- Klaim KSP Ulta Levenia Nababan menyebut teknologi HAARP memicu erupsi enam gunung api di Indonesia.
- Pakar UGM Agung Harijoko menegaskan erupsi adalah proses geologi bawah tanah yang tidak terkait HAARP.
- Psikolog Andhita menjelaskan teori konspirasi bencana mudah populer karena masyarakat mencari jawaban sederhana saat tidak pasti.
Suara.com - Pernyataan Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan soal kemungkinan keterkaitan High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) dengan erupsi sejumlah gunung api di Indonesia memicu sorotan di ruang publik.
Spekulasi itu muncul setelah enam gunung api, termasuk Gunung Anak Krakatau, mengalami erupsi dalam periode yang berdekatan.
Lantas benarkah teknologi buatan manusia seperti HAARP mampu memicu letusan gunung api atau bahkan gempa bumi?
Klaim mengenai HAARP kembali mencuat setelah Ulta Levenia mengaitkan program penelitian yang berpusat di Alaska, Amerika Serikat tersebut dengan erupsi enam gunung api Indonesia pada 31 Agustus 2026.
Ia bahkan turut menghubungkan fenomena tersebut dengan pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok.
"Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, enam gunung vulkanik Indonesia erupsi secara bersamaan?" tulis Ulta dalam pernyataannya seperti dikutip dari akun Instagram miliknya.
Apa Itu Teknologi HAARP Sebenarnya?
Untuk memahami klaim tersebut, hal pertama yang perlu diluruskan adalah apa sebenarnya HAARP dan untuk apa fasilitas itu dibangun.
Adapun HAARP bukan perangkat yang dirancang untuk mengendalikan bencana. Melainkan fasilitas penelitian untuk mempelajari lapisan ionosfer Bumi.
Teknologi HAARP sendiri berada di Gakona, Alaska, Amerika Serikat, dan kini dikelola oleh University of Alaska Fairbanks (UAF). Pengelolaan fasilitas tersebut sebelumnya berada di bawah Angkatan Udara Amerika Serikat sebelum resmi dialihkan kepada UAF pada 11 Agustus 2015.

Fasilitas ini menggunakan pemancar radio frekuensi tinggi atau high frequency (HF) untuk memberikan energi pada wilayah terbatas di ionosfer.
Peneliti kemudian mengamati respons plasma di wilayah tersebut untuk memahami berbagai proses fisika yang terjadi di lapisan atmosfer atas.
Ionosfer sendiri berada jauh di atas permukaan Bumi dan berperan dalam berbagai fenomena yang berkaitan dengan gelombang radio.
Mengingat karakteristiknya dapat memengaruhi komunikasi radio dan sistem navigasi, penelitian terhadap lapisan ini memiliki manfaat untuk memahami propagasi sinyal dan lingkungan ruang dekat Bumi.
Namun, keberadaan ratusan antena dan kemampuan HAARP memancarkan gelombang radio berdaya tinggi membuat fasilitas ini lama menjadi sasaran teori konspirasi.
HAARP kerap dituding dapat mengendalikan cuaca, memengaruhi pikiran manusia, hingga memicu gempa bumi dan letusan gunung api.
Padahal, kemampuan HAARP mengubah kondisi plasma pada wilayah terbatas di ionosfer tidak sama dengan kemampuan memengaruhi kerak Bumi.
Perbedaan lokasi, mekanisme kerja, dan karakter energi tersebut menjadi titik penting untuk menguji klaim bahwa HAARP dapat menjadi pemicu bencana geologi.
Bedah Ilmiah, Mengapa HAARP Tidak Bisa Memicu Erupsi Vulkanik?
Perbedaan fungsi HAARP dengan proses vulkanik menjadi kunci untuk menguji klaim bahwa teknologi tersebut dapat memicu letusan gunung api.
HAARP bekerja di ionosfer, sedangkan aktivitas erupsi berlangsung akibat proses geologi jauh di bawah permukaan Bumi.
HAARP menggunakan gelombang radio frekuensi tinggi untuk memberikan energi pada wilayah terbatas di ionosfer yang berada sekitar 60 hingga lebih dari 500 kilometer di atas permukaan Bumi.
Efek yang dihasilkan berupa perubahan kecil dan sementara pada plasma di lapisan atmosfer tersebut.
Kondisi itu berbeda dengan erupsi gunung api yang berkaitan dengan pergerakan magma, tekanan gas, serta proses tektonik di bawah permukaan.
Pakar Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Agung Harijoko menuturkan bahwa secara alami, pengisian magma ke dalam dapur magma terjadi secara terus-menerus hingga tekanannya mampu membobol batuan penutup di permukaan.
"Ketika tekanan di magma chamber itu lebih besar daripada tekanan yang menutupi, maka dia akan bisa erupsi," kata Agung.

Melihat perbedaan itu, energi HAARP tidak bekerja pada ruang fisik yang sama dengan sistem magma dan batuan yang mengendalikan aktivitas gunung api.
Perbedaan tersebut juga terlihat dari skala energi yang digunakan. Pemancar utama HAARP memiliki daya pancar sekitar 3,6 megawatt, sementara proses alamiah seperti badai geomagnetik Matahari dapat melibatkan energi jauh lebih besar.
Situs resmi HAARP bahkan menjelaskan bahwa efek pemanasan ionosfer yang dihasilkan fasilitas tersebut bersifat lokal dan cepat menghilang.
Efek tersebut dapat bertahan kurang dari satu detik hingga sekitar 10 menit, bergantung pada ketinggian wilayah ionosfer yang dipengaruhi.
Maka dati itu, kemunculan erupsi beberapa gunung api dalam periode berdekatan tidak cukup untuk membuktikan adanya hubungan dengan HAARP.
Ada sederet aktivitas vulkanik perlu dilihat melalui indikator geologi seperti perubahan deformasi, emisi gas, anomali panas, serta material erupsi yang dapat dipantau secara ilmiah.
Mengapa Teori Konspirasi Bencana Mudah Populer di Masyarakat?
Deretan bencana alam yang muncul dalam waktu berdekatan dapat membuat masyarakat berusaha menemukan pola dan penyebab yang dianggap saling berkaitan.
Dalam kondisi penuh ketidakpastian, penjelasan sederhana dan pasti kerap terasa lebih meyakinkan dibanding penjelasan ilmiah yang kompleks dan belum selalu memberikan kepastian.
Psikolog Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Andhita Dyorita Khoiryasdien, mengatakan kebutuhan mencari kepastian membuat teori konspirasi mudah mendapat perhatian.
Kondisi itu semakin kuat ketika masyarakat berada dalam situasi takut, cemas, dan terus-menerus terpapar informasi.
"Dalam situasi penuh ketidakpastian, manusia memiliki kebutuhan kuat untuk menemukan pola, sebab, dan makna dari sesuatu yang terjadi," kata Andhita kepada Suara.com, Kamis (10/9/2026).
Menurut Andhita, konsep need for cognitive closure menjelaskan kecenderungan seseorang mencari jawaban yang sederhana ketika menghadapi informasi yang rumit.
Penjelasan ilmiah yang bersifat probabilistik bahkan dapat kalah menarik dibanding klaim konspirasi yang menawarkan satu penyebab secara tegas.
![Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/10/85664-erupsi-gunung-anak-krakatau-gunung-anak-krakatau-erupsi.jpg)
"Di sinilah teori konspirasi jadi menarik. Secara emosional, penjelasan tersebut menjadi terasa lebih memuaskan daripada penjelasan ilmiah yang mungkin terdengar rumit," ungkapnya.
Penyebaran teori konspirasi tidak berhenti pada persoalan benar atau salahnya sebuah informasi. Narasi tersebut dapat memengaruhi cara masyarakat memandang risiko, pemerintah, peneliti, hingga lembaga kebencanaan.
Andhita menyebut dampaknya dapat bergerak ke dua arah, yakni masyarakat menjadi terlalu percaya dan pasif atau justru semakin cemas karena terus terpapar berita bencana.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menumbuhkan perasaan tidak berdaya atau learned helplessness.
"Intinya, ketika teori konspirasi membuat masyarakat kehilangan kepercayaan dan merasa tidak punya kendali, mereka akan semakin sulit diajak melakukan tindakan kesiapsiagaan," tandasnya.
Maka dari itu, edukasi kebencanaan tidak cukup hanya membantah informasi yang salah.
Masyarakat juga perlu diyakinkan bahwa meski bencana tidak selalu dapat dicegah, langkah persiapan tetap dapat meningkatkan peluang untuk selamat.
"Edukasi bencana tidak cukup hanya mengatakan mana info yang benar dan salah," ujarnya.
Tak Terbukti Secara Ilmiah
Klaim yang menghubungkan erupsi Gunung Anak Krakatau dengan rekayasa teknologi proyek HAARP asing secara tegas tidak memiliki dasar ilmiah.
Fenomena letusan gunung api sepenuhnya terjadi akibat dinamika alamiah pergerakan magma di dalam perut bumi.
"Saya sampai saat ini masih percaya bahwa proses erupsi gunung api adalah proses geologi. Jadi tidak ada kaitannya dengan ada teknologi frekuensi atau apa itu ya. Jadi itu belum ada buktinya lah kalau mau dikatakan seperti itu," tegas Agung.
Masyarakat diimbau untuk lebih kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi pseudosains yang beredar liar di media sosial.
Informasi resmi terkait aktivitas vulkanik dan kebencanaan hendaknya selalu merujuk pada lembaga pakar yang kompeten.
Kesadaran publik akan literasi sains menjadi kunci utama dalam menangkal penyebaran konspirasi yang menyesatkan saat bencana terjadi.
Edukasi berbasis data faktual harus terus diperkuat agar masyarakat terhindar dari disinformasi.
Agung mewanti-wanti masyarakat perlu berhati-hati terhadap informasi mengenai aktivitas gunung api yang beredar di media sosial.
Menurutnya, kemajuan teknologi justru dapat dimanfaatkan pembuat hoaks untuk membuat informasi palsu terlihat meyakinkan.
"Masalahnya adalah kadang masyarakat kita mudah termakan hoaks," ujar Agung.
Tak hanya teori konspirasi saja, ia mencontohkan konten yang dibuat seolah-olah menunjukkan kejadian sebenarnya dapat menyebar cepat melalui media sosial.
Kondisi itu membuat masyarakat berpotensi mempercayai informasi yang muncul di linimasa tanpa lebih dulu memeriksa sumber resminya.
"Jadi kadang yang membuat hoaks itu sudah pintar, membuat video seolah-olah kejadiannya beneran, kemudian diberitakan secara cepat sehingga itu yang dikhawatirkan," tuturnya.
Menurut Agung, informasi aktivitas gunung api seharusnya dikonfirmasi kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Lembaga tersebut melakukan pengamatan dan monitoring aktivitas gunung api secara real time sehingga informasinya dapat menjadi rujukan utama masyarakat.
"Kalau ada berita-berita seperti itu, mestinya kita harus langsung konfirmasi ke PVMBG," tegasnya.
Agung mengatakan masyarakat sebenarnya memiliki akses terhadap informasi resmi mengenai kondisi gunung api.
PVMBG menyediakan informasi melalui media sosial dan platform MAGMA Indonesia yang dapat digunakan masyarakat untuk mengecek perkembangan aktivitas vulkanik.
Ketersediaan informasi resmi menjadi penting ketika masyarakat menghadapi kabar yang mengaitkan bencana dengan teknologi atau kekuatan tertentu tanpa bukti ilmiah.