Ustaz Abdul Somad: Pembakar Hutan Masuk Neraka Jahanam, Petugas Damkar yang Gugur Insyaallah Syahid

Cesar Uji Tawakal

Jum'at, 16 Oktober 2026 | 13:40 WIB
Ustaz Abdul Somad: Pembakar Hutan Masuk Neraka Jahanam, Petugas Damkar yang Gugur Insyaallah Syahid
Ustaz Abdul Somad. [Instagram]
baca 10 detik
  • Ustaz Abdul Somad mengecam pelaku karhutla dan menyebut petugas damkar yang gugur sebagai syahid.
  • Asap karhutla meluas hingga Malaysia, memicu gugatan hukum warga terhadap pemerintah, serta diklaim BNPB.
  • BNPB mengerahkan puluhan ribu personel dan armada udara untuk memadamkan ribuan titik karhutla.

Suara.com - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali memicu kabut asap pekat di berbagai daerah memunculkan keprihatinan mendalam.

Bencana lingkungan yang berdampak pada kesehatan serta ruang hidup jutaan warga ini dinilai sebagai bentuk kezaliman terhadap sesama manusia dan ekosistem.

Pernyataan Ustaz Abdul Somad Terkait Karhutla

Dalam sebuah pesan dakwah yang diunggah melalui akun TikTok @the.salman8 (klik untuk menyaksikan video), Ustaz Abdul Somad menyampaikan teguran keras kepada para pelaku pembakaran hutan.

Ia menegaskan bahwa tindakan pengerusakan alam demi keuntungan pribadi merupakan dosa besar yang diancam dengan hukuman berat di akhirat.

"Orang yang membakar hutan, balasan untuk dia tidak ada lain, cuma ada satu. Neraka jahanam," tegas Ustaz Abdul Somad dalam kutipan dakwahnya.

Ia mengingatkan bahwa dampak asap karhutla menyengsarakan masyarakat luas sehingga para pelakunya tidak akan terlepas dari pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.

"Siapa yang memotong sebatang pokok kayu, disungkurkan kepalanya ke dalam neraka jahanam oleh Allah," lanjutnya.

Ia menjabarkan bahwa hukuman tersebut ditujukan oleh orang yang memotong kayu tanpa ada tujuan, atau lebih spesifiknya pembakar hutan.

Petugas yang Gugur

Di sisi lain, Ustaz Abdul Somad memberikan penghormatan kepada para petugas pemadam kebakaran (damkar), serta satgas gabungan yang mempertaruhkan nyawa saat memadamkan api di lapangan. Bagi petugas yang meninggal saat menjalankan tugas tersebut, ia menilai pengorbanan mereka memiliki derajat yang tinggi.

baca juga

"Berapa petugas pemadam yang bersemangat, tiba-tiba terkepung api kemudian meninggal. Insyaallah syahid mereka, insyaallah," ungkap Ustaz Abdul Somad.

Keberanian dan keikhlasan para petugas di tengah kepungan asap tebal dipandang sebagai amal mulia demi melindungi keselamatan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan.

Warga Ajukan Gugatan

Ilustrasi Langit Kuning Palangka Raya akibat Karhutla. (Suara.com/Syahda)
Ilustrasi Langit Kuning Palangka Raya akibat Karhutla. (Suara.com/Syahda)

Laporan BBC News menyebut krisis kabut asap akibat karhutla telah meluas hingga menimbulkan dampak internasional. Asap pekat dari Sumatra dan Kalimantan mencapai negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, sehingga Pemerintah Johor di Malaysia memperpanjang penutupan sekolah.

Isu kabut asap lintas batas bahkan didorong oleh Menteri Luar Negeri Malaysia untuk dibahas dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN.

Di dalam negeri, gelombang protes masyarakat juga meningkat. Empat organisasi masyarakat sipil bersama warga terdampak di Kalimantan Barat mengajukan gugatan class action terhadap Presiden Prabowo Subianto dan 26 pejabat negara.

BBC News juga menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut hujan sebagai faktor penting dalam pemadaman karhutla.

"Masalah asap nanti kami minta masukan para profesor bagaimana. Saya kira memang benar ujungnya hanya hujan air ya," ujar Presiden di Istana Merdeka.

Pernyataan tersebut mendapat kritik dari kuasa hukum penggugat, Glorio Sanen.

"Ketika bermasalah, masak kami harus menunggu hujan baru pemerintah mengatakan kita selamat dari kabut asap? Kalau begitu, apa kerja pemerintah?" ujarnya.

Karhutla Menurut Laporan Pemerintah

Berdasarkan laporan resmi BPMI Sekretariat Presiden, pemerintah mengklaim terus mengoptimalkan operasi darat dan udara untuk menanggulangi karhutla di sejumlah provinsi prioritas.

Dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto pada 12 Oktober 2026, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, memaparkan perkembangan penanganan di lapangan.

"Untuk provinsi prioritas lahan gambut, ada di enam provinsi Bapak Presiden, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau. Untuk hari ini yang terbakar, yang masih ditangani oleh satgas di lapangan, jumlahnya adalah 639,23 hektare, yang terbesar memang terjadi di Kalimantan Tengah," ujar Suharyanto.

Ia juga menjelaskan adanya titik kebakaran baru di kawasan konservasi.

"Kenapa paling besar? Karena baru saja ditemukan kebakaran baru di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Per hari ini ada 513,89 hektare yang terbakar di sana," lanjutnya.

Statistik Karhutla Menurut Data BNPB

Berdasarkan data terbaru pada Dashboard Informasi Penanganan Karhutla BNPB, total hotspot yang terdeteksi mencapai 7.678 titik dengan 176 fire spot. Kalimantan Tengah mencatat jumlah titik panas tertinggi sebanyak 3.835 titik, disusul Sumatra Selatan dengan 1.816 titik, Kalimantan Selatan 1.098 titik, serta Kalimantan Barat 422 titik.

Dalam 24 jam terakhir, luas lahan terbakar tercatat mencapai 570,09 hektare. Sumatra Selatan mendominasi dengan kontribusi 49 persen, diikuti Jambi 22 persen, Kalimantan Selatan 11 persen, Kalimantan Tengah 11 persen, dan Kalimantan Barat 7 persen.

Dari total area terdampak, tim satgas gabungan berhasil menangani 451,35 hektare lahan, terdiri atas 415,35 hektare melalui jalur darat dan 36 hektare melalui jalur udara. Sementara itu, 722,54 hektare lahan lainnya masih menjadi target pemadaman.

Statistik Karhutla 15 Oktober 2026. (BNPB)
Statistik Karhutla 15 Oktober 2026. (BNPB)

Untuk mengatasi kebakaran, sebanyak 53.848 personel gabungan diterjunkan ke lapangan. Jumlah tersebut terdiri atas 12.285 personel TNI, 8.950 pekerja perusahaan, 8.594 anggota Polri, 8.201 relawan, 4.767 pegawai pemerintah daerah, 4.749 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA), 3.472 personel BPBD, 1.434 Polisi Hutan, 1.376 petugas Manggala Agni, serta 20 perwakilan pemerintah pusat.

Penanganan melalui jalur udara didukung 46 unit armada dengan pencurahan 1.135.000 liter air untuk water bombing dan 6.800 kilogram bahan semai teknologi modifikasi cuaca.

Bencana ini juga menyebabkan kualitas udara berada pada kategori Berbahaya hingga Sangat Tidak Sehat, serta memangkas jarak pandang di sekitar bandara hingga hanya sekitar 0,2 kilometer di beberapa wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Udara Jakarta Memburuk, Benarkah Imbas Asap Karhutla?

Udara Jakarta Memburuk, Benarkah Imbas Asap Karhutla?

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 13:36 WIB

Guru Besar UGM soal Karhutla: Jujur Saja, Kita Tak Mampu Tangani Sendiri!

Guru Besar UGM soal Karhutla: Jujur Saja, Kita Tak Mampu Tangani Sendiri!

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 13:05 WIB

Karhutla Meluas ke 26 Provinsi, Cak Imin Galang Bantuan Masker dan Air Bersih

Karhutla Meluas ke 26 Provinsi, Cak Imin Galang Bantuan Masker dan Air Bersih

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 12:47 WIB

Kabut Asap Capai Skala Kawasan, Saatnya Indonesia Buang Nasionalisme Sempit dan Minta Maaf Terbuka

Kabut Asap Capai Skala Kawasan, Saatnya Indonesia Buang Nasionalisme Sempit dan Minta Maaf Terbuka

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 11:23 WIB

Asap Karhutla Ganggu Jarak Pandang, BNPB Coba Cara Baru Pakai Dry Ice

Asap Karhutla Ganggu Jarak Pandang, BNPB Coba Cara Baru Pakai Dry Ice

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 10:36 WIB

Terkini

Udara Jakarta Memburuk, Benarkah Imbas Asap Karhutla?

Udara Jakarta Memburuk, Benarkah Imbas Asap Karhutla?

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 13:36 WIB

KPK Sita Rp1,9 Miliar dalam OTT Bupati Klaten, Tong Biru Diduga Jadi Tempat Simpan Uang

KPK Sita Rp1,9 Miliar dalam OTT Bupati Klaten, Tong Biru Diduga Jadi Tempat Simpan Uang

Jawa Tengah | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 13:36 WIB

Menang di MK, Keluarga Korban Kekerasan TNI: Perjuangan Belum Berakhir!

Menang di MK, Keluarga Korban Kekerasan TNI: Perjuangan Belum Berakhir!

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 13:36 WIB

Peringati 1 Tahun Mageri Segoro, DLHK Jateng dan Bhimasena Power Tanam Ribuan Bibit Mangrove

Peringati 1 Tahun Mageri Segoro, DLHK Jateng dan Bhimasena Power Tanam Ribuan Bibit Mangrove

Jawa Tengah | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 13:33 WIB

Bukan Tablet Biasa! iQOO Pad Pro Andalkan Layar OLED 165Hz dan Kipas Pendingin Aktif

Bukan Tablet Biasa! iQOO Pad Pro Andalkan Layar OLED 165Hz dan Kipas Pendingin Aktif

Your Say | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 13:30 WIB

Diduga Microsleep, Sopir Truk Tangki Meninggal Dunia usai Tabrak Trailer di Tol Cibitung-Cilincing

Diduga Microsleep, Sopir Truk Tangki Meninggal Dunia usai Tabrak Trailer di Tol Cibitung-Cilincing

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 13:26 WIB

Drama Korea Good Partner 2 Rilis Poster Perdana, Jang Nara Cari Rekan Baru

Drama Korea Good Partner 2 Rilis Poster Perdana, Jang Nara Cari Rekan Baru

Your Say | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 13:25 WIB

5 Rekomendasi Laptop Terbaik untuk Kuliah Teknik Informatika

5 Rekomendasi Laptop Terbaik untuk Kuliah Teknik Informatika

Tekno | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 13:25 WIB

Potensi BYD Racco Ancam Pasar Mobil Listrik Indonesia dengan Jarak Tempuh 320 KM

Potensi BYD Racco Ancam Pasar Mobil Listrik Indonesia dengan Jarak Tempuh 320 KM

Otomotif | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 13:25 WIB

Asing Jual Saham Rp8,13 Triliun di Sesi I, BBCA Paling Banyak Dilepas

Asing Jual Saham Rp8,13 Triliun di Sesi I, BBCA Paling Banyak Dilepas

Bisnis | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 13:24 WIB

×