- Kualitas udara Jakarta pada Minggu pagi menempati posisi ketiga terburuk di dunia dengan kategori tidak sehat.
- Indeks kualitas udara Jakarta tercatat mencapai 158 dengan polutan utama berupa PM2,5 sebesar 65,3 mikrogram per meter kubik.
- Warga diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan, memakai masker, menutup jendela, dan menggunakan alat penyaring udara.
Suara.com - Kualitas udara Jakarta pada Minggu (13/9/2026) pagi berada dalam kategori tidak sehat. Warga pun diimbau mengurangi paparan udara luar dan menggunakan perlindungan saat beraktivitas di luar ruangan.
Berdasarkan pemantauan situs IQAir pada pukul 05.50 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta tercatat 158. Angka tersebut menempatkan Jakarta di posisi ketiga dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada waktu pemantauan tersebut.
Polutan utama yang terpantau adalah PM2,5 dengan konsentrasi mencapai 65,3 mikrogram per meter kubik.
Kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara yang dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama pada kelompok masyarakat yang sensitif terhadap polusi udara.
Dalam daftar IQAir tersebut, Kinshasa, Kongo, berada di posisi pertama dengan AQI 215. Posisi kedua ditempati Kampala, Uganda, dengan AQI 162.
Sementara itu, setelah Jakarta, posisi keempat ditempati Kuching, Malaysia, dengan AQI 157 dan Baghdad, Irak, di posisi kelima dengan AQI 153.
IQAir mengelompokkan kualitas udara berdasarkan tingkat konsentrasi PM2,5. Kategori baik berada pada rentang 0–50, sedangkan rentang 51–100 masuk kategori sedang.
Adapun kualitas udara dengan AQI yang lebih tinggi dapat menunjukkan risiko kesehatan yang semakin besar bagi masyarakat yang terpapar.
Dalam kondisi udara Jakarta yang tidak sehat tersebut, warga direkomendasikan menggunakan masker ketika berada di luar ruangan. Masyarakat juga dapat menutup jendela untuk mengurangi masuknya udara dari luar serta menggunakan alat penyaring udara di dalam ruangan.