- BEM UI dan masyarakat menggelar unjuk rasa di Bundaran HI Jakarta pada 28 Oktober 2026.
- KSP mengimbau demonstran menjaga ketertiban, menghindari anarkisme, serta menyatakan kesiapan pemerintah membuka ruang dialog.
- Massa aksi menyampaikan lima tuntutan pokok terkait isu ekologi, ekonomi, kebebasan sipil, KKN, dan pendidikan.
Suara.com - Sebanyak 10.000 hingga 12.000 massa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama elemen masyarakat sipil menggelar aksi unjuk rasa terpusat di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.
Merespons aksi tersebut, pihak Istana melalui Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Listyo Sigit Prabowo, mengimbau peserta aksi untuk tetap menjaga kondusivitas selama menyampaikan aspirasi di ruang publik.
Listyo mengingatkan agar mahasiswa dan masyarakat tidak mudah terprovokasi maupun melakukan tindakan anarkis.
"Silakan dilaksanakan sesuai aturan yang ada. Pemerintah dan undang-undang memberikan ruang. Namun, yang harus dijaga agar aksi tetap dilaksanakan dengan tertib, menjaga hak-hak asasi masyarakat lain, jangan mudah terprovokasi, dan jangan anarkis," kata Listyo dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).
Listyo menegaskan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998.
Kendati demikian, hak tersebut harus dilaksanakan beriringan dengan penghormatan terhadap aktivitas masyarakat luas di ibu kota.
Selain memastikan pengawalan secara humanis dari aparat kepolisian, KSP menyatakan kesiapannya untuk membuka ruang komunikasi dua arah dan berdialog langsung dengan perwakilan massa.
"KSP mewakili pemerintah siap menampung aspirasi dari perwakilan adik-adik mahasiswa maupun perwakilan pengunjuk rasa yang lain," ujarnya.
Aksi unjuk rasa ini berlangsung tepat pada momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.
Listyo berharap demonstrasi pada hari bersejarah ini menjadi momentum untuk memperkuat persatuan di tengah perbedaan pendapat.
"Ini adalah momentum Hari Peringatan Sumpah Pemuda yang harus terus kita jaga semangat persatuannya untuk terus membangun bangsa. Semua masukan dari para peserta unjuk rasa adalah bagian dari upaya kita bersama untuk menjaga dan merawat bangsa ini," tambah Listyo.
Sementara itu, BEM UI mengusung lima tuntutan pokok dalam aksi di Bundaran HI kali ini:
Bencana Nasional & Ekologi: Mendesak penetapan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional, proses hukum terhadap korporasi perusak lingkungan, serta percepatan pemulihan ekosistem.
Ekonomi: Evaluasi tata kelola ekonomi guna mengentaskan kesenjangan sosial.
Kebebasan Sipil: Penghentian penyempitan ruang kebebasan sipil dan menolak militerisasi.
Pemberantasan KKN: Pemberantasan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme secara tegas.
Pendidikan: Penurunan biaya pendidikan tinggi serta perwujudan sistem pendidikan nasional yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.