Penjajahan Gaya Baru? PSN Papua Berpotensi Singkirkan Warga Lokal

Bangun Santoso

Selasa, 26 Mei 2026 | 15:47 WIB
Penjajahan Gaya Baru? PSN Papua Berpotensi Singkirkan Warga Lokal
Forum Group Discussion (FGD) bertajuk "Terjebak di antara Dua Senjata: Eksploitasi Sipil dan Ruang Hidup Papua di Bawah Bayang-bayang PSN" di The Acacia Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026). (Suara.com/Tsabita Aulia)
baca 10 detik
  • Aktivis kemanusiaan dan Komnas HAM mengkritik pelaksanaan Proyek Strategis Nasional di Papua karena prosesnya tidak melibatkan partisipasi masyarakat lokal.
  • Pelaksanaan proyek tersebut dinilai mengabaikan hak ulayat dan berpotensi memicu marjinalisasi serta konflik sosial di berbagai wilayah Papua.
  • Pemerintah pusat dan daerah belum memberikan transparansi data terkait status hukum 11 titik lokasi proyek yang tersebar luas.

Suara.com - Implementasi Proyek Strategis Nasional (PSN) di Tanah Papua menuai kritik tajam dari aktivis kemanusiaan dan lingkungan.

Proyek-proyek tersebut dinilai mengulangi pola pendekatan lama yang tidak partisipatif dan berpotensi memperparah marjinalisasi masyarakat adat Papua di atas tanahnya sendiri.

Hal tersebut mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) bertajuk "Terjebak di antara Dua Senjata: Eksploitasi Sipil dan Ruang Hidup Papua di Bawah Bayang-bayang PSN" di The Acacia Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026).

Kepala Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits B. Ramandey, menyatakan bahwa meski PSN secara umum memiliki niat yang baik, namun proses pelaksanaannya di lapangan justru mengabaikan keterlibatan aktif masyarakat.

Ia memperingatkan bahwa pengalihan fungsi lahan secara masif akan berdampak langsung pada tersisihnya warga lokal.

"Secara keseluruhan proyek PSN itu sebenarnya maksudnya baik, caranya itu tidak partisipatif. Sehingga proyek PSN ini dia hanya mengulangi pendekatan yang salah dan berpotensi memarjinalkan orang Papua di tanahnya sendiri," tegas Frits dalam forum tersebut, pada Selasa (26/5/2026).

Frits juga menyoroti peran pemerintah daerah dan pusat yang terkesan membiarkan konflik sosial terjadi akibat kehadiran PSN.

Ia menyamakan pola PSN dengan korporasi-korporasi besar yang sebelumnya telah masuk ke Papua dan memicu perpecahan di tengah masyarakat.

"Dalam kasus PSN di Merauke itu pemerintah daerah dan pemerintah pusat justru membiarkan, jadi PSN itu seperti korporasi baru," ujarnya.

baca juga

Perwakilan Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, Ambrosius Mulait, juga menilai proyek PSN menambah panjang daftar sejarah eksploitasi di Papua yang tidak membawa kesejahteraan bagi pemilik hak ulayat.

Ia mencontohkan sejarah masuknya Freeport di Mimika yang hingga kini dianggap belum menguntungkan suku-suku lokal seperti Amungme dan Kamoro.

"Yang pertama, kalau berbicara soal proyek PSN ini, eh dia mengulangi sejarah-sejarah sebelumnya misalkan Freeport masuk ke Mimika yang sampai hari ini tidak menguntungkan orang Papua atau orang Amungme atau Kamoro dan sebagainya," ujar Ambrosius.

Pemandangan udara deforestasi di konsesi perkebunan tebu PT Global Papua Abadi di Merauke, Papua Selatan. (DOk. Ulet Ifansasti / Greenpeace)
Foto sebagai ILUSTRASI: Pemandangan udara deforestasi di konsesi perkebunan tebu PT Global Papua Abadi di Merauke, Papua Selatan. (DOk. Ulet Ifansasti / Greenpeace)

Ambrosius mengungkapkan kekhawatiran mengenai transparansi data dan status hukum wilayah-wilayah yang masuk dalam daftar PSN.

Berdasarkan catatan Yayasan Pusaka, terdapat sekitar 11 titik PSN yang tersebar dari Manokwari hingga Merauke, namun informasi resminya masih sulit diakses.

"Itu pun kami belum mendapatkan putusan hukum atau dari pemerintah bahwa wilayah-wilayah mana saja yang menjadi status proyek PSN di Papua, tapi dalam catatan kami di Pusaka itu ada sekitar 11, antaranya mulai dari Manokwari, Sorong, Fakfak, Bintuni, Nabire, dan Merauke," jelasnya.

Secara khusus, ia menyoroti ekspansi lahan di wilayah Merauke yang terus meluas hingga ke kabupaten tetangga setelah terbitnya aturan baru dari Kementerian Kehutanan.

"Dalam konteks Merauke ini dengan total luasannya itu 2,3 juta hektar, tapi ada penambahan setelah kementerian kehutanan mengeluarkan SK baru, dalam konteks itu ada penambahan lokasi dari mulai Merauke ke Mappi dan juga Boven Digoel," lanjutnya. (Reporter: Tsabita Aulia)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Lahan Papua Cuma Dihargai Rp300 Ribu, Yorrys Raweyai: Itu Tidak Manusiawi

Lahan Papua Cuma Dihargai Rp300 Ribu, Yorrys Raweyai: Itu Tidak Manusiawi

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:07 WIB

Polemik PSN Papua Tak Bisa Lagi Dipandang Sebelah Mata, DPD Resmi Bentuk Pansus

Polemik PSN Papua Tak Bisa Lagi Dipandang Sebelah Mata, DPD Resmi Bentuk Pansus

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 14:57 WIB

Pesta Babi dan Luka di Tanah Papua

Pesta Babi dan Luka di Tanah Papua

Your Say | Selasa, 26 Mei 2026 | 10:46 WIB

Mama Sinta Berbalik Dukung Food Estate Papua Selatan, Akui Kecewa Pernah Dimanfaatkan

Mama Sinta Berbalik Dukung Food Estate Papua Selatan, Akui Kecewa Pernah Dimanfaatkan

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 05:00 WIB

DPR Soroti PSN 1 Juta Hektare, Begini Katanya

DPR Soroti PSN 1 Juta Hektare, Begini Katanya

Bisnis | Jum'at, 22 Mei 2026 | 21:20 WIB

Geger Dugaan Tender Janggal Kemenkes Rp267 M di RSUD Rodo Fabo, Gugatan PTUN Bergulir

Geger Dugaan Tender Janggal Kemenkes Rp267 M di RSUD Rodo Fabo, Gugatan PTUN Bergulir

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 20:24 WIB

TNI Kerahkan Pasukan dan Helikopter Buru OPM Usai 8 Pendulang Emas Dibunuh di Yahukimo

TNI Kerahkan Pasukan dan Helikopter Buru OPM Usai 8 Pendulang Emas Dibunuh di Yahukimo

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 10:12 WIB

Terkini

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:47 WIB

×