- Buku berjudul Islam Ala Prabowo diterbitkan tahun 2025 dan diinisiasi Anwar Iskandar serta Ahmad Muzani.
- Yusril Ihza Mahendra mengklarifikasi pada 8 September 2026 bahwa dirinya hanya bertindak sebagai narasumber wawancara.
- Buku tersebut membahas perspektif keislaman, moral, serta pengaruhnya terhadap perilaku politik dan kepemimpinan Prabowo Subianto.
Menurut Yusril, wawancara tersebut dilakukan jauh sebelum dirinya dilantik sebagai menteri dalam Kabinet Merah Putih. Setelah wawancara selesai, ia mengaku tidak pernah melihat transkrip maupun naskah hasil wawancara hingga buku tersebut diterbitkan.
"Saya tidak menulis buku itu. Saya hanya diwawancarai oleh tim penyusunnya," tegas Yusril, seperti dikutip dari ANTARA pada Selasa, 8 September 2026.
Yusril baru membaca buku tersebut secara utuh setelah kembali menjadi perhatian publik. Setelah membacanya, ia menilai sebagian besar pandangan yang disampaikannya dalam wawancara telah dituangkan dengan cukup baik dan ia tidak melihat persoalan mendasar pada substansi yang bersumber dari wawancaranya.
Dengan demikian, nama Yusril dalam buku tidak berarti ia merupakan salah satu penulisnya. Posisi Yusril yang dijelaskan sendiri adalah sebagai narasumber yang memberikan pandangan kepada tim penyusun.
Apa yang Dibahas dalam Buku?

Secara umum, "Islam Ala Prabowo" berusaha melihat sosok Prabowo dari perspektif keislaman, terutama hubungan antara nilai moral Islam dengan perilaku politik dan kepemimpinannya. Buku ini juga membahas perjalanan dan kiprah Prabowo dalam konteks kehidupan berbangsa serta persoalan keumatan.
Gramedia menjelaskan bahwa buku tersebut berusaha menggali nilai-nilai dan paradigma yang dikaitkan dengan Prabowo, termasuk pengaruh moral Islam dalam perilaku politik dan kepemimpinannya.
Buku ini juga mencoba membuka perspektif mengenai Prabowo sebagai figur yang dikaitkan dengan gerakan keagamaan dan keumatan, meskipun bukan sosok yang dikenal sebagai "santri bersarung".
Peluncuran buku di Rakornas Baznas 2025 juga memperlihatkan kaitannya dengan isu kepemimpinan dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam acara tersebut, Asep Saifuddin memberikan testimoni mengenai relevansi buku dengan cita-cita kemerdekaan dan pembangunan bangsa.