- Berbagai negara Eropa meningkatkan kesiapan militer dan sipil untuk mengantisipasi potensi eskalasi ancaman serta operasi hibrida dari Rusia terhadap anggota NATO.
- Pemerintah di kawasan Eropa mengambil langkah antisipatif seperti memperkuat infrastruktur, menyiapkan rumah sakit darurat, memperbarui evakuasi, dan memperketat pertahanan udara di perbatasan.
- Peningkatan kewaspadaan ini merespons lonjakan insiden hibrida, peringatan intelijen, serta perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina sejak Februari 2022.
Suara.com - Pemerintah di berbagai negara Eropa saat ini tengah meningkatkan kesiapan militer dan sipil secara signifikan mengantisipasi kemungkinan eskalasi dari pihak Rusia. Langkah kewaspadaan ini diambil menyusul peringatan keras dari sejumlah pejabat berwenang bahwa Moskow berpotensi mengintensifkan operasi sabotase, siber, rudal, dan drone terhadap negara-negara anggota NATO yang selama ini memberikan dukungan kepada Ukraina.
Kekhawatiran yang semakin memuncak ini telah memicu gelombang persiapan di seluruh benua biru. Berbagai langkah antisipatif mulai diterapkan, mulai dari rancangan perlindungan infrastruktur vital di Prancis, persiapan fasilitas rumah sakit darurat di Jerman, pembaruan prosedur evakuasi warga sipil di Lituania, hingga peningkatan sistem pertahanan udara di perbatasan Polandia.
Rusia dan Ukraina sendiri telah terjebak dalam perang berkepanjangan sejak Moskow melancarkan invasi skala penuh ke negara tetangganya tersebut pada Februari 2022. Sejak saat itu, negara-negara NATO terus memasok dukungan militer dan finansial yang masif kepada Kyiv, meski tetap menahan diri untuk tidak terjun langsung ke medan pertempuran.
Di Paris, Presiden Prancis Emmanuel Macron pada hari Jumat lalu telah memanggil para pemimpin partai politik dan tokoh kandidat presiden ke ruang krisis Istana Elysee. Pertemuan tertutup tersebut ditujukan untuk memberikan paparan intelijen Prancis yang bersifat rahasia mengenai tantangan keamanan yang tengah dihadapi kawasan saat ini.
"Ancaman hibrida Rusia terhadap warga Eropa dan terhadap Prancis telah meningkat," ungkap Macron kepada jurnalis seusai pertemuan tersebut.
Macron juga secara terbuka mendukung peringatan yang dikeluarkan sehari sebelumnya oleh Perdana Menteri Polandia Donald Tusk. Tusk secara lugas menyebutkan bahwa Rusia bisa saja mengirimkan proyektil atau pesawat tak berawak ke wilayah NATO dalam beberapa bulan ke depan. Macron menilai asesmen dari pemimpin Polandia tersebut "masuk akal dan terdokumentasi dengan baik."
"Ada risiko nyata bahwa drone atau jenis proyektil lainnya akan memasuki wilayah satu atau beberapa negara di sayap timur dan bahkan menyebabkan kehancuran," tegas Tusk dalam peringatannya.
Polandia, yang berbatasan langsung dengan Ukraina dan sekutu Rusia, Belarusia, kini semakin mempercepat persiapan militernya. Pada hari Sabtu, militer Polandia meluncurkan operasi penerbangan preventif dan menyiagakan sistem pengintaian radar serta pertahanan udara berbasis darat pada tingkat kesiapan tertinggi, tepat saat Rusia melancarkan gelombang serangan ke Ukraina.
Langkah taktis ini diambil hanya berselang satu hari setelah Tusk mengumumkan bahwa Polandia resmi bergabung dalam koalisi pertahanan rudal anti-balistik bersama Ukraina dan sekutu Eropa lainnya.
"Mulai hari ini, Polandia adalah bagian dari proyek besar ini," ujar Tusk usai menghadiri pertemuan tingkat tinggi di wilayah barat Ukraina, dikutip dari Times of Israel.
Inisiatif pertahanan udara yang diumumkan oleh Ukraina dan sembilan negara Eropa pada bulan Juli lalu ini memuat rencana pengembangan sistem rudal anti-balistik secara mandiri. Langkah ini diharapkan mampu menyediakan alternatif perlindungan yang lebih ekonomis dibandingkan dengan sistem Patriot buatan Amerika Serikat.
Pengumuman ini bertepatan dengan pertemuan puncak perdana dari inisiatif regional baru bernama Carpathian Eight yang digagas oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Koalisi ini menyatukan Polandia, Rumania, Serbia, Slovakia, Republik Ceko, Austria, Hungaria, dan Uni Eropa untuk memperdalam kerja sama di sektor keamanan, energi, logistik, dan perdagangan.
"Tentu saja, masalah keamanan menjadi prioritas saat ini dan untuk tahun-tahun mendatang," tutur Zelensky dalam pidatonya.
Di kawasan Eropa lainnya, berbagai pemerintahan juga tengah merumuskan persiapan yang melampaui kesiapan militer garis depan. Berdasarkan laporan dari Bloomberg, Jerman saat ini sibuk mempersiapkan jaringan rumah sakitnya untuk menghadapi kemungkinan terburuk dari pecahnya konflik yang berpotensi memakan banyak korban massal.
Sementara itu, lembaga penyiaran publik Polish Radio melaporkan bahwa Lituania telah memperbarui rencana strategis untuk mengevakuasi penduduk sipil jika terjadi krisis sewaktu-waktu.
Presiden Finlandia Alexander Stubb, saat berbicara kepada MTV news Finlandia, juga mengingatkan warganya bahwa "layak untuk mempersiapkan mental menghadapi sesuatu yang akan terjadi," yang merujuk pada potensi tindakan sabotase dan aktivitas drone Rusia di wilayah mereka.
Latihan militer juga semakin diakselerasi di sekitar Laut Baltik. Pasukan Jerman dilaporkan telah bergabung dengan angkatan bersenjata Swedia untuk melakukan latihan bersama di pulau Gotland, Swedia, menyusul latihan NATO yang sebelumnya digelar di dekat eksklave Kaliningrad bulan lalu.
Di pihak lain, Belarusia sebagai sekutu utama Moskow menggelar latihan militer selama empat hari pada minggu ini. Latihan tersebut mencakup area-area yang berbatasan langsung dengan negara anggota NATO, yakni Polandia dan Lituania. Kementerian Pertahanan Belarusia menggambarkan manuver militer tersebut "sifatnya sangat defensif," dan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas militer dalam mempertahankan "kedaulatan dan integritas teritorial."
Ketegangan di sayap timur NATO ini memang bukan tanpa alasan. Rentetan konfrontasi dan dugaan operasi rahasia Rusia terus memicu kekhawatiran bahwa Moskow semakin berani menguji batas kesabaran aliansi tersebut.
Beberapa insiden terbaru mencakup penembakan jatuh drone Rusia oleh jet NATO di atas Lituania, hingga insiden kapal perang Rusia yang menembakkan suar ke arah helikopter militer Denmark. Otoritas keamanan Jerman bahkan telah mengaitkan seorang terduga agen Rusia dengan percobaan serangan drone di bandara Leipzig, sebuah peristiwa yang oleh Uni Eropa dicap memiliki ciri-ciri "terorisme yang disponsori negara."
Merujuk pada data dari Sahaidachnyi Security Center yang berbasis di Ukraina sebagaimana dikutip oleh Politico, tercatat ada 100 insiden hibrida yang secara resmi dikaitkan dengan Rusia di seluruh Eropa antara Januari hingga Agustus. Angka ini melonjak tajam dari 60 insiden pada periode yang sama tahun lalu.
Seorang pejabat senior NATO menyatakan kepada media tersebut bahwa angka sebenarnya kemungkinan besar melampaui 200 insiden, belum termasuk serangan siber, seraya menegaskan, "Jumlahnya meningkat, tingkat keparahannya meningkat, selera risiko [Rusia] meningkat."
Laporan penilaian intelijen AS yang dirilis oleh The Wall Street Journal pada bulan Agustus juga menemukan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin mungkin akan mencoba menguji NATO dengan serangan terbatas terhadap salah satu negara anggota dalam beberapa tahun mendatang.
Skenario yang diperkirakan mencakup serangan siber hingga serangan darat skala kecil. Laporan tersebut menilai bahwa kemungkinan serangan darat terbatas saat ini memang rendah, namun grafiknya diproyeksikan akan terus meningkat seiring berjalannya waktu.
Pada akhir bulan yang sama, Direktur CIA John Ratcliffe dilaporkan telah melakukan perjalanan ke Moskow untuk memberikan peringatan keras kepada pejabat Rusia agar tidak menyerang anggota NATO, dengan penekanan khusus pada wilayah Estonia, Latvia, dan Lituania.
Bersamaan dengan meningkatnya eskalasi di lapangan, Rusia juga semakin mempertajam retorika publiknya. Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov memperingatkan secara lantang pekan ini bahwa setiap serangan yang dilakukan NATO ke wilayah Rusia akan berujung pada perang yang "sangat singkat".