Dewan HAM PBB: Amerika Diduga Lakukan Kejahatan Perang di Iran

Pebriansyah Ariefana

Jum'at, 18 September 2026 | 11:00 WIB
Dewan HAM PBB: Amerika Diduga Lakukan Kejahatan Perang di Iran
PBB menemukan bukti kuat dugaan kejahatan perang AS atas serangan rudal berdarah di Iran. (IG_
baca 10 detik
  • Laporan PBB menyimpulkan Amerika Serikat diduga kuat melakukan kejahatan perang di Iran.

  • Serangan rudal AS di Minab dan Lamerd menewaskan ratusan warga sipil serta anak-anak.

  • OHCHR mendesak penghentian pelanggaran HAM serta pemberian kompensasi penuh kepada seluruh korban.

Suara.com - Dewan HAM PBB mengidentifikasi dugaan kuat kejahatan perang oleh Amerika Serikat atas gugurnya ratusan warga sipil di Iran. Penyelidikan independen membuktikan gempuran militer AS menghancurkan fasilitas publik serta merenggut nyawa anak-anak secara masif.

Gempuran rudal pada Februari tersebut terbukti menghantam kawasan padat penduduk dan fasilitas pendidikan. Bukti lapangan memperlihatkan kehancuran infrastruktur non-militer serta pola penyerangan yang tidak memedulikan keselamatan warga lokal.

Investigasi mendalam menguatkan indikasi pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dalam operasi militer ini. PBB menilai militer AS mengabaikan prinsip kewaspadaan utama sehingga menelan korban jiwa publik yang sangat besar.

Kapal perang Amerika Serikat USS Miguel Keith terdeteksi mondar-mandir di Selat Malaka dekat perairan Indonesia. AS perluas blokade untuk incar tanker minyak Iran di Indo-Pasifik. [Dok. usni.org]
Kapal perang Amerika Serikat USS Miguel Keith terdeteksi mondar-mandir di Selat Malaka dekat perairan Indonesia. AS perluas blokade untuk incar tanker minyak Iran di Indo-Pasifik. [Dok. usni.org]

"Berdasarkan bukti yang tersedia, yang tidak mencakup tanggapan AS atas permintaan informasi dari Misi maupun pengungkapan penuh dan terbuka hasil penyelidikan internal AS, Misi menemukan alasan yang masuk akal untuk meyakini bahwa AS melakukan kejahatan perang berupa serangan tanpa pandang bulu," demikian laporan tersebut.

Tim pencari fakta menggarisbawahi kegagalan AS membedakan sasaran militer dan zona pemukiman. Dampak pemboman ini meninggalkan trauma mendalam serta kerugian material yang amat masif bagi warga setempat.

Tragedi bermula pada 28 Februari saat rudal Tomahawk menghantam bangunan sekolah di Distrik Minab, Iran selatan. Ledakan dahsyat di area pendidikan ini menewaskan lebih dari 170 korban yang mayoritasnya merupakan anak-anak sekolah.

Pemerintah Iran langsung mengutuk keras aksi pembantaian tersebut dan meminta pertanggungjawaban global. Kerusakan parah pada gedung sekolah membuktikan bahwa serangan diluncurkan tanpa memedulikan radius aman publik.

Tak berhenti di situ, gempuran udara berikutnya menghancurkan kawasan permukiman dan arena olahraga di wilayah Lamerd. Militer AS mengerahkan jenis rudal Precision Strike Missile untuk menggempur titik-titik vital di area permukiman warga tersebut.

Dua gelombang serangan di Lamerd mencatatkan angka kematian mencapai 178 orang. Data korban jiwa mengonfirmasi sebanyak 120 anak-anak tewas seketika akibat reruntuhan bangunan.

baca juga

Pihak penilai independen menegaskan aksi militer ini memenuhi kriteria serangan eksplosif tanpa membedakan target militer dan sipil. Jatuhnya ratusan korban non-kombatan menjadi bukti tak terbantahkan atas kejahatan tersebut.

Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) langsung merilis peringatan keras secara terpisah. Badan dunia ini mendesak Amerika Serikat dan Iran untuk segera menghentikan segala bentuk kejahatan hak asasi manusia.

OHCHR meminta Washington dan Teheran memberikan jaminan mengikat agar peristiwa berdarah serupa tidak terulang kembali. Keselamatan warga sipil wajib menjadi prioritas utama yang tidak boleh dilanggar oleh pihak manapun.

Selain itu, PBB menuntut pembayaran kompensasi penuh kepada seluruh keluarga korban yang terdampak gempuran. Hak-hak pemulihan korban dan ganti rugi atas kerusakan fisik harus diselesaikan secepatnya.

Sebagai konteks latar belakang, agresi militer AS ke Iran pada Februari merupakan awal memanasnya konflik terbuka kedua negara. Eskalasi pertempuran meluas cepat hingga memicu kecaman keras masyarakat internasional atas kehancuran infrastruktur sipil.

Laporan resmi Misi Pencari Fakta Independen yang dipublikasikan hari Kamis menjadi dokumen hukum resmi pertama PBB. Penyelidikan ini memuat bukti kunci untuk menuntut pertanggungjawaban pidana atas agresi militer AS di wilayah Iran.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Arab Saudi Beli Jet Tempur F-35 dari AS Rp 431,2 Trilun saat Lagi Perang dengan Houthi

Arab Saudi Beli Jet Tempur F-35 dari AS Rp 431,2 Trilun saat Lagi Perang dengan Houthi

News | Jum'at, 18 September 2026 | 10:39 WIB

Iran Mau Buka Selat Hormuz Jika Donald Trump dan Benjamin Netanyahu Lengser

Iran Mau Buka Selat Hormuz Jika Donald Trump dan Benjamin Netanyahu Lengser

News | Jum'at, 18 September 2026 | 10:01 WIB

Spesifikasi Bom Kiamat MK-84 dan BLU-117 AS yang Dijual ke Israel, Daya Ledak Seperti Meteor

Spesifikasi Bom Kiamat MK-84 dan BLU-117 AS yang Dijual ke Israel, Daya Ledak Seperti Meteor

News | Kamis, 17 September 2026 | 14:09 WIB

Terkini

Drama A Bloody Lucky Day, Mimpi Buruk Sopir Taksi dan Penumpang Terakhir

Drama A Bloody Lucky Day, Mimpi Buruk Sopir Taksi dan Penumpang Terakhir

Your Say | Jum'at, 18 September 2026 | 11:00 WIB

Kemarau Panjang Mengintai, Industri Semen Pangkas Pengambilan Air 45 Persen

Kemarau Panjang Mengintai, Industri Semen Pangkas Pengambilan Air 45 Persen

Bisnis | Jum'at, 18 September 2026 | 10:58 WIB

Karhutla Indonesia Tembus 202 Ribu Hektare, Ilmuwan Sebut El Nino Bukan Satu-satunya Pemicu

Karhutla Indonesia Tembus 202 Ribu Hektare, Ilmuwan Sebut El Nino Bukan Satu-satunya Pemicu

News | Jum'at, 18 September 2026 | 10:55 WIB

Tiket Nonton Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Dijual Hari Ini, Harga Mulai Rp100 Ribu

Tiket Nonton Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Dijual Hari Ini, Harga Mulai Rp100 Ribu

Bola | Jum'at, 18 September 2026 | 10:52 WIB

Beras Fortifikasi Diduga Tak Sesuai Label, YLKI Desak Pemerintah Buka Posko Aduan

Beras Fortifikasi Diduga Tak Sesuai Label, YLKI Desak Pemerintah Buka Posko Aduan

Bisnis | Jum'at, 18 September 2026 | 10:51 WIB

Bukan Acara Biasa, FestVent Volume 3 Ajak Anak Muda Keluar dari Zona Nyaman

Bukan Acara Biasa, FestVent Volume 3 Ajak Anak Muda Keluar dari Zona Nyaman

Lifestyle | Jum'at, 18 September 2026 | 10:49 WIB

Akun Instagram Densu Dipenuhi Curhat Penonton Baby Udon: Abang Bikin Kami Mau Berjuang Lagi

Akun Instagram Densu Dipenuhi Curhat Penonton Baby Udon: Abang Bikin Kami Mau Berjuang Lagi

Entertainment | Jum'at, 18 September 2026 | 10:49 WIB

Berkat Laporan BNI, Oknum Agen Nakal Satu Per Satu Diringkus di Jember

Berkat Laporan BNI, Oknum Agen Nakal Satu Per Satu Diringkus di Jember

Jatim | Jum'at, 18 September 2026 | 10:49 WIB

AI Masuk Kelas, Acer Tantang Guru dan Sekolah Hadirkan Inovasi Nyata

AI Masuk Kelas, Acer Tantang Guru dan Sekolah Hadirkan Inovasi Nyata

Tekno | Jum'at, 18 September 2026 | 10:48 WIB

Siapa Jose Henrique? Garangnya Bikin Kiper Arema FC Adi Satryo Was-was

Siapa Jose Henrique? Garangnya Bikin Kiper Arema FC Adi Satryo Was-was

Jatim | Jum'at, 18 September 2026 | 10:44 WIB

×