Belanda Untung Rp11 Triliun Lebih dari Perbudakan, Indonesia Pernah Jadi Korban

Cesar Uji Tawakal

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:00 WIB
Belanda Untung Rp11 Triliun Lebih dari Perbudakan, Indonesia Pernah Jadi Korban
Raja Belanda Willem Alexander menyampaikan penyesalan dan permohonan maaf kepada Indonesia. (ANTARA/Hanni Sofia)
baca 10 detik
  • Riset Universitas Leiden pada 2 Oktober 2026 mengungkap Dinasti Kerajaan Belanda meraup keuntungan Rp 11,6 triliun dari Hindia Belanda.
  • Keluarga kerajaan terbukti secara sepenuh hati mendukung sistem kolonialisme dan perbudakan yang berlangsung dari abad ke-17 hingga ke-19.
  • Raja Willem-Alexander menyampaikan penyesalan atas temuan pahit tersebut yang memicu perdebatan publik terkait keadilan reparatif.

Belanda Untung Rp 11,6 Triliun dari Hindia Belanda, Riset Ungkap Kerajaan Dukung Perbudakan

Suara.com - Sebuah riset historis independen yang digagas langsung oleh Raja Willem-Alexander menguak fakta mengejutkan seputar keterlibatan Dinasti Kerajaan Belanda, House of Orange-Nassau, dalam sistem kolonialisme dan perbudakan masa lalu.

Al Jazeera (2/10/2026) melaporkan bahwa studi mendalam yang memakan waktu tiga tahun dan digarap oleh para sejarawan Universitas Leiden ini mengonfirmasi bahwa keluarga kerajaan meraup keuntungan finansial yang sangat fantastis dari wilayah jajahan, terutama Hindia Belanda yang kini merupakan wilayah Indonesia.

Dalam temuan resmi yang dipresentasikan di Leiden University pada 2 Oktober 2026, peneliti mencatat bahwa pada abad ke-19 saja, akumulasi keuntungan dinasti penguasa Belanda mencapai sekitar 650 juta dolar AS dalam nilai mata uang modern.

Apabila dihitung menggunakan nilai tukar rupiah saat ini yang berada di angka Rp 17.868 per dolar AS, nilai keuntungan tersebut setara dengan Rp 11,6 triliun.

Menariknya, aliran dana raksasa ini mayoritas bersumber dari eksploitasi sistem perdagangan di Nusantara.

Dukungan Sepenuh Hati pada Sistem Kolonial

Sejarah Tanam Paksa, salah satu sejarah paling kelam penjajahan Belanda. (istimewa)
Sejarah tanam paksa, salah satu sejarah paling kelam penjajahan Belanda. (istimewa)

Laporan penelitian tersebut memaparkan bahwa dinasti House of Orange-Nassau memimpin Belanda sejak akhir abad ke-16, berawal dari posisi stadtholder atau penguasa republik hingga akhirnya menjadi monarki resmi.

Selama berabad-abad menguasai wilayah jajahan di Asia Tenggara dan Karibia, mereka terbukti aktif mendukung kebijakan kolonialisme meski jarang menentukan kebijakan teknis secara langsung.

Dukungan penuh dari dinasti kerajaan ini dinilai menjadi kunci utama yang membuat praktik perbudakan Belanda mampu bertahan lama sejak abad ke-17 hingga akhirnya dihapuskan pada paruh kedua abad ke-19.

Tim sejarawan dan pakar hak asasi manusia yang mengkaji rekam jejak dari tahun 1600 hingga era modern ini memberikan penegasan tanpa ragu.

baca juga

"Keterlibatan Dinasti Orange-Nassau terjadi secara sepenuh hati dan tanpa keraguan nyata," tegas para peneliti dalam laporan resmi mereka.

Para peneliti juga menegaskan keterkaitan erat keluarga kerajaan dengan kelangsungan perdagangan budak di berbagai wilayah jajahan.

"Riset ini tidak meragukan lagi bahwa Dinasti Orange turut bertanggung jawab atas kelangsungan perdagangan budak dan perbudakan Belanda selama berabad-abad," bunyi kesimpulan laporan yang diterbitkan Universitas Leiden tersebut.

Pengakuan Pahit dan Penyesalan Raja Willem-Alexander

Raja Belanda Willem Alexander melambaikan tangan saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (9/3).  [ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan]
Raja Belanda Willem Alexander melambaikan tangan saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (9/3). [ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan]

Menerima hasil riset dari sejarawan Gert Oostindie, Raja Willem-Alexander mengaku sangat tersentuh sekaligus terguncang oleh temuan yang sangat gamblang tersebut.

Dalam pidatonya saat seremoni penyerahan laporan, ia menyebut fakta sejarah ini sebagai sebuah kenyataan pahit yang tidak bisa dibantah.

"Ini adalah kesimpulan yang menyakitkan dan menghadapkan kita pada kenyataan. Kesimpulan yang menyentuh saya, meskipun saya sudah berjarak tiga generasi," ungkap Raja Willem-Alexander di hadapan para akademisi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sinopsis 100 Days of Deception: Misi Rahasia di Era Penjajahan Jepang

Sinopsis 100 Days of Deception: Misi Rahasia di Era Penjajahan Jepang

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 20:40 WIB

Penjajahan Gaya Baru? PSN Papua Berpotensi Singkirkan Warga Lokal

Penjajahan Gaya Baru? PSN Papua Berpotensi Singkirkan Warga Lokal

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:47 WIB

Nyesek! Rayen Pono Merasa Berdosa Usai Nonton Film Pesta Babi: Ada Praktik Penjajahan di Papua

Nyesek! Rayen Pono Merasa Berdosa Usai Nonton Film Pesta Babi: Ada Praktik Penjajahan di Papua

Entertainment | Sabtu, 16 Mei 2026 | 13:58 WIB

Peringatan Megawati Buat Dunia: Penjajahan Kini Hadir Lewat Algoritma dan Data

Peringatan Megawati Buat Dunia: Penjajahan Kini Hadir Lewat Algoritma dan Data

News | Sabtu, 01 November 2025 | 14:17 WIB

Sakura Jayakarta: Bunga yang Tumbuh di Tengah Bara Penjajahan

Sakura Jayakarta: Bunga yang Tumbuh di Tengah Bara Penjajahan

Your Say | Jum'at, 19 September 2025 | 16:49 WIB

Terkini

Belanda Untung Rp11 Triliun Lebih dari Perbudakan, Indonesia Pernah Jadi Korban

Belanda Untung Rp11 Triliun Lebih dari Perbudakan, Indonesia Pernah Jadi Korban

News | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:00 WIB

Suporter Singapura Duga Ada Kejanggalan Usai Malaysia Menang Mudah 6-0, Bongkar Fakta Ini

Suporter Singapura Duga Ada Kejanggalan Usai Malaysia Menang Mudah 6-0, Bongkar Fakta Ini

Bola | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:00 WIB

Bukan Film Horor Biasa! Conjurig Tawarkan Sisi Lain Cosplayer Jalanan yang Penuh Air Mata

Bukan Film Horor Biasa! Conjurig Tawarkan Sisi Lain Cosplayer Jalanan yang Penuh Air Mata

Your Say | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:57 WIB

Sebar Video Asusila untuk Teror Pacar di Bawah Umur, Pemuda 19 Tahun di Tubaba Diciduk Polisi

Sebar Video Asusila untuk Teror Pacar di Bawah Umur, Pemuda 19 Tahun di Tubaba Diciduk Polisi

Lampung | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:54 WIB

Ribuan Manajer KDMP Mundur, Efektivitas Pelatihan Rp1 Triliun Jadi Sorotan

Ribuan Manajer KDMP Mundur, Efektivitas Pelatihan Rp1 Triliun Jadi Sorotan

Your Say | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:50 WIB

Terjerat Dugaan Pungli, Oknum Lurah di Surabaya Dicopot Jadi Staf Perpustakaan

Terjerat Dugaan Pungli, Oknum Lurah di Surabaya Dicopot Jadi Staf Perpustakaan

Jatim | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:48 WIB

Kasus Bolosego Alkid Dinyatakan Bukan Pemerasan, Lalu Mengapa Ada Polisi Diproses Propam?

Kasus Bolosego Alkid Dinyatakan Bukan Pemerasan, Lalu Mengapa Ada Polisi Diproses Propam?

Jogja | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:46 WIB

Dituding Santet Anaknya, Kakek 70 Tahun di Sampang Dihabisi Tetangga: Pelaku Tidak Menyesal

Dituding Santet Anaknya, Kakek 70 Tahun di Sampang Dihabisi Tetangga: Pelaku Tidak Menyesal

Jatim | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:42 WIB

Sore Ini Skuad Thailand Berangkat dari Bandung ke Jakarta, Siap Tantang Indonesia di SUGBK

Sore Ini Skuad Thailand Berangkat dari Bandung ke Jakarta, Siap Tantang Indonesia di SUGBK

Bola | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:30 WIB

Harga Kedelai Naik, Pengusaha Tempe Terpaksa Kecilkan Ukuran

Harga Kedelai Naik, Pengusaha Tempe Terpaksa Kecilkan Ukuran

Bisnis | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:26 WIB

×