sengaja menciptakan ruang bentrok di tingkat akar rumput.

Kepala Pusat Studi Agama dan Demokrasi Universitas Islam Indonesia (PSAD UII), Masduki, menilai ada pola berulang yang sengaja memposisikan gerakan kritis masyarakat berhadapan langsung dengan kelompok lain.

"Penanganan-penanganan aksi-aksi mahasiswa ini tidak hanya di Jogja, tapi di berbagai kota juga tidak hanya dalam momen peristiwa kemarin, tapi peristiwa-peristiwa politik sebelumnya. Itu cenderung agak ganjil, ya. Cenderung agak istilahnya menghadap-hadapkan antara mahasiswa dengan kelompok masyarakat lain," kata Masduki, Jumat (4/9/2026).

Alih-alih menjamin hak warga negara dalam menyampaikan aspirasi, ia mengkritik aparat justru kerap menggunakan taktik prosedural untuk membatasi kebebasan berekspresi.

Penyampaian pendapat di ruang publik strategis sering kali disudutkan secara sepihak.

Aparat dinilai lebih sibuk membangun opini publik negatif dibanding memfasilitasi jalannya unjuk rasa agar pesan yang dibawa mahasiswa sampai kepada pihak terkait.

"Polisi biasanya mencoba untuk bagaimana agar aksi-aksi mahasiswa itu cenderung diposisikan berlawanan atau diframing mengganggu aktivitas lalu lintas," ujarnya.

"Yang kedua, kita juga melihat pembatasan waktu aksi itu sendiri yang selalu ditekankan, misalnya harus maksimal jam 07.00 (malam)," katanya menambahkan.

baca juga

Langkah yang paling disorot adalah keterlibatan organisasi kemasyarakatan (ormas) dalam pengamanan aksi. Polisi disinyalir sengaja memberi panggung kepada kelompok massa tertentu untuk menghadang gerakan mahasiswa di lapangan.

Pola pengondisian massa tandingan ini dipandang sebagai bentuk pembiaran yang sangat berbahaya sebab membuka potensi konflik horizontal secara luas.

"Nah, yang paling khas atau paling brutal dari pendekatan pengelolaan aksi-aksi masyarakat oleh kepolisian adalah upaya-upaya melibatkan organisasi masyarakat yang terorganisir yang sebetulnya mereka itu diberi ruang semata-mata untuk mencoba ikut menghalau atau ikut menjadi tandingan," kata dia.

Aksi unjukrasa mahasiswa di Simpang Gramedia, Kota Yogyakarta,Selasa(1/9/2026) malam. [Suarajogja.id/ Putu Ayu Palupi]
Aksi unjukrasa mahasiswa di Simpang Gramedia, Kota Yogyakarta,Selasa(1/9/2026) malam. [Suarajogja.id/ Putu Ayu Palupi]

Ditegaskan Masduki, strategi memelihara kelompok tandingan dianggap sebagai langkah mundur dalam penegakan demokrasi. Bukannya bertindak mandiri dan terukur, kepolisian justru dinilai ikut bermain dalam memecah belah keutuhan publik.

Kondisi penegakan hukum di dalam negeri lantas dibandingkan dengan standar kepolisian di negara-negara maju di Eropa misalnya yang mampu berdiri independen tanpa perlu menyertakan elemen massa luar.

Timbulnya korban luka dari pihak massa aksi menunjukkan kegagalan institusi Polri dalam menjalankan fungsi perlindungan. Publik dinilai sangat wajar melayangkan desakan pertanggungjawaban atas insiden penanganan demonstrasi tersebut.

"Mahasiswa ini suaranya independen harus didukung dan ketika ada korban ya publik wajar ketika juga menyalahkan kepolisian kita," ucapnya.

Selain penanganan medis dan perlindungan bagi para korban dari pihak kampus, tuntutan utama kini tertuju pada reformasi total pendekatan pengamanan demonstrasi oleh kepolisian agar tindakan represif tak lagi terulang.

"Nah, jauh lebih penting pada akhirnya adalah kita meminta bagaimana sih sebetulnya pertanggungjawaban dari kepolisian dalam mengamankan aksi-aksi mahasiswa selama ini," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kampus Tak Bisa Lagi Berjalan Sendiri di Tengah Dunia Kerja yang Berubah

Kampus Tak Bisa Lagi Berjalan Sendiri di Tengah Dunia Kerja yang Berubah

Your Say | Jum'at, 04 September 2026 | 11:07 WIB

Tak Cukup Sanksi Administrasi, Koalisi MBG Watch Minta Pelaku Keracunan Diproses Pidana

Tak Cukup Sanksi Administrasi, Koalisi MBG Watch Minta Pelaku Keracunan Diproses Pidana

News | Jum'at, 04 September 2026 | 11:02 WIB

300 Massa Aksi Ditangkap, SETAPOL Ungkap Kekerasan Aparat: Kondisinya Sangat Miris!

300 Massa Aksi Ditangkap, SETAPOL Ungkap Kekerasan Aparat: Kondisinya Sangat Miris!

News | Jum'at, 04 September 2026 | 07:55 WIB

Aparat Diduga Biarkan Ormas 'Pukul' Demonstran, Aktivis: Taktik Orde Baru yang Berbahaya!

Aparat Diduga Biarkan Ormas 'Pukul' Demonstran, Aktivis: Taktik Orde Baru yang Berbahaya!

News | Kamis, 03 September 2026 | 21:22 WIB

Tabung Isi Obat Maag Dituding Cairan Merica, Polda DIY: Sejak Awal Kami Pakai Diksi 'Diduga'

Tabung Isi Obat Maag Dituding Cairan Merica, Polda DIY: Sejak Awal Kami Pakai Diksi 'Diduga'

News | Kamis, 03 September 2026 | 16:42 WIB

Terkini

Grand Hotel De Djokja Hadirkan Pengalaman Gastronomi Nusantara dalam WIG 2026

Grand Hotel De Djokja Hadirkan Pengalaman Gastronomi Nusantara dalam WIG 2026

Your Say | Senin, 12 Oktober 2026 | 13:08 WIB

12 Batu Keberuntungan Berdasarkan Bulan Kelahiran dan Makna Tersembunyinya

12 Batu Keberuntungan Berdasarkan Bulan Kelahiran dan Makna Tersembunyinya

Lifestyle | Senin, 12 Oktober 2026 | 13:08 WIB

Diskon Makan di Song Fa Medan dari BRI, Kulineran Mewah Tanpa Bayar Mahal

Diskon Makan di Song Fa Medan dari BRI, Kulineran Mewah Tanpa Bayar Mahal

Bri | Senin, 12 Oktober 2026 | 13:07 WIB

Media Korea Soroti Aksi Cahya Supriadi saat Persija Jakarta Bantai PSIM 4-0

Media Korea Soroti Aksi Cahya Supriadi saat Persija Jakarta Bantai PSIM 4-0

Bola | Senin, 12 Oktober 2026 | 13:04 WIB

Cara Pakai Conditioner yang Benar Agar Rambut Tidak Rontok dan Kering

Cara Pakai Conditioner yang Benar Agar Rambut Tidak Rontok dan Kering

Lifestyle | Senin, 12 Oktober 2026 | 13:03 WIB

Rapor Merah 2 Tahun Prabowo-Gibran: Ekonomi Rumah Tangga Memburuk, Publik Terbebani Pajak

Rapor Merah 2 Tahun Prabowo-Gibran: Ekonomi Rumah Tangga Memburuk, Publik Terbebani Pajak

Bisnis | Senin, 12 Oktober 2026 | 13:02 WIB

Gemilang di Mandalika, Veda Ega Pratama Pecahkan Rekor Poin Debut Moto3

Gemilang di Mandalika, Veda Ega Pratama Pecahkan Rekor Poin Debut Moto3

Sport | Senin, 12 Oktober 2026 | 13:01 WIB

White Fox Garap Anime How I Became King by Eating Monsters, Tayang 2027

White Fox Garap Anime How I Became King by Eating Monsters, Tayang 2027

Your Say | Senin, 12 Oktober 2026 | 13:00 WIB

Honda ADV 160 Resmi Mengaspal di India: Harga Lebih Murah Rp7 Jutaan dan Kebal Etanol E85

Honda ADV 160 Resmi Mengaspal di India: Harga Lebih Murah Rp7 Jutaan dan Kebal Etanol E85

Otomotif | Senin, 12 Oktober 2026 | 12:58 WIB

Daftar 4 Negara Tetangga Ikut Kena Getah Asap Karhutla Kalimantan

Daftar 4 Negara Tetangga Ikut Kena Getah Asap Karhutla Kalimantan

News | Senin, 12 Oktober 2026 | 12:56 WIB

×