- Profesor Yulianto S. Nugroho menyampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa metode water bombing untuk mengatasi kebakaran lahan gambut dinilai tidak efektif.
- Diskusi penanganan lahan gambut dan potensi karhutla tersebut berlangsung bersama para akademisi di Istana Merdeka, Jakarta, pada hari Kamis, 24 September 2026.
- Hasil penelitian menunjukkan pencegahan dini dan pendeteksian titik panas menggunakan teknologi menjadi solusi penanganan lahan gambut yang paling efektif.
Suara.com - Akademisi dari Universitas Indonesia, Prof. Yulianto S. Nugroho menyampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa metode water bombing untuk pemadaman karhutla di lahan gambut tidak efektif.
Yulianto memberi masukan tersebut dalam sesi diskusi terkait penanganan lahan gambut pada potensi karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bersama presiden di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Menurut dia, ada beberapa yang perlu dicermati. Utamanya adalah sifat gambut yang sangat sulit dipadamkan ketika sudah mulai terbakar.
Penyebab gambut sulit dipadamkan adalah karena gambut memiliki sifat hidrofobik ketika telah mengalami proses pengeringan yang sangat ekstrem.
Ada beberapa poin yang mungkin eh sangat penting eh perlu kita cermati bahwa eh gambut ini sangat sulit dipadamkan ketika sudah mulai terbakar. Mengapa demikian? Karena eh gambut ini memiliki sifat hidrofobik ketika sudah mengalami proses pengeringan yang sangat ekstrim.
Yulianto memaparkan hasil penelitian menggunakan water spray di skala laboratorium, didapatkan angka kurang lebih untuk memadamkan 1 kilogram gambut membutuhkan 6 liter air.
“Ini angka yang menakjubkan sehingga kalau kita punya 1 hektar lahan gambut begitu, ya mohon dikoreksi, kita membutuhkan kurang lebih 200 ribu liter sampai 1 juta liter. Ini luar biasa,” kata Yulianto.
Yulianto menegaskan penanganan yang paling efektif adalah pencegahan terjadinya kebakaran. Mengingat upaya memadamkan gambut yang sangat sulit.
Meski demikian, menurutnya potensi kebakaran masih bisa terjadi sehingga perlu pengembangan cara mendeteksi sedini mungkin.
Salah satunya dalam skala kecil dan sebagainya, menggunakan thermal camera, infrared, untuk menemukan titik panas atau hotspot.
“Dan dari hasil penelitian yang kami lakukan, itu kita menemukan bahwa apabila kita melakukan injeksi ke dalam lapisan gambut, ini sangat mempercepat proses. Namun demikian, kita tahu sendiri kalau sudah di lahan gambut, aksesnya sangat sulit. Oleh karena itu, kembali mencegah menjadi salah satu kuncinya,” kata Yulianto.
Sementara itu mengenai metode water bombing, Yulianto menyampaikan upaya tersebut tidak efektif untuk memadamkan gambut yang terbakar.
“Seperti yang kami sampaikan tadi, apakah water bombing itu efektif? Kalau melihat data yang kami miliki, itu tidak efektif Bapak Presiden. Tetapi mungkin itu upaya yang mungkin bisa kita lakukan untuk kondisi-kondisi yang sangat ekstrem,” kata Yulianto.
“Oleh karena itu, eh kami mendorong eh korporasi juga perlu dilengkapi bukan hanya oleh tadi tim dan embung dan sebagainya, tapi pendeteksian yang menggunakan teknologi,” sambungnya.
Pendeteksian tersebut bisa melalui penggunaan drone atau menara monitor untuk menemukan hotspot agar bisa ditangani sedini mungkin.
“Dan prediksi yang dilakukan Dr. Bagus mungkin bisa menjadi salah satu solusi untuk kita memperkirakan berapa lama kondisi darurat itu eh mungkin saja terjadi,” kata Yulianto
Dr. Bagus Muljadi, akademisi dari Nottingham University, sebelumnya mengatakan, Indonesia adalah global ecosystem chokepoint. Menurutnya, tanpa Indonesia, tidak mungkin dunia bisa secara akurat menghitung siklus karbon.
“Kita memegang nasib dari banyak bangsa sebenarnya, dan oleh karena itu tanggung jawab untuk memahaminya. Dan bagi seorang ilmuwan, kami ingin melaporkan apa sebenarnya cara kami untuk memahami,” kata Bagus dalam diskusi dengan Prabowo.
Dalam pemahaman dari lensa akademis, Bagus mengatakan gambut adalah ekosistem hidup yang paling sulit untuk dipahami. Sebabnya adalah variabel gambut yang ternyata banyak sekali.
“Curah hujan, neraca air, laju cepat atau lambat tanaman membusuk, beban mekanik atas bangunan yang didirikan di atasnya. Itu semua faktor-faktor yang membuat persamaan matematisnya sangat sulit untuk dipahami. Sangat sulit untuk dipahami,” kata Bagus.
Bagus kemudian menyampaikan dalam diskusi tersebut telah hadir para ilmuwan yang kompeten di bidang masing-masing yang bisa melakukan penelitian dari sudut pandang yang amat interdisipliner.
“Dan oleh karena itu kita di sini mau berdiskusi tentang tiga hal. Bagaimana kita melindungi dan membudidayakan gambut. Bagaimana kita memprediksi, memonitor, mendeteksi secara dini titik-titik kerawanan gambut. Dan apa yang kita harus lakukan kalau kebakaran sudah terjadi,” kata Bagus.
Diketahui, Prabowo mengundang 22 akademisi dari berbagai universitas baik dalam dan luar negeri ke Istana Merdeka dalam rangka diskusi terkait penanganan lahan gambut pada potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kamis (24/9/2026).
Akademisi yang hadir, di antaranya Dr. Bagus Muljadi dari Nottingham University, Prof. Yulianto S. Nugroho dari Universitas Indonesia, Dr. Sigit Sutikno dari Universitas Riau, Prof. Indratmo Soekarno dari ITB, dan Prof. Ahmad Kurnain dari Universitas Lambung Mangkurat.